Bagi mahasiswa, deadline ibarat hantu yang selalu mengintai. Menumpuknya tugas, revisi, dan ujian membuat malam terasa panjang. Dan saat ngopi saja tak cukup, musik akhirnya jadi senjata. Ada dua kubu besar, pencinta lagu Barat dan penggemar K-Pop. Keduanya sama-sama dipercaya bisa menaikkan mood, tetapi mana yang sebenarnya lebih memicu semangat dan konsentrasi saat mengejar deadline?
Lagu Barat: Beat Stabil, Lirik Mudah Dipahami
Lagu Barat mid-tempo seperti The Weeknd, Taylor Swift, atau Coldplay sering dipilih karena tidak terlalu agresif. Beat stabil membantu menjaga fokus, terutama saat mengetik atau membaca materi.
Karena banyak mahasiswa sudah familiar dengan bahasa Inggris, lirik lagu Barat sering lebih mudah dipahami dibanding lirik Korea. Hal ini membuat pendengar merasa terkoneksi emosional sehingga semangat belajar meningkat.
Tidak sedikit pula mahasiswa yang mengandalkan tempo cepat dari EDM Barat untuk mencegah rasa kantuk. Drop beat yang intens membantu otak merespon dengan peningkatan kewaspadaan. Itulah mengapa playlist “Study EDM” atau “Late Night Focus” sering diputar saat kampus menjelang masa UAS. Semacam doping legal, musik ini bisa menjadi dorongan ekstra agar jemari tetap mengetik meski tubuh ingin rebahan. Lagu-lagu instrumental Barat juga banyak dipilih karena dinilai lebih “netral” dan tidak mengganggu pikiran. Tanpa lirik, mahasiswa dapat berkonsentrasi pada isi tugas tanpa distraksi bahasa.
Kelemahannya, makna lirik kadang justru membuyarkan konsentrasi. Lagu heartbreak misalnya, bisa memunculkan overthinking ketika sedang menulis tugas analisis.
K-pop yang Membuat Emosional
Pengalaman mendengarkan K-Pop sering kali lebih emosional. Bagi fans, lagu-lagu idolanya bukan sekadar musik: ada rasa kedekatan emosional dengan grup atau member tertentu. Ketika deadline menghantui, mendengarkan suara idola bisa memberi semangat layaknya teman tak terlihat yang setia menemani. Beat K-Pop dikenal enerjik. Perpaduan rap cepat, chorus eksplosif, dan bridge yang dramatis dapat memberikan suntikan energi untuk menyelesaikan tugas sebelum fajar. Lagu-lagu seperti milik Stray Kids, NewJeans, atau Seventeen terbukti bisa membuat mahasiswa terjaga lebih lama.
Banyak mahasiswa yang tidak mengerti bahasa Korea justru merasa lebih fokus karena tidak teralihkan oleh makna lirik. Seolah musik bekerja langsung pada energi tubuh tanpa perlu dipahami secara verbal. Namun kompleksitas ritme K-Pop juga punya sisi negatif. Perubahan beat dan struktur lagu yang berlapis dapat mengganggu mereka yang membutuhkan konsentrasi jangka panjang. Ada momen ketika chorus terlalu intens sehingga pikiran seakan ingin ikut lompat-lompat di tengah malam.
Selain ritme, faktor identitas dan perasaan turut memengaruhi. Banyak mahasiswa mengaku merasa ditemani oleh idolanya ketika mengerjakan tugas semalaman. Menonton fancam sebentar ketika istirahat, lalu kembali mengetik dengan semangat baru. Di sisi lain, lagu Barat memberikan rasa familiar dan universal. Ketika mendengar intro lagu yang sering viral di TikTok, motivasi kembali muncul karena otak mengaitkan musik dengan momen produktif sebelumnya.
Musik bersifat subjektif dan dipengaruhi kondisi mental pendengarnya. Entah itu Taylor Swift yang bernyanyi tentang hidup dan cinta, atau Jennie dengan rap energiknya, keduanya bisa membuat tangan tetap bergerak di keyboard saat jam menunjuk pukul dua dini hari. Jika produktivitas adalah tujuan, hal terbaik adalah mengenali kebutuhan diri. Saat otak mulai lelah, pilih K-Pop untuk suntikan energi. Saat tugas menuntut fokus yang stabil, pilih lagu Barat dengan tempo moderat. Pada akhirnya, musik adalah teman perjalanan menuju garis akhir deadline, bukan penentu tunggal keberhasilan. Yang terpenting, tugas selesai, dan kita tetap waras menghadapi tuntutan kuliah yang tak ada habisnya.
Biodata Penulis:
Devina Dita Prabawati saat ini aktif sebagai mahasiswa di UNS.