Oleh Sabrina Indah Avivi
Di tengah arus modernisasi yang kian cepat, ketika manusia semakin sibuk mengejar waktu dan target hidup, ada tradisi tradisi lama yang justru bertahan dengan kesederhanaannya. Salah satunya adalah malapeh niaik, sebuah praktik spiritual yang hidup dan berkembang di Ulakan Takapis, Kabupaten Padang Pariaman. Tradisi ini tidak tampil dalam bentuk upacara besar atau perayaan meriah, melainkan hadir melalui tindakan sederhana yang mengandung makna mendalam, yaitu menepati janji kepada Tuhan.
Bagi masyarakat Ulakan, malapeh niaik bukan hanya sebuah ritual, tetapi bagian dari perjalanan batin seseorang. Niat biasanya diucapkan ketika seseorang berada dalam kondisi terdesak, seperti saat sakit, mengalami kesulitan ekonomi, atau berada di titik paling berat dalam hidup. Dalam suasana penuh kepasrahan, seseorang berjanji kepada Tuhan bahwa jika permohonannya dikabulkan, ia akan melakukan suatu perbuatan sebagai wujud rasa syukur. Ketika harapan tersebut terwujud, janji itu pun harus ditunaikan. Pada titik inilah makna malapeh niek menemukan tempatnya.
Banyak orang memilih melaksanakan malapeh niaik di Makam Syekh Burhanuddin. Sosok Syekh Burhanuddin dikenal sebagai ulama besar yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Minangkabau. Makamnya tidak hanya menjadi tujuan ziarah, tetapi juga ruang spiritual yang memberikan ketenangan dan kesempatan untuk merenung. Di tempat inilah orang-orang dari berbagai latar belakang datang membawa niat, harapan, dan rasa syukur masing-masing.
Berbeda dengan ritual keagamaan yang memiliki aturan baku, malapeh niaik justru dikenal karena sifatnya yang lentur. Tidak ada waktu tertentu yang harus diikuti, tidak ada ketentuan khusus mengenai apa yang harus dibawa, dan tidak ada doa yang diwajibkan. Ada yang membawa makanan untuk dibagikan sebagai sedekah, ada pula yang datang hanya dengan doa di dalam hati. Semua dilakukan secara sukarela dan berangkat dari ketulusan pribadi. Di Makam Syekh Burhanuddin juga terdapat imam yang bisa memandu doa.
Kesederhanaan inilah yang membuat malapeh niaik terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tradisi ini tidak menuntut biaya besar atau persiapan rumit. Yang dibutuhkan hanyalah kejujuran terhadap diri sendiri serta kesadaran untuk menepati janji yang telah diucapkan. Dalam konteks ini, malapeh niaik mengajarkan nilai moral yang sangat mendasar, yaitu komitmen terhadap kata kata sendiri.
Seiring berjalannya waktu, tradisi ini tidak lagi hanya dijalankan oleh masyarakat Ulakan. Orang-orang dari berbagai daerah di Sumatera Barat, bahkan dari luar provinsi, turut datang untuk menunaikan malapeh niaik. Hal ini menunjukkan bahwa nilai nilai yang terkandung di dalamnya bersifat universal. Menepati janji, bersyukur atas nikmat, dan menggantungkan harapan kepada Tuhan merupakan nilai yang dapat diterima oleh siapa pun tanpa memandang latar budaya.
Malapeh niaik sering kali disamakan dengan basapa, meskipun keduanya memiliki perbedaan yang jelas. Basapa merupakan peringatan yang dilaksanakan secara massal dan memiliki waktu tertentu dalam kalender adat dan keagamaan. Ribuan orang berkumpul dalam satu momentum yang sama. Sementara itu, malapeh niaik bersifat personal dan individual. Tradisi ini tidak terikat waktu tertentu dan tidak harus dilakukan bersama-sama. Perbedaan tersebut menunjukkan beragam cara masyarakat Minangkabau mengekspresikan nilai religius dan spiritualitasnya.
Di balik pelaksanaannya yang tampak sederhana, malapeh niaik menyimpan makna reflektif yang mendalam. Tradisi ini mengajak manusia untuk berhenti sejenak dan menengok kembali perjalanan hidupnya. Ia mengingatkan bahwa tidak semua hal dapat dicapai hanya dengan usaha manusia semata. Ada ruang untuk berserah, ada waktu untuk bersyukur, dan ada tanggung jawab moral untuk menepati janji yang telah diucapkan, meskipun tidak disaksikan oleh orang lain.
Dalam kehidupan modern yang serba instan, janji sering kali dipandang sebagai sesuatu yang ringan. Namun malapeh niaik justru menempatkan janji sebagai sesuatu yang sakral. Janji tidak hanya diucapkan kepada sesama manusia, tetapi juga kepada Tuhan dan kepada diri sendiri. Dengan menunaikannya, seseorang tidak sekadar menjalankan tradisi, tetapi juga membangun integritas pribadi.
Tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana tradisi ini tetap dikenali dan dipahami oleh generasi muda. Di tengah dominasi media sosial dan budaya populer global, tradisi lokal kerap terpinggirkan. Karena itu, malapeh niek perlu terus diperkenalkan melalui pendidikan budaya, penulisan cerita dan artikel populer, dokumentasi visual, serta pemanfaatan media digital. Dengan cara ini, tradisi tersebut tidak dipandang sebagai kebiasaan lama semata, melainkan sebagai warisan nilai yang masih relevan dengan kehidupan masa kini.
Pada akhirnya, malapeh niaik bukan hanya tentang ritual keagamaan, melainkan tentang hubungan manusia dengan Tuhan, budaya, dan dirinya sendiri. Kenyataan bahwa tradisi ini mampu menarik orang dari berbagai daerah menunjukkan kuatnya makna yang dikandungnya. Selama ketulusan, rasa syukur, dan komitmen terhadap janji terus dijaga, malapeh niaik akan tetap hidup sebagai bagian dari kekayaan budaya Minangkabau yang tidak hanya dikenang, tetapi juga terus dimaknai.
Biodata Penulis:
Sabrina Indah Avivi saat ini aktif sebagai mahasiswa, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, di Universitas Andalas.