Oleh Nisrina Khairunnisa
Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa bukan hanya sekadar alat untuk menyampaikan informasi, tetapi juga cerminan budaya dan cara kita berinteraksi dengan orang lain. Salah satu aspek menarik dalam berbahasa adalah penggunaan eufemisme, yaitu ungkapan atau kata yang dipilih untuk menggantikan istilah yang dianggap kurang sopan, sensitif, atau bisa menyinggung perasaan. Penggunaan eufemisme dapat kita jumpai di berbagai situasi, dari percakapan santai hingga komunikasi formal.
Eufemisme sebenarnya berfungsi untuk “menghaluskan” pesan agar tidak terkesan kasar atau menyinggung. Misalnya, ketika berbicara tentang usia seseorang, orang cenderung menggunakan istilah “sudah berumur” atau “sudah matang” daripada menyebutkan usia secara langsung yang dianggap kurang sopan. Demikian juga dalam konteks pekerjaan, kata “pengurangan karyawan” lebih ringan didengar dibandingkan “pemecatan”. Hal ini menunjukkan bahwa eufemisme membantu menjaga perasaan orang lain dan memelihara keharmonisan komunikasi.
Selain itu, eufemisme juga bisa berperan sebagai bentuk kesopanan dalam budaya kita. Banyak hal yang dalam pandangan masyarakat masih tabu atau dianggap tidak pantas disebut secara langsung, seperti kematian, kondisi kesehatan, atau masalah finansial. Dengan menggunakan kata-kata pengganti, kita memberikan rasa hormat dan empati kepada lawan bicara. Contohnya, saat seseorang mengalami kehilangan, kata “meninggal dunia” dipilih untuk menghindari kesan kasar dari kata “mati”.
Namun, meski eufemisme memiliki banyak manfaat, ada juga sisi yang perlu diperhatikan. Penggunaan eufemisme yang berlebihan atau tidak tepat dapat menimbulkan kebingungan. Kadang orang sulit menangkap maksud sejati pembicara karena terlalu banyak kata penghalus. Dalam beberapa kasus, eufemisme bisa menjadi alat untuk mengaburkan fakta atau menghindari tanggung jawab. Misalnya, dalam uraian masalah sosial atau politik, istilah yang terlalu halus dapat membuat masalah yang sebenarnya serius tampak ringan dan tidak mendapatkan perhatian yang layak.
Banyak dari kita mungkin sudah terbiasa menggunakan eufemisme tanpa sadar. Contohnya, saat memberi tahu kabar yang kurang menyenangkan, kita cenderung memilih kata agar tidak menyakiti hati. Ini adalah bentuk kecerdasan sosial yang membuat komunikasi lebih manusiawi dan penuh perhatian. Namun, penting juga untuk menjaga keseimbangan antara kehalusan bahasa dan keterbukaan agar pesan tetap jelas dan jujur.
Penggunaan eufemisme juga berkembang mengikuti perubahan sosial dan budaya. Kata-kata yang dulu tabu kini mungkin sudah umum disebut secara langsung, sementara hal-hal baru yang sensitif muncul sehingga membutuhkan istilah pengganti yang lebih bersifat halus. Ini menunjukkan bagaimana bahasa hidup dan terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan komunikasi masyarakat.
Secara keseluruhan, memahami penggunaan eufemisme membantu kita menjadi komunikator yang lebih peka dan bijaksana. Dengan mengenali kapan dan bagaimana menggunakan eufemisme, kita dapat menyampaikan pesan dengan cara yang lebih santun tanpa mengorbankan kejelasan. Eufemisme menjadi alat yang penting untuk menjaga hubungan sosial tetap harmonis, terutama di lingkungan yang sangat memperhatikan norma kesopanan dan rasa hormat.
Biodata Penulis:
Nisrina Khairunnisa, lahir pada tanggal 22 April 2006 di Balikpapan, saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Mulawarman, Program Studi Farmasi.