Membangun Kecerdasan Pragmatis Siklus Inkuiri Dewey melalui Aktivitas Bermain Anak Usia Dini

Bagaimana anak belajar memecahkan masalah lewat bermain? Yuk simak konsep kecerdasan pragmatis dan siklus inkuiri Dewey dalam pendidikan anak.

Oleh Nazwha Khairunnisa

John Dewey, seorang filosofis pendidikan terkemuka, percaya bahwa pendidikan adalah rekonstruksi pengalaman yang terus-menerus, dan bahwa pembelajaran yang paling berharga terjadi ketika individu aktif terlibat dalam memecahkan masalah yang nyata. Dalam konteks anak usia dini (AUD), prinsip ini terwujud sepenuhnya melalui aktivitas bermain. Bermain, bagi anak, bukanlah sekadar pengisi waktu, melainkan cara mereka bereksperimen, menguji hipotesis, dan memahami dunia—semua elemen kunci dari Kecerdasan Pragmatis. Kecerdasan ini merujuk pada kemampuan anak untuk menggunakan pemikiran dan akalnya sebagai alat untuk menyesuaikan diri dan mengatasi hambatan di lingkungan mereka.

Aktivitas Bermain Anak Usia Dini

Siklus Inkuiri Dewey dalam Dunia Bermain

Model inkuiri Dewey mengajarkan bahwa pemikiran kritis muncul dari situasi yang membingungkan atau menantang. Berikut adalah bagaimana lima tahap tersebut terintegrasi ke dalam pengalaman bermain anak:

Tahap 1: Situasi yang Tidak Menentu (Munculnya Masalah)

Inkuiri dimulai ketika anak menghadapi hambatan atau kejutan dalam kegiatan bermainnya. Ini adalah momen keraguan atau kebingungan.

Peran Guru: Menyediakan lingkungan yang kaya akan material yang menimbulkan masalah alami (misalnya, balok yang tidak stabil, alat yang tidak sempurna) tanpa langsung memberikan solusi.

Tahap 2: Pengidentifikasian Masalah (Mendefinisikan Kesulitan)

Anak mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan mencoba mendefinisikannya, sering kali secara non-verbal atau melalui pertanyaan sederhana.

Ekspresi Anak: "Kenapa jatuh?" "Airnya hilang!"

Pengamatan: Anak menunjuk pada dasar balok yang miring atau melihat lubang di wadah.

Peran Guru: Membantu anak fokus dan merumuskan masalah melalui pertanyaan terbuka: "Mengapa balokmu jatuh? Apa yang membuatnya tidak seimbang?" atau "Ke mana perginya air itu?"

Tahap 3: Perumusan Hipotesis (Ide Solusi Awal)

Anak menggunakan pengalaman dan pengetahuan mereka yang terbatas untuk mengajukan solusi tentatif atau cara baru untuk mencoba. Inilah esensi dari eksperimen.

Hipotesis 1: "Aku harus pakai balok yang paling besar di bawah." (Mencoba fondasi yang lebih stabil)

Hipotesis 2: "Aku harus menuang airnya lebih pelan." (Mencoba kontrol motorik halus)

Peran Guru: Mendorong lebih banyak ide. "Ide bagus! Apa cara lain yang bisa kamu coba? Bagaimana kalau kita menggunakan mangkuk ini?"

Tahap 4: Pengujian Akibat secara Mental (Memprediksi)

Meskipun anak usia dini belum sepenuhnya mampu melakukan penalaran abstrak, mereka dapat memprediksi konsekuensi dari tindakan mereka—proses yang terjadi sangat cepat sebelum mereka bertindak. Anak melihat tumpukan balok miring dan berpikir: “Kalau aku taruh balok lagi di sana, pasti jatuh.” (Penalaran visual). Anak mengambil wadah yang lebih besar untuk menampung air, memprediksi bahwa itu tidak akan tumpah.

Peran Guru: Memperkenalkan bahasa prediksi: "Menurutmu, apa yang akan terjadi jika kamu meletakkan balok kecil di atas balok yang sangat besar ini?"

Tahap 5: Pengujian Melalui Tindakan dan Eksperimen (Aksi)

Inilah tahap "Learning by Doing." Anak benar-benar menguji hipotesis mereka. Tindakan ini memberikan umpan balik langsung (konsekuensi) yang memvalidasi atau memfalsifikasi ide mereka. Anak mencoba menumpuk dengan balok lebar di bawah, dan tumpukannya berhasil berdiri lebih lama (hipotesis terverifikasi). Anak menuangkan air lebih lambat, dan air berhasil masuk ke wadah tanpa tumpah (masalah terpecahkan).

Manfaat Membangun Kecerdasan Pragmatis

Menerapkan siklus Dewey dalam bermain anak usia dini memberikan dampak yang mendalam:

  1. Mengembangkan Kemandirian Kognitif: Anak belajar untuk tidak bergantung pada orang dewasa untuk mendapatkan solusi, melainkan mengandalkan akal dan eksperimen mereka sendiri.
  2. Meningkatkan Pemikiran Kritis Awal: Anak dilatih untuk mengidentifikasi sebab dan akibat, yang merupakan dasar dari penalaran logis.
  3. Membentuk Sikap Ilmiah: Anak memahami bahwa kesalahan atau kegagalan (balok roboh) bukanlah akhir, melainkan informasi berharga yang harus digunakan untuk mencoba lagi (Rekonstruksi Pengalaman).
  4. Keterampilan Demokrasi: Melalui bermain kelompok, anak belajar meninjau ide orang lain, bernegosiasi, dan bekerja sama untuk memecahkan masalah bersama.

Strategi Guru dalam Menerapkan Siklus Dewey 

Peran guru sangat krusial; guru berfungsi sebagai fasilitator inkuiri, bukan penyedia jawaban:

  1. Observasi Aktif: Amati kapan anak mulai menunjukkan frustrasi atau menghadapi hambatan.
  2. Pertanyaan Pemandu (Scaffolding): Gunakan pertanyaan yang mendorong pemikiran, bukan petunjuk: "Apa yang kamu butuhkan selanjutnya?" atau "Bagaimana kamu tahu itu tidak akan berhasil?"
  3. Memberi Waktu untuk Gagal: Biarkan anak mengalami konsekuensi dari pilihan mereka (biarkan balok roboh) sebelum intervensi, karena kegagalan adalah guru terbaik.
  4. Mendokumentasikan Proses: Catat bagaimana anak memecahkan masalah. Hal ini membantu guru merencanakan kegiatan masa depan yang lebih menantang.

Kecerdasan pragmatis adalah keterampilan hidup yang penting. Dengan mengintegrasikan siklus inkuiri peflektif John Dewey ke dalam aktivitas bermain, kita tidak hanya mengajarkan anak tentang balok atau pasir, tetapi kita melatih mereka untuk menjadi individu yang adaptif, logis, dan mahir dalam mengatasi ketidakpastian. Anak usia dini yang bermain dengan tujuan dibimbing oleh metode pragmatis adalah fondasi bagi masyarakat yang mampu berpikir kritis dan menyelesaikan masalah secara demokratis di masa depan.

Daftar Pustaka:

  1. Dewey, J. (1910). How We Think. D.C. Heath & Co. (Buku utama yang menjelaskan lima tahap inkuiri reflektif).
  2. Dewey, J. (1916). Democracy and Education: An Introduction to the Philosophy of Education. Macmillan. (Menjelaskan hubungan antara pendidikan, pengalaman, dan masyarakat).
  3. Bredekamp, S. (2014). Effective Practices in Early Childhood Education: Building a Foundation. Pearson. (Membahas praktik pembelajaran berbasis inkuiri pada anak usia dini).
  4. Gillespie, C. W., & Hewitt, S. (2004). Learning and Experience: Keystones of Dewey's Theory. Child Care Information Exchange.

Nazwha Khairunnisa

Biodata Penulis:

Nazwha Khairunnisa, lahir pada tanggal 30 Desember 2006 di Jakarta, saat ini aktif sebagai mahasiswa, di Univerasitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

© Sepenuhnya. All rights reserved.