Visi Indonesia Emas 2045 setelah seratus tahun kemerdekaan Indonesia adalah sebuah cita-cita besar untuk menjadikan Indonesia negara yang berdaulat, maju, adil, dan makmur. Visi ini ditopang oleh empat pilar utama, yaitu Pembangunan Manusia dan Penguasaan IPTEK, Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan, Pemerataan Pembangunan, dan Pemantapan Ketahanan Nasional serta Tata Kelola Pemerintahan. Di tengah arus deras disrupsi digital dan kompleksitas persaingan geopolitik global, pembangunan manusia tidak bisa hanya difokuskan pada penguasaan Keterampilan Era 4.0 semata. Dibutuhkan fondasi moral dan etika yang kokoh, yang dapat diwujudkan melalui Pendidikan Karakter sebagai penangkal ancaman terhadap Integrasi Nasional dan sebagai penggerak utama dalam pencapaian geostrategis bangsa.
Indonesia dengan posisi Geopolitik yang unik yaitu di persimpangan antara dua benua dan dua samudra, yang secara otomatis memikul tanggung jawab Geostrategis yang besar. Posisi ini ditekankan dalam konsep Wawasan Nusantara yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang strategis. Di satu sisi, ini adalah jalur perdagangan global yang vital. Tetapi di sisi lain, ini adalah pintu masuk bagi beragam pengaruh global, seperti politik, ekonomi, dan budaya yang berpotensi menggerus Integrasi Nasional.
Di era digital, ancaman terhadap Integrasi Nasional tidak hanya melalui fisik, seperti agresi militer. Tetapi juga melalui ruang siber, seperti perang informasi (information warfare), penyebaran ideologi radikal melalui media sosial, dan polarisasi politik yang tajam akibat hoaks. Dalam situasi ini, nilai-nilai pendidikan karakter seperti gotong royong, toleransi, empati, dan tanggung jawab sosial harus ditanamkan secara mendalam. Karakter ini berfungsi sebagai filter kolektif yang memungkinkan masyarakat menyaring informasi yang bisa merusak persatuan. Menjaga integrasi sosial dan menopang kesatuan dalam kebhinnekaan adalah kunci dari keberhasilan strategi geopolitik Indonesia.
Era 4.0 ditandai dengan perpaduan teknologi fisik, digital, dan biologis. Revolusi ini menuntut Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia untuk menguasai Keterampilan Era 4.0, seperti literasi data (data literacy), literasi teknologi (technological literacy), dan literasi manusia (human literacy). Keterampilan teknis seperti coding, data analysis, dan AI (Artificial Intelligence) management memang berperan penting untuk mendorong Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan, yaitu salah satu pilar utama Visi 2045. Namun, di tengah kemudahan akses informasi, muncul dua tantangan kritis, yaitu Erosi Nilai Kemanusiaan dan krisis integrasi digital.
- Erosi nilai kemanusiaan, yaitu otomatisasi yang berpotensi untuk mengurangi interaksi sosial dan menumpulkan empati. Generasi muda mungkin mahir berkomunikasi secara daring tetapi kesulitan berinteraksi secara etis di dunia nyata.
- Krisis integritas digital, yaitu kelimpahan informasi yang tidak terverifikasi dan anonim di dunia maya. Ia membuka peluang bagi pelaku yang tidak bertanggung jawab, mulai dari plagiarism hingga kejahatan siber.
Di sinilah pendidikan karakter mengambil peran yang penting. Ia bukan hanya sekadar pelengkap, melainkan menjadi komponen utama yang menjembatani antara kecakapan teknologi dengan kematangan moral. Karakter yang kuat akan menjamin bahwa keterampilan canggih yang dimiliki SDM Indonesia digunakan untuk tujuan yang etis, produktif, dan berorientasi pada kemaslahatan bangsa, bukan sebaliknya. Untuk mencapai Visi Indonesia Emas 2045, pendidikan karakter harus berfokus pada tiga aspek krusial pendidikan karakter yang relevan dengan tantangan digital, yaitu etika dan integritas digital (Digital Citizenship), ketahanan moral dan kritik (Critical Moral Thinking), dan kolaborasi dan empati global (Global Empathy).
1. Etika dan Integritas Digital (Digital Citizenship)
Pendidikan karakter tidak hanya diukur melalui perilaku fisik, tetapi juga melalui ruang siber. Pendidikan harus menanamkan etika digital, seperti:
- Tanggung jawab konten, yaitu kesadaran untuk memproduksi dan menyebarkan informasi yang bernilai positif, serta menghindari penyebaran hoaks dan ujaran kebencian.
- Menghormati hak cipta dan privasi, yaitu mengajak untuk paham tentang cyber-security, kerahasiaan data pribadi, dan penghargaan terhadap karya intelektual orang lain.
- Anti-Cyberbullying, yaitu menumbuhkan rasa empati dan keberanian untuk melawan orang yang melakukan tindakan cyberbullying, yang bisa menjadi salah satu penyebab besar bagi kesehatan mental seseorang yang terkena tindakan cyberbullying.
2. Ketahanan Moral dan Kritik (Critical Moral Thinking)
Di lautan informasi digital, kemampuan berpikir kritis harus disandingkan dengan ketahanan moral. Karena kita harus bisa untuk menganalisis suatu isu dari berbagai sudut pandang. Karakter kemandirian, kejujuran, dan kegigihan menjadi penentu dalam pengambilan keputusan yang etis, terutama saat menghadapi tekanan untuk bertindak curang.
3. Kolaborasi dan Empati Global (Global Empathy)
Integrasi Nasional di era digital juga menuntut adanya kemampuan untuk berkolaborasi secara global. Pendidikan karakter harus memperkuat nilai gotong royong, mulai dari lingkungan lokal hingga konteks global untuk menumbuhkan rasa empati.. Empati global dapat memungkinkan generasi muda untuk memahami perspektif dan tantangan antar-budaya. Hal ini sangatlah penting, agar generasi muda dapat berperan sebagai warga dunia yang bertanggung jawab dan mempromosikan citra positif Indonesia sesuai dengan tujuan geostrategis luar negeri.
Visi Indonesia Emas 2045 adalah janji peradaban. Keberhasilan pembangunan manusia yang sebagai pilar utama tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang kita miliki, tetapi dengan moralitas dan karakter masyarakat Indonesia. Pendidikan Karakter adalah investasi jangka panjang yang dapat menyatukan tuntutan Keterampilan Era 4.0 dengan kebutuhan Integrasi nasional di tengah gempuran geopolitik yang kompleks. Dengan menanamkan karakter yang berakar pada nilai-nilai Pancasila dan diperkuat oleh etika digital, Indonesia dapat memastikan bahwa generasi emas 2045 adalah generasi yang tidak hanya cerdas teknologi dan adaptif. Tetapi juga berintegritas tinggi, berjiwa nasionalis, dan mampu menjadi pemimpin global yang etis.
Biodata Penulis:
Viola Indira Ramadhany saat ini aktif sebagai mahasiswa, Program Studi Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi, di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.