Mengulik Neurotisisme: Mengapa Sebagian Siswa Lebih Rentan Cemas dan Bagaimana BK Membantu?

Ingin tahu mengapa overthinking sering muncul saat ujian? Yuk pelajari neurotisisme dan bagaimana Guru BK dapat membantu siswa memahami emosi.

Pernah nggak, cuma karena besok ada presentasi atau ulangan, pikiran kamu langsung lari ke hal-hal yang belum tentu terjadi? Atau mengulang-ngulang kejadian kecil sampai rasanya otak nggak mau berhenti? Kalau iya, kamu mungkin sedang merasakan salah satu ciri yang dalam psikologi disebut neurotisisme (teori Big Five Personality OCEAN). Tenang, kamu bukan satu-satunya. Banyak siswa, mahasiswa, bahkan orang dewasa mengalami hal yang sama tanpa menyadarinya.

Mengulik Neurotisisme

Neurotisisme sendiri adalah kecenderungan seseorang untuk lebih mudah terseret dalam emosi negatif seperti cemas tanpa sebab jelas, takut hal buruk terjadi, gelisah berlebihan, sampai sulit mengendalikan pikiran yang berputar terus. Orang yang punya tingkat neurotisisme tinggi biasanya sensitif terhadap stres dan cepat membayangkan skenario terburuk dalam berbagai situasi. Tapi penting untuk diingat neurotisisme bukan penyakit gangguan mental, melainkan kepribadian yang berkaitan dengan regulasi emosi dan respons sistem saraf terhadap tekanan.

Mengapa Neurotisisme Penting Diperhatikan di Lingkungan Sekolah?

Sekolah bukan sekadar tempat siswa duduk dan belajar, melainkan lingkungan yang dipenuhi tekanan tugas, aturan, dan dinamika pergaulan sehari-hari. Bagi siswa dengan kecenderungan neurotisisme tinggi, suasana ini bisa terasa jauh lebih berat. Sekadar mendengar kata “ujian” bisa membuat mereka panik, dan percakapan kecil di kelas pun bisa memunculkan rasa takut dinilai atau khawatir berbuat salah. Pikiran mereka sering berputar pada kemungkinan terburuk, sehingga fokus belajar mudah buyar oleh kecemasan yang terus datang. Jika kondisi ini dibiarkan bukan hanya nilai yang terpengaruh, tetapi juga hubungan mereka dengan teman dan perkembangan emosionalnya. Di sinilah peran Bimbingan dan Konseling (BK) menjadi sangat penting untuk membantu siswa memahami apa yang mereka rasakan, mengelola stres, dan membangun ketahanan diri di tengah tekanan sekolah yang tak selalu mudah.

Peran Guru BK dalam Mendampingi Siswa dengan Neurotisisme Tinggi

Guru BK tidak bertugas mengubah kepribadian siswa, tetapi membantu mereka mengenali dan mengelola emosi dengan lebih sehat. Guru BK dapat membantu siswa untuk memahami sumber stres, membedakan pikiran rasional dan irasional, serta melatih cara berpikir yang lebih realistis agar emosi lebih mudah dikendalikan.

Setelah itu, pendampingan dapat diperkuat melalui layanan bimbingan dan konseling. Kegiatan yang dapat memberi ruang bagi siswa untuk saling berbagi pengalaman dan perasaan, sehingga siswa merasa tidak menghadapi kecemasan sendirian. Dukungan suportif dari teman sebaya juga membantu mengurangi perasaan tertekan. 

Guru BK kemudian dapat membekali siswa dengan keterampilan regulasi emosi, seperti teknik pernapasan relaksasi, mindfulness, manajemen waktu, atau teknik grounding saat panik. Keterampilan ini membuat siswa lebih siap menghadapi tekanan akademik maupun sosial. Selain itu, Guru BK membantu mengembangkan self-compassion (mengasihi diri sendiri) dan resiliensi (kemampuan bangkit dari tekanan) agar siswa tidak terlalu keras pada diri sendiri dan lebih mampu pulih saat menghadapi masalah.

Menariknya, di balik kerentanan emosi yang sering muncul neurotisisme sebenarnya bukan hanya soal kelemahan. Banyak siswa dengan kecenderungan ini justru memiliki empati tinggi, peka terhadap lingkungan sosial, dan berhati-hati dalam mengambil keputusan. Dengan bimbingan yang tepat, kepekaan ini bisa berubah menjadi kekuatan yang membantu mereka berkembang.

Pada akhirnya, peran Guru BK sangat besar dalam membantu siswa dengan neurotisisme tinggi memahami diri, mengelola kecemasan, dan membangun ketahanan emosional. Ketika sekolah mampu menjadi ruang yang aman dan menerima perbedaan setiap individu, siswa dengan kecenderungan neurotisisme tidak hanya mampu bertahan mereka justru bisa berkembang menjadi pribadi yang peka, tangguh, dan penuh empati.

Biodata Penulis:

  1. Denisya Rajwa Inayya saat ini aktif sebagai mahasiswa, program studi Bimbingan dan Konseling, di Universitas Sebelas Maret (UNS).
  2. Khansaa Aqiilah saat ini aktif sebagai mahasiswa, program studi Bimbingan dan Konseling, di Universitas Sebelas Maret (UNS).
  3. Marcelinus Arya Prabowo saat ini aktif sebagai mahasiswa, program studi Bimbingan dan Konseling, di Universitas Sebelas Maret (UNS).
  4. Sita Aishah Putri saat ini aktif sebagai mahasiswa, program studi Bimbingan dan Konseling, di Universitas Sebelas Maret (UNS).

© Sepenuhnya. All rights reserved.