Oleh Giyanti Rika Dwi Pratiwi
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki lebih dari 1.300 kelompok etnis, ratusan bahasa, dan beragam agama. Hal ini menjadi tantangan besar dalam menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman tersebut. Peristiwa intoleransi, diskriminasi, dan konflik berbasis identitas masih sering terjadi, seperti dalam kasus-kasus kekerasan atas nama agama di berbagai daerah, serta maraknya ujaran kebencian di media sosial yang menciptakan intoleransi (Damanik, 2020; Alviana & Pandin, 2021; Lestari, 2021). Kasus intoleransi ini tidak hanya berdampak pada kelompok minoritas, tetapi juga mengancam integrasi nasional dan stabilitas sosial. Perlu dilakukan studi kasus mendalam, wawancara dengan tokoh masyarakat, observasi serta survei persepsi publik untuk mengetahui dinamika intoleransi (Anas et al., 2025; Damanik, 2020; Alviana & Pandin, 2021; Lestari, 2021; Barsihanor et al., 2021).
Studi yang dilakukan menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dan pendapatan berbanding lurus dengan sikap toleran, sementara tingkat religius yang tinggi berkorelasi negatif dengan toleransi, dan ketimpangan ekonomi lokal memperburuk intoleransi (Yusuf et al., 2019). Intoleransi bukanlah hal yang sepele karena dapat menimbulkan dampak yang sangat luas, mulai dari segregasi sosial, diskriminasi akses layanan publik, hingga kekerasan fisik dan psikologis yang menimpa kelompok minoritas (Damanik, 2020; Kamil, 2018; Lestari, 2021). Berbagai kebijakan dan strategi telah dijalankan, seperti regulasi anti-diskriminasi, integrasi isu toleransi dalam rencana pembangunan, pendidikan multikultural di sekolah, serta penguatan peran tokoh agama dan komunitas (Anas dkk., 2025; Jayadi dkk., 2022; Firdaus dkk., 2020; Barsihanor dkk., 2021). Opini publik terhadap toleransi sangat dipengaruhi oleh paparan antar kelompok, dialog lintas iman, serta peran media massa dalam membangun narasi keberagaman (Ardi et al., 2021; Kusuma & Susilo, 2020).
Toleransi bukan sekadar menerima perbedaan yang ada tetapi berani memahami hak setiap orang untuk hidup sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan serta cara pandangnya masing-masing. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap toleransi bisa diwujudkan dimulai dari keluarga di mana kita tidak memaksakan pendapat pribadi, tidak merendahkan sesama, serta memberikan kesempatan bagi orang lain untuk memberikan pendapat dan mengekspresikan diri. Menumbuhkan toleransi dalam lingkungan keluarga harus dimulai sejak dini. Orang tua perlu sebagai teladan perlu untuk mengajarkan dan memberi pemahaman kepada anak-anak untuk bersikap sopan dan menghargai siapa pun tanpa melihat latar belakangnya. Anak yang terbiasa bergaul dengan teman berbeda agama atau suku akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih terbuka dan menghargai perbedaan. Selain itu sekolah juga berperan dalam menanamkan nilai kerja sama dan saling menghargai melalui berbagai kegiatan mungkin seperti diskusi kelas, kerja kelompok, atau perayaan hari besar keagamaan bersama. Pengalaman yang berbeda antar teman dapat membentuk cara pandang siswa terhadap keberagaman.
Seiring dengan perkembangan teknologi, penggunaan media sosial sudah menjadi makanan sehari-hari. Media sosial ini dapat menjadi media yang memiliki dampak positif maupun negatif. Dampak negatif jika tidak digunakan secara bijak dapat menjadi tempat penyebaran kebencian dan informasi yang menyesatkan sehingga kita sebagai pengguna, harus lebih selektif dan bertanggung jawab dalam menyebarkan konten agar tidak memperkeruh suasana dan mengakibatkan perselisihan. Selain itu, banyak konflik yang muncul justru karena kurangnya komunikasi antarkelompok. Ketika orang jarang berinteraksi dengan mereka yang berbeda, prasangka negatif mudah muncul dan berkembang. Oleh karena itu, masyarakat perlu melakukan komunikasi dan interaksi yang baik agar saling memahami sehingga perbedaan tidak lagi dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan dalam kehidupan bersama.
Pemerintah juga memiliki tanggung jawab besar dalam menumbuhkan budaya toleransi. Melalui kebijakan-kebijakan yang adil, dan tidak mementingkan salah satu pihak saja. Pemerintah dapat menciptakan lingkungan yang aman bagi semua kelompok masyarakat. Toleransi sangat penting untuk menjaga hubungan antarindividu yang pada akhirnya menciptakan persatuan. Dengan toleransi, masyarakat yang beragam dapat hidup berdampingan secara damai dan saling membantu. Karena itu, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan sikap toleransi demi terciptanya masyarakat yang harmonis dan aman.
Daftar Pustaka:
- Alviana, D., & Pandin, M. (2021). The 21st century analysis of causes and solutions for the loss of Indonesian tolerance towards a paradigm of history. Preprints.
- Anas, M., Saraswati, D., Ikhsan, M., & Fiaji, N. (2025). Acceptance of "the others" in religious tolerance: Policies and implementation strategies in the inclusive city of Salatiga Indonesia. Heliyon, 11.
- Ardi, R., Tobing, D., Agustina, G., Iswahyudi, A., & Budiarti, D. (2021). Religious schema and tolerance towards alienated groups in Indonesia. Heliyon, 7.
- Barsihanor, B., Hafiz, A., Ansari, M., Rofam, G., Liani, S., & Shalahudin, S. (2021). Implementation of multicultural education in growing tolerance between students in State Elementary School 2 Komet Banjarbaru. ELEMENTARY: Islamic Teacher Journal, 9(1).
- Damanik, E. (2020). Ethnicity situation and intolerant attitudes in multicultural societies in the Medan City. Jurnal Humaniora, 32(1).
- Firdaus, F., Anggreta, D., & Yasin, F. (2020). Internalizing multiculturalism values through education: Anticipatory strategies for multicultural problems and intolerance in Indonesia. Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, 22(1), 131-141.
- Jayadi, K., Abduh, A., & Basri, M. (2022). A meta-analysis of multicultural education paradigm in Indonesia. Heliyon, 8.
- Kamil, M. (2018). Cultural tolerance, diversity and pluralism: The recognition of Yogyakarta as the city of tolerance. Logos, 1, 85-104.
- Kusuma, J., & Susilo, S. (2020). Intercultural and religious sensitivity among young Indonesian interfaith groups. Religions, 11(1).
- Lestari, G. (2021). Radikalisme atas nama agama dalam perspektif intelektual muda di tengah realitas multikultural. Khazanah Theologia, 3(3).
- Yusuf, A., Shidiq, A., & Hariyadi, H. (2019). On socio-economic predictors of religious intolerance: Evidence from a large-scale longitudinal survey in the largest Muslim democracy. Religions, 11(1).