Oleh Avira Flora Astia Zuliana
Di zaman yang serba cepat seperti sekarang, kita sering lupa cara menikmati sesuatu dengan perlahan. Segala hal ingin segera selesai, termasuk soal makan. Kita terbiasa dengan makanan instan, praktis, dan rasanya hampir selalu sama. Tanpa sadar, kita mulai menjauh dari makanan yang lahir dari proses, kesabaran, dan cerita panjang di baliknya.
Wonogiri punya caranya sendiri untuk mengingatkan hal itu. Caranya sederhana, lewat sepiring nasi tiwul.
Bagi sebagian orang, tiwul mungkin hanya dianggap pengganti nasi. Bahkan tak jarang dipandang sebagai makanan kuno. Namun bagi masyarakat Wonogiri, tiwul adalah bagian dari hidup. Bukan sekadar pengganjal perut, tetapi simbol perjuangan untuk bertahan dalam keterbatasan.
Jika Solo dikenal dengan selat solo dan Yogyakarta dengan gudeg, maka Wonogiri punya tiwul. Makanan yang lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari kebutuhan dan kecintaan pada tanah sendiri.
Dari Dapur yang Penuh Kesabaran
Nasi tiwul berasal dari singkong, bahan pangan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Wonogiri. Singkong dipanen dari kebun sendiri, lalu dijemur hingga benar-benar kering. Setelah itu ditumbuk menjadi tepung kasar yang kemudian diolah secara sederhana.
Tepung singkong diberi air secukupnya, diremas pelan, lalu dibentuk menjadi butiran kecil menyerupai nasi. Butiran inilah yang kemudian dikukus di atas tungku kayu. Prosesnya memang tidak cepat, tetapi penuh ketelatenan.
Saat kukusan dibuka, aroma singkong kukus langsung menyebar. Hangat, alami, dan khas. Aroma yang mungkin tidak ditemui di restoran modern, tetapi justru menyimpan rasa tenang. Aroma yang membawa ingatan pada dapur desa dan tangan ibu yang bekerja dalam diam.
Dulu, tiwul menjadi penyelamat di masa paceklik. Ketika harga beras melambung tinggi dan sulit dijangkau, masyarakat Wonogiri memilih bertahan dengan hasil bumi sendiri. Dari situlah tiwul hadir sebagai simbol kemandirian dan daya juang.
Rasa yang Tidak Berpura-pura
Soal rasa, tiwul tidak pernah mencoba meniru nasi putih. Ia punya karakternya sendiri. Ada gurih lembut, berpadu dengan sedikit manis alami dari singkong. Rasanya sederhana, tetapi justru itulah yang membuatnya istimewa.
Teksturnya empuk, namun butiran-butirannya masih terasa. Tidak selembut nasi beras, tetapi tetap nyaman di lidah. Aromanya pun khas, lebih harum dan mengingatkan pada singkong kukus yang baru matang.
Tiwul akan terasa semakin nikmat jika disandingkan dengan lauk sederhana. Sayur lodeh hangat, ikan asin goreng kering, lalapan segar, dan sambal bawang. Perpaduan yang tidak mewah, tetapi justru membuat makan terasa lengkap.
Pernah Dipandang Sebelah Mata
Sayangnya, tiwul lama dipandang rendah. Ia sering dilekatkan dengan citra kemiskinan. Tak sedikit orang yang merasa malu jika masih mengonsumsi nasi tiwul, seolah makanan ini hanya milik masa lalu.
Padahal di balik tiwul tersimpan cerita tentang ketahanan dan kerja keras. Tentang bagaimana masyarakat kecil bertahan tanpa bergantung sepenuhnya pada beras. Tentang kemandirian yang lahir dari keterbatasan.
Kini, pandangan itu perlahan berubah. Tiwul mulai hadir dengan wajah baru. Ada nasi goreng tiwul, nasi campur tiwul, hingga berbagai olahan modern lainnya. Makanan yang dulu dianggap kuno, kini justru menarik perhatian generasi muda dan pelaku kuliner.
Identitas yang Perlu Dijaga
Tiwul bukan sekadar makanan, melainkan identitas Wonogiri. Ia mencerminkan karakter masyarakatnya yang sederhana, mandiri, dan tangguh. Bahannya ramah lingkungan, prosesnya alami, dan rasanya jujur tanpa tambahan berlebihan.
Di tengah maraknya makanan modern, tiwul tetap punya tempat. Ia mengingatkan bahwa makanan tidak selalu harus mahal untuk bermakna.
Jangan Ragu Mencoba!
Jika suatu hari kamu berkunjung ke Wonogiri dan disuguhi sepiring nasi tiwul, jangan buru-buru menolak. Duduklah sejenak. Hirup aromanya. Makan perlahan.
Di setiap suapannya, ada cerita panjang tentang perjuangan, kesederhanaan, dan rasa syukur. Tiwul mungkin lahir dari masa sulit, tetapi ia tumbuh menjadi simbol kekuatan.
Yang sederhana tidak selalu rendah. Dan yang berasal dari desa, belum tentu kalah bermartabat. Nasi tiwul membuktikan itu dengan caranya sendiri.
Biodata Penulis:
Avira Flora Astia Zuliana saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Sebelas Maret.