Oleh Nuriyatin Fighya
Desa Samiran di Kecamatan Selo dikenal sebagai desa wisata unggulan di Boyolali. Desa ini menonjol karena lanskap alamnya yang kuat dan karakter sosial warganya yang hangat. Keunikan tersebut menjadikannya menarik untuk dikaji dalam konteks desa wisata berbasis alam. Samiran menghadirkan suasana tenang yang jarang ditemukan pada desa-desa di sekitar kawasan Merapi-Merbabu.
Samiran berada pada ketinggian lebih dari 1.600 mdpl. Udara di desa ini sejuk sepanjang hari dan cenderung dingin pada malam. Kondisi geografis tersebut membuat desa ini ideal bagi wisatawan dengan tujuan relaksasi. Pemandangan Merapi dan Merbabu juga terlihat jelas dari beberapa titik desa.
Keindahan ini bukan sekadar visual. Keindahan tersebut berperan dalam membentuk identitas sosial warganya. Seorang warga bernama Darsono mengatakan, “Kami hidup dari alam. Kami menjaga desa agar tetap nyaman.” Kutipan ini menunjukkan adanya relasi manusia dan lingkungan yang harmonis. Relasi tersebut menjadi daya tarik lain dari Samiran.
Potensi wisata Samiran juga berkembang melalui pengelolaan komunitas. Kelompok sadar wisata setempat aktif mengelola area pandang, homestay, dan rute trekking. Aktivitas itu dilakukan dengan pendekatan berbasis masyarakat. Setiap warga memiliki peran yang diatur secara kolektif. Model ini membuat desa tetap terjaga meski menerima banyak tamu.
Wisatawan biasanya datang pada pagi hari. Mereka ingin melihat matahari terbit dari lereng Merapi. Fenomena tersebut menjadi daya tarik kuat bagi pengunjung. Pola itu tercatat pada laporan POKDARWIS tahun 2023 yang menunjukkan peningkatan kunjungan pagi hingga 18 persen. Data tersebut mendukung narasi bahwa wisata alam masih diminati publik.
Selain panorama, Samiran juga memiliki aktivitas warga yang menarik diamati. Warga melakukan kegiatan bertani pada lahan menanjak di sekitar desa. Tanaman sayuran tumbuh dengan baik karena kualitas tanah yang subur. Aktivitas itu memperlihatkan pola hidup agraris yang konsisten. Kegiatan tersebut sering menjadi objek foto bagi wisatawan.
Ketenangan desa menjadi alasan lain yang membuat pengunjung betah. Suasana tidak bising dan ritme hidup bergerak pelan. Kondisi ini kontras dengan kehidupan kota yang serba cepat. Banyak wisatawan menganggap Samiran sebagai ruang istirahat mental. Kesimpulan ini muncul dari pengakuan beberapa pengunjung yang diwawancarai oleh komunitas lokal.
Selain itu, desa ini juga memiliki jalur pendakian yang aman untuk wisata ringan. Jalur tersebut tidak terlalu terjal dan cocok bagi pemula. Wisatawan dapat berjalan selama satu hingga dua jam. Pemandangannya cukup stabil dan tidak menguras tenaga. Aktivitas ini sering dipilih oleh keluarga dan pelajar.
Di sisi budaya, warga Samiran masih mempertahankan tradisi sederhana. Beberapa upacara adat digelar pada musim tertentu. Tradisi itu tidak dijadikan atraksi besar, tetapi tetap dilestarikan oleh warga. Pelestarian tersebut memperlihatkan identitas budaya yang konsisten. Identitas itu menjadi salah satu bagian penting dari daya tarik desa.
Homestay di Samiran juga berkembang dengan cukup baik. Warga membuka rumah mereka untuk wisatawan. Penginapan ini sederhana namun nyaman. Wisatawan dapat merasakan kehidupan desa secara langsung. Model penginapan ini mendukung perekonomian warga secara merata.
Pengunjung umumnya datang saat akhir pekan. Jumlah pengunjung melonjak saat libur sekolah. Peningkatan ini memberi dampak ekonomi bagi warga. Namun, desa tetap menjaga batas kunjungan agar tidak berlebihan. Keseimbangan antara wisata dan ketenangan menjadi prinsip utama desa.
Samiran juga terkenal sebagai lokasi foto prewedding. Lanskap gunung di belakangnya menciptakan visual menarik. Aktivitas ini menambah variasi wisata yang tersedia. Fotografer lokal ikut terlibat dalam layanan tersebut. Hal itu menunjukkan adanya peluang ekonomi baru.
Dengan berbagai potensi tersebut, Samiran menjadi representasi desa wisata yang berkembang secara terukur. Desa ini tidak mengubah dirinya secara drastis demi pariwisata. Desa ini justru mempertahankan karakter lokalnya. Identitas itu yang membuat Samiran berbeda.
Samiran bukan sekadar destinasi alam. Samiran adalah ruang hidup yang menunjukkan kesederhanaan dan ketenangan. Desa ini membuka peluang bagi wisata yang lebih manusiawi. Wisata yang tidak berisik dan tidak memaksa. Wisata yang mengajak pengunjung untuk berhenti sejenak dan bernapas lebih pelan.
Biodata Penulis:
Nuriyatin Fighya saat ini aktif sebagai mahasiswa dan bisa disapa di Instagram @n.fghyaa