Di tengah derasnya arus media sosial, kemiskinan sering kali tampil sebagai potongan cerita yang ringkas dan mudah dibagikan. Foto rumah reyot, wajah renta, anak-anak berdebu, atau antrean bantuan menjadi konten yang cepat menyentuh emosi. Banyak unggahan disertai kalimat heroik tentang kepedulian, empati, dan solidaritas. Namun, di balik semua itu, satu pertanyaan penting kerap luput diajukan: apakah orang miskin benar-benar membutuhkan perhatian sesaat, atau justru kepastian hidup yang berkelanjutan?
Fenomena menjadikan kemiskinan sebagai konten bukan hal baru, tetapi skalanya kini jauh lebih masif. Algoritma media sosial mendorong cerita-cerita yang menyentuh air mata, karena empati terbukti meningkatkan interaksi. Semakin memilukan kisahnya, semakin besar peluangnya viral. Sayangnya, viralitas tidak selalu berbanding lurus dengan perubahan nyata. Banyak kisah kemiskinan berhenti pada klik, like, dan komentar simpatik, tanpa memastikan apakah subjek cerita benar-benar keluar dari lingkaran masalahnya.
Kemiskinan bukan sekadar soal ketiadaan materi, melainkan juga ketiadaan kepastian. Kepastian tentang pangan hari esok, tentang akses kesehatan, tentang pendidikan anak-anak, dan tentang masa depan yang tidak sepenuhnya gelap. Bagi orang miskin, bantuan yang datang sekali waktu mungkin meringankan, tetapi tidak menyelesaikan. Yang dibutuhkan adalah sistem yang memberi rasa aman: bantuan yang berkelanjutan, kebijakan yang berpihak, serta pendampingan yang tidak putus di tengah jalan.
Dalam banyak kasus, kemiskinan direduksi menjadi narasi sentimental. Orang miskin digambarkan pasrah, tabah, dan selalu bersyukur. Gambaran ini memang menyentuh, tetapi sekaligus berbahaya. Menormalkan penderitaan, seolah kemiskinan adalah takdir yang patut diterima dengan senyum. Padahal, kemiskinan sering kali merupakan hasil dari ketimpangan struktural: akses kerja yang terbatas, pendidikan yang tidak merata, layanan kesehatan yang mahal, dan kebijakan yang tidak sepenuhnya melindungi kelompok rentan.
Budaya konten amal juga kerap menempatkan orang miskin sebagai objek, bukan subjek. Mereka difoto, direkam, dan diceritakan tanpa selalu diberi ruang untuk bersuara. Identitas mereka dipajang, kisah hidup mereka diringkas, lalu disebarkan demi menggerakkan donasi. Meskipun niatnya baik, pendekatan semacam ini menyisakan persoalan etika. Martabat manusia seharusnya tidak dikorbankan demi engagement.
Masalah lain yang sering muncul adalah bantuan yang tidak terintegrasi. Satu pihak memberi sembako, pihak lain memberi uang tunai, sementara aspek lain seperti pendidikan, keterampilan, dan akses kerja tidak disentuh. Akibatnya, orang miskin terus bergantung pada bantuan. Kepastian yang seharusnya dibangun justru berubah menjadi ketergantungan jangka panjang. Tanpa strategi pemberdayaan, bantuan hanya menjadi penunda masalah, bukan solusi.
Negara memiliki peran sentral dalam memastikan kepastian hidup warganya. Program bantuan sosial, jaminan kesehatan, dan akses pendidikan seharusnya menjadi fondasi utama. Namun, dalam praktiknya, banyak kebijakan masih bersifat tambal sulam. Data penerima bantuan tidak selalu akurat, distribusi tidak merata, dan pengawasan lemah. Ketika negara tidak hadir secara optimal, ruang kosong itu diisi oleh masyarakat sipil, komunitas, dan lembaga sosial.
Kehadiran lembaga sosial dan komunitas adalah hal yang patut diapresiasi. Banyak dari mereka bekerja senyap, tanpa sorotan kamera, mendampingi masyarakat miskin dari dekat. Mereka memahami bahwa kepastian tidak dibangun dalam sehari. Dibutuhkan proses panjang: mendengar kebutuhan warga, merancang program sesuai konteks lokal, serta memastikan keberlanjutan. Pendekatan semacam ini jarang viral, tetapi dampaknya jauh lebih nyata.
Di sisi lain, masyarakat kelas menengah juga perlu bercermin. Kepedulian sering kali muncul dalam bentuk yang paling mudah: berdonasi sekali, membagikan unggahan, lalu merasa tugas telah selesai. Padahal, kepedulian sejati menuntut konsistensi. Mengawal penggunaan donasi, mendukung kebijakan pro-rakyat, dan terlibat dalam gerakan sosial jangka panjang adalah bentuk kepedulian yang lebih bermakna, meski tidak selalu terlihat.
Media memiliki tanggung jawab besar dalam membingkai isu kemiskinan. Alih-alih mengejar sensasi, media dapat mendorong diskusi yang lebih substantif: mengapa kemiskinan terjadi, siapa yang diuntungkan dari sistem yang timpang, dan kebijakan apa yang perlu diperbaiki. Dengan demikian, kemiskinan tidak lagi diperlakukan sebagai tontonan, melainkan sebagai persoalan bersama yang menuntut solusi kolektif.
Pendidikan publik juga menjadi kunci. Masyarakat perlu diajak memahami bahwa kemiskinan bukan kesalahan individu semata. Narasi yang menyalahkan korban—misalnya dengan mengatakan bahwa orang miskin malas atau tidak berusaha—hanya memperdalam stigma. Stigma ini membuat orang miskin semakin tersisih dan enggan mengakses bantuan. Kepastian hidup sulit terwujud jika rasa malu dan ketakutan terus menghantui.
Dalam konteks kemanusiaan, kepastian berarti keberlanjutan. Bantuan yang baik bukan hanya yang cepat, tetapi yang terencana. Bukan hanya yang besar nilainya, tetapi yang tepat sasaran. Bukan hanya yang ramai dipuji, tetapi yang benar-benar mengubah hidup penerimanya. Kepastian juga berarti transparansi: penerima bantuan tahu haknya, donatur tahu ke mana dananya disalurkan, dan masyarakat dapat mengawasi bersama.
Kemanusiaan sejati tidak membutuhkan panggung megah tetapi tumbuh dari komitmen yang konsisten dan kesediaan untuk bekerja dalam diam. Orang miskin tidak membutuhkan janji-janji indah atau unggahan yang mengharukan. Mereka membutuhkan sistem yang melindungi, komunitas yang mendampingi, dan masyarakat yang tidak hanya tergerak sesaat. Kepastian adalah bentuk empati yang paling nyata.
Di tengah maraknya konten amal, sudah saatnya arah kepedulian dikaji ulang. Apakah yang dikejar adalah kepuasan emosional sesaat, atau perubahan jangka panjang? Apakah orang miskin benar-benar dilibatkan dalam proses, atau hanya dijadikan latar cerita? Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar kemanusiaan tidak berhenti sebagai simbol, melainkan hadir sebagai tindakan yang berkelanjutan.
Membangun kepastian bagi orang miskin memang tidak mudah. Hal ini menuntut kerja lintas sektor, kebijakan yang konsisten, dan partisipasi publik yang aktif. Namun, di situlah letak tanggung jawab bersama. Kemanusiaan bukan urusan segelintir orang baik, melainkan tugas kolektif sebuah masyarakat yang ingin disebut beradab.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan kepedulian sosial bukanlah seberapa banyak konten yang dihasilkan, melainkan seberapa sedikit orang yang harus hidup dalam ketidakpastian. Selama kemiskinan masih menjadi bahan cerita tanpa solusi nyata, selama itu pula kemanusiaan belum sepenuhnya dijalankan. Orang miskin tidak butuh dikasihani berulang kali; mereka butuh diyakinkan bahwa hidup mereka penting dan masa depan mereka layak diperjuangkan.
Bagi siapa pun yang ingin terlibat lebih jauh dalam upaya kemanusiaan yang berorientasi pada kepastian dan keberlanjutan, dukungan dapat disalurkan melalui lembaga sosial yang berkomitmen mendampingi masyarakat secara nyata. Salah satu langkah konkret adalah berdonasi, salah satunya melalui https://yayasansosialharapanindonesia.id/kontak.php, agar kepedulian tidak berhenti sebagai konten, melainkan menjadi harapan yang benar-benar dirasakan.