Oleh Anisa Fitria Silmi Kaffah
Bullying di sekolah sering dianggap sebagai kenakalan siswa yang harus segera dihentikan melalui hukuman. Namun, dari pengalaman saya sebagai mahasiswa Bimbingan dan Konseling, saya memandang bahwa bullying sering kali berakar dari persoalan yang lebih dalam, yaitu luka spiritual yang tidak disadari oleh siswa itu sendiri. Bagaimana sih maksudnya? Yuk simak lebih lanjut!
Dalam salah satu kasus yang sempat saya temui, seorang siswi SMP melakukan bullying sosial dan fisik pada teman sebayanya. Ia menyebarkan rumor, mengucilkan teman, dan melakukan intimidasi. Namun, di balik sikap kerasnya, tersimpan ketakutan besar untuk ditolak dan tidak dihargai.
Pendekatan yang hanya menyoroti kesalahan perilaku sering kali gagal menyentuh akar masalah. Siswa tidak diajak memahami perasaannya sendiri, apalagi dampak perbuatannya terhadap orang lain. Di sinilah pendekatan spiritual dianggap penting, bukan dalam bentuk ceramah, tetapi berbentuk refleksi diri, empati, dan penerimaan.
Ketika siswa merasa aman dan tidak dihakimi, ia mulai berani mengakui kesalahan. Dari sana, kesadaran moral akan tumbuh. Bullying pun perlahan berkurang, bukan karena takut dihukum, tetapi karena memahami makna menghargai sesamanya.
Bullying bukan sekadar masalah disiplin tetapi adalah panggilan untuk menyembuhkan luka batin seorang siswa.
Biodata Penulis:
Anisa Fitria Silmi Kaffah saat ini aktif sebagai mahasiswi, Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, di Universitas Sebelas Maret.