Aceh masih belum baik-baik saja.

Pelestarian Manuskrip: Aksara yang Menyimpan Pengetahuan Bencana

Mari telusuri manuskrip Aceh yang menghidupkan kembali sejarah, bencana, dan nilai keagamaan.

Oleh Wulan Darma Putri

Penemuan sebuah catatan masa lalu sering kali membuka kembali sejarah yang lama terlupakan, ketika selembar manuskrip tercecer ditemukan. Di Aceh, wilayah yang sejak awal menjadi pintu masuk Islam ke Nusantara, penemuan seperti ini bukan hal asing mengingat banyaknya artefak dan naskah yang telah diwariskan. Seorang bernama Masykur Syafruddin pernah menjadi sosok yang tekun mengumpulkan artefak-artefak seperti manuskrip itu ke dalam Pedir Museum, hingga ratusan naskah berhasil diselamatkan. Upaya ini menjadikan memori kolektif masyarakat Aceh tentang bencana, sejarah, dan budaya dapat terus hidup meskipun waktu berusaha mengikisnya.

Pelestarian Manuskrip

Di antara manuskrip yang paling menarik perhatian ialah sebuah naskah berjudul Syair Nagari Taloe Tarandam 1890, yang berisi catatan pribumi mengenai bencana banjir besar pada tahun itu. Syair ini tidak pernah menjadi dasar kebijakan kebencanaan yang meluas dan tidak pernah menjadi pengetahuan nasional yang diangkat ke permukaan, naskah itu kini tersimpan jauh di perpustakaan Universitas Leiden, bukan berada di ruang publik daerah asalnya. Syair ini telah ditranskripsi oleh Pramono, dkk. pada 2019, sehingga isinya dapat dibaca kembali oleh generasi masa kini. Salah satu kutipannya menyatakan, “Air nan gadang bertambah dalam, berapa buah kampung terendam, negeri tak ubah bagai lautan, berpanjang-panjang taulan di dalam.” Gambaran itu menunjukkan betapa besar dan menghancurkannya banjir yang menenggelamkan rumah-rumah, hingga yang terlihat tinggal tulang atap yang menyembul.

Pelestarian manuskrip tidak dapat berhenti pada penyelamatan fisik semata karena naskah hanyalah kuat jika maknanya dapat diakses. Selama ini, banyak pihak menganggap cukup menyerahkan naskah kepada perpustakaan tanpa langkah lanjutan yang lebih baik. Padahal, manuskrip perlu ditranskripsi oleh para ahli agar teksnya dapat dibaca dengan benar, terutama karena banyak naskah menggunakan aksara dan bahasa lama. Proses transkripsi membutuhkan biaya, sehingga dukungan dana harus diberikan kepada orang-orang yang memiliki kompetensi di bidang filologi.

Manuskrip sering kali berhadapan dengan kondisi fisik yang rumit, terutama naskah yang pernah terendam air. Banyak orang beranggapan bahwa mengeringkannya langsung di bawah sinar matahari merupakan metode yang tepat, padahal cara tersebut justru dapat merusak struktur kertas dan tinta. Metode yang benar yaitu menyimpan manuskrip yang basah di dalam freezer khusus agar jamur tidak berkembang dan kertas tetap stabil. Digitalisasi menjadi langkah penting selanjutnya agar manuskrip tidak hanya aman tetapi juga dapat diakses oleh publik luas. Dengan digitalisasi, naskah dapat dibagikan kepada peneliti, pelajar, dan masyarakat tanpa risiko merusak fisik aslinya.

Selain Syair Nagari Taloe Tarandam, terdapat pula manuskrip penting lain seperti Kitab Al Yaqin, sebuah teks mengenai fenomena hujan, kilat, angin, dan bagaimana manusia harus menyikapinya. Kitab ini menjelaskan bahwa hujan memiliki banyak jenis dan setiap jenis membawa konsekuensi berbeda bagi kehidupan manusia. Naskah tersebut mengingatkan bahwa hujan pada dasarnya membawa manfaat bagi bumi, dan bencana hanya terjadi ketika keseimbangan alam terganggu.

Kitab itu juga membahas kisah umat Nabi Nuh sebagai contoh hujan yang berubah menjadi azab ketika kezaliman manusia memuncak. Pesan yang ditonjolkan adalah bahwa bencana bukan sekedar fenomena alam, tetapi juga peringatan moral bagi manusia agar tidak melampaui batas. Naskah tersebut mencerminkan cara pandang religius yang tidak mengabaikan unsur kealaman dalam kejadian hujan dan badai. Gagasan ini penting untuk dipahami dalam konteks masyarakat yang hidup di wilayah rawan bencana.

Dalam teks tersebut juga disebutkan riwayat dari Siti Aisyah, yang mengatakan bahwa ketika tanda-tanda hujan muncul, Rasulullah SAW memandang ke langit dengan penuh harap dan kewaspadaan. Beliau memohon kepada Allah agar hujan yang turun membawa manfaat dan dijauhkan dari keburukan yang mungkin muncul. Jika hujan tetap turun deras, Rasulullah berserah diri sembari berdoa agar air itu menjadi rahmat, bukan malapetaka. Hal ini memperlihatkan keseimbangan antara ikhtiar manusia dan penyerahan diri kepada Tuhan.

Melestarikan naskah-naskah seperti ini berarti menjaga kesinambungan pengetahuan antara masa lalu dan masa kini. Generasi sekarang dapat belajar bagaimana leluhur mereka menafsirkan alam dan bencana bahasa yang digunakan untuk menggambarkannya, serta respons sosial yang muncul. Pengetahuan tersebut tidak hanya memperkaya wawasan sejarah, tetapi juga membantu memperbaiki strategi penanggulangan bencana masa kini. Tanpa pelestarian, generasi mendatang akan kehilangan warisan intelektual yang penting bagi identitas budaya mereka, melestarikannya adalah kewajiban ilmiah sekaligus moral bagi masyarakat hari ini.

Referensi:

  • https://www.youtube.com/watch?v=Asy02pB_dKY 

Wulan Darma Putri

Biodata Penulis:

Wulan Darma Putri, lahir pada tanggal 14 Februari 2006 di Padang, saat ini aktif sebagai mahasiswi, Prodi Sastra Indonesia, di Universitas Andalas. Wulan terlibat dalam dalam UKMF Labor Penulisan Kreatif Universitas Andalas. Penulis bisa disapa di Instagram @wulandarmaaa_

© Sepenuhnya. All rights reserved.