Oleh Witri
Dari kanal YouTube NGARIKSA TV dalam tayangan yaitu membaca bencana: Banjir, Manuskrip, dan Memori Kolektif. Nusantara diskusi “Ngariksa 77” yang dibawakan oleh Kang Oman membahas bagaimana bencana banjir sudah lama menjadi bagian dari sejarah kehidupan masyarakat Nusantara, bahkan jauh sebelum zaman modern. Hal ini terlihat dari berbagai manuskrip dan prasasti kuno yang mencatat kejadian banjir, mulai dari hujan deras yang berlangsung lama, suara air yang mengalir deras, hingga kondisi masyarakat yang berusaha menyelamatkan diri. Dalam video tersebut dijelaskan bahwa peristiwa banjir bukan hanya fenomena modern yang terjadi akibat perubahan iklim atau pembangunan yang tidak teratur. Hal ini menunjukkan bahwa leluhur kita tidak hanya mengalami bencana, tetapi juga memiliki budaya mencatat dan menyimpan ingatan kolektif mengenai apa yang mereka hadapi. Catatan catatan kuno itu menunjukkan betapa seriusnya masyarakat masa lalu dalam memahami alam dan bagaimana mereka berusaha hidup selaras dengan lingkungan.
Dalam video tersebut, narasumber menjelaskan bahwa banyak naskah kuno menggambarkan banjir dengan sangat detail. Ada manuskrip yang mencatat hujan deras yang berlangsung berhari-hari, suara gemuruh air yang meluap dari sungai, hingga cerita tentang orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri ketika air naik tiba-tiba. Terkadang, cerita-cerita ini juga disertai unsur simbolis atau religius, yang mencerminkan cara pandang masyarakat terhadap bencana sebagai bagian dari kehendak alam atau bahkan teguran dari kekuatan yang lebih tinggi. Namun yang paling penting, manuskrip-manuskrip itu memberikan gambaran jelas bahwa banjir telah terjadi berulang kali sepanjang sejarah, sehingga sebenarnya bukan hal asing bagi masyarakat Nusantara.
Yang menarik dalam video ini yaitu menyoroti bahwa catatan dalam manuskrip tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah, tetapi juga merupakan bentuk pengetahuan kolektif. Naskah naskah tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat dulu telah memahami pola alam, mengenali tanda-tanda datangnya bencana, serta memiliki cara tersendiri untuk mengantisipasi atau meresponsnya. Hal ini menjadi penting bagi masyarakat modern karena dapat menjadi bahan pembelajaran. Misalnya, mengetahui lokasi-lokasi yang disebut sering banjir dalam naskah lama bisa membantu memahami pola ruang dan kondisi geografis yang tidak banyak berubah sampai sekarang. Selain itu, catatan peristiwa bencana bisa membantu merumuskan kebijakan yang lebih tepat, terutama dalam pengelolaan lingkungan dan perencanaan pembangunan.
Namun, dalam kenyataannya, pengetahuan kuno dalam manuskrip sering kali terabaikan. Diskusi dalam video menunjukkan bahwa pengambil kebijakan modern sering lebih mengandalkan data ilmiah terbaru tanpa melihat konteks sejarah panjang yang juga penting. Padahal, menggabungkan data ilmiah dan catatan sejarah akan memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh tentang pola bencana. Misalnya, jika sebuah wilayah dicatat sejak ratusan tahun lalu sebagai daerah rawan banjir, seharusnya perencanaan tata ruang di wilayah tersebut mempertimbangkan informasi itu. Manuskrip dapat menjadi sumber pengetahuan tambahan yang memperkaya strategi mitigasi bencana modern.
Selain itu, video ini juga menyoroti peran penting para peneliti manuskrip dan akademisi yang berupaya merawat, meneliti, serta menghidupkan kembali naskah-naskah kuno yang hampir terlupakan. Banyak manuskrip disimpan dalam kondisi yang kurang baik dan membutuhkan perawatan khusus agar tidak rusak. Kerja-kerja pelestarian ini bukan hanya bertujuan menyimpan sejarah, tetapi juga menjaga warisan intelektual bangsa. Lewat penelitian filologi dan kajian budaya, isi manuskrip bisa diinterpretasi ulang agar relevan bagi masyarakat masa kini. Video tersebut secara tidak langsung mengajak penonton untuk lebih menghargai usaha pelestarian naskah, karena dari sana kita dapat menemukan pengetahuan berharga tentang kehidupan, budaya, dan lingkungan masa lampau.
Lebih jauh lagi, video ini mengundang refleksi bahwa masyarakat modern sering kali kehilangan hubungan harmonis dengan alam. Di masa lalu, masyarakat Nusantara melihat alam sebagai bagian penting dari kehidupan dan selalu berusaha menjaga keseimbangan. Catatan manuskrip yang memuat kisah banjir bukan hanya dokumentasi kejadian, tetapi juga menunjukkan pemahaman leluhur tentang pentingnya membaca tanda-tanda alam, menghormati sungai, hutan, dan lingkungan sekitar. Hal ini sangat kontras dengan kondisi sekarang, di mana pembangunan yang tidak terkendali sering menyebabkan kerusakan lingkungan sehingga banjir semakin sering terjadi dan semakin parah. kita diingatkan bahwa pelestarian manuskrip bukan hanya upaya menjaga warisan budaya, tetapi juga menjaga ingatan penting yang bisa membantu menghadapi tantangan masa kini. Manuskrip dapat memberi kita wawasan tentang bagaimana generasi terdahulu menghadapi bencana, bagaimana mereka menuliskannya, dan apa yang bisa kita pelajari dari cara mereka memaknai alam. Dengan demikian, mempelajari manuskrip bisa menjadi langkah penting untuk merancang strategi mitigasi bencana yang lebih bijaksana dan berkelanjutan.
Video ini juga mengajarkan bahwa sejarah dan pengetahuan leluhur bukan sesuatu yang layak ditinggalkan, tetapi justru harus dijadikan bahan refleksi. Banjir bukan hanya persoalan alam, tetapi juga persoalan bagaimana manusia memperlakukan lingkungannya. Manuskrip memberi kita jendela untuk melihat masa lalu, memahami alam, dan mengambil hikmah untuk masa depan. Dengan menghargai dan mempelajari naskah kuno, kita tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menjaga keberlanjutan hidup manusia sendiri.
Biodata Penulis:
Witri saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Andalas, Prodi Sastra Indonesia.