Oleh Azkia Hasna Ramadhani
Motivasi belajar pada anak usia dini merupakan fondasi penting dalam proses tumbuh kembang anak. Motivasi menjadi penggerak utama yang membantu anak tertarik, berani mencoba, dan menikmati kegiatan belajar.
Pada masa PAUD, anak mulai mengenal kegiatan belajar melalui bermain, bereksplorasi, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Proses ini menjadi pengalaman awal yang akan membentuk sikap anak terhadap belajar di jenjang pendidikan selanjutnya.
Namun, tidak semua anak menunjukkan antusiasme yang sama. Sebagian anak terlihat mudah menyerah, takut mencoba hal baru, atau menunjukkan emosi negatif ketika menghadapi kesulitan. Kondisi ini sering kali bukan disebabkan oleh rendahnya kemampuan anak, melainkan oleh cara memaknai pengalaman belajarnya. Ketika belajar dianggap sebagai sesuatu yang menekankan atau menakutkan, motivasi anak pun dapat menurun.
Pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) memberikan pemahaman bahwa emosi dan perilaku seseorang sangat berkaitan dengan cara berpikirnya. Dalam pendekatan ini, pikiran, perasaan, dan tingkah laku saling mempengaruhi. Ketika anak memiliki keyakinan yang kurang tepat, seperti merasa dirinya tidak mampu atau takut melakukan kesalahan, emosi negatif dapat muncul dan mempengaruhi perilaku belajarnya.
Pada anak usia dini, keyakinan tersebut memang belum terbentuk secara kompleks, tetapi keyakinan irasional dapat muncul dalam bentuk sederhana, misalnya enggan mencoba kembali setelah gagal, mudah menangis, atau menolak tantangan baru.
Tujuan utama REBT adalah membantu individu mengurangi gangguan emosional yang dapat merusak perkembangan diri, seperti rasa cemas, takut, dan marah. Melalui pendekatan ini, individu dibantu untuk mengenali dan mengubah pola pikir yang kurang rasional menjadi lebih realistis dan positif. Perubahan cara berpikir tersebut diharapkan dapat menghasilkan emosi yang lebih sehat dan perilaku yang lebih adaptif.
Dalam konteks PAUD, pendekatan ini dapat diterapkan secara sederhana melalui pendampingan emosional yang dilakukan oleh guru dan orang tua. Anak dibantu untuk menghadapi pengalaman belajar dengan cara yang rasional dan menenangkan, sehingga kepercayaan diri anak dapat tumbuh sejak dini.
Motivasi belajar anak yang terus menurun, jika tidak ditangani dengan tepat, dapat berdampak pada perkembangan anak secara keseluruhan. Anak yang kurang termotivasi cenderung pasif, enggan berpartisipasi, dan kurang mengembangkan keterampilan yang seharusnya diasah pada masa emas perkembangan. Oleh karena itu, upaya menumbuhkan motivasi belajar perlu dilakukan sejak usia dini dengan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik anak.
Dalam teori REBT dijelaskan bahwa keyakinan irasional berakar pada tuntutan-tuntutan yang tidak realistis, baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan. Pada anak PAUD, tuntutan ini dapat muncul secara tidak langsung, misalnya ketika anak merasa harus selalu berhasil atau takut dimarahi saat melakukan kesalahan.
Jika perasaan ini terus berulang, anak dapat mengembangkan emosi negatif yang menghambat motivasi belajar. Sebaliknya, ketika anak dibimbing untuk memahami bahwa kesalahan adalah bagian dari belajar, anak akan lebih mampu menerima dirinya dan berani mencoba kembali.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, terutama pada siswa yang sebelumnya memiliki motivasi belajar rendah. Temuan ini menegaskan bahwa perubahan pola pikir yang lebih rasional dapat berdampak positif pada emosi dan perilaku belajar anak.
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa perubahan cara berpikir, meskipun dilakukan secara sederhana tetapi dapat membawa dampak positif pada emosi dan perilaku belajar. Dalam konteks PAUD, prinsip ini dapat diterapkan dengan menyesuaikan bahasa dan metode sesuai usia anak.
Motivasi belajar anak usia dini dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi kondisi fisik dan psikis anak, seperti kesehatan, rasa percaya diri, dan minat. Sementara itu, faktor eksternal berasal dari lingkungan sekitar, seperti keluarga, guru, dan suasana belajar.
Lingkungan yang aman secara emosional, penuh dukungan, dan bebas dari tekanan berlebihan terbukti mampu memenuhi kebutuhan psikologis anak dan mendorong tumbuhnya motivasi belajar.
Pendekatan REBT membantu menguatkan faktor internal anak melalui pembentukan pola pikir yang lebih positif dan rasional, sekaligus mengoptimalkan peran faktor eksternal melalui dukungan orang dewasa.
Guru dan orang tua berperan sebagai model dalam bersikap tenang, menerima kesalahan, dan memberikan penguatan terhadap usaha anak. Melalui interaksi ini, anak memahami bahwa belajar adalah proses yang menyenangkan dan tidak perlu ditakuti.
Dengan demikian, penerapan pendekatan REBT dalam pendidikan anak usia dini dapat menjadi alternatif yang efektif untuk menumbuhkan motivasi belajar anak. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pengelolaan emosi dan pembentukan sikap positif terhadap belajar.
PAUD pun tidak sekadar menjadi tempat anak belajar membaca dan berhitung, tetapi juga ruang aman bagi anak untuk mengenal diri, membangun kepercayaan diri, dan mengembangkan potensi secara optimal sejak dini.
Sumber Referensi:
- Wavia, Zamila. (2024). Penerapan Pendekatan REBT dalam Meningkatkan Motivasi Belajar. Al-Thifl: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 1(1).
- Mu’min, H., & Wyhardes. (2024). Penerapan konseling individu menggunakan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) dengan teknik ABCD. Journal of Islamic Counseling Nusantara, 1(1).
Biodata Penulis:
Azkia Hasna Ramadhani saat ini aktif sebagai mahasiswa, Pendidikan Islam Anak Usia Dini, di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.