Peran Pendidikan Islam dalam Membentuk Moral Anak Bangsa

Ayo gali makna pendidikan Islam dalam membentuk pribadi berakhlak dan bermoral.

Oleh Ainul Karimah

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Sementara Pendidikan Islam menurut Hasan Langgulung, pendidikan Islam adalah suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat. Tujuan diciptakan manusia hanya untuk mengabdi kepada Allah SWT. Oleh karena itu tujuan pendidikan Islam, yaitu membentuk umat yang berdasarkan hukum dan nilai-nilai agama Islam. Kemudian dasar dari usaha pembentukan kepribadian utama ini adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Peran Pendidikan Islam dalam Membentuk Moral Anak Bangsa

Kata akhlak merupakan bentuk jama` dari bahasa arab khuluqun yang memiliki arti: sajiyyatun, tabi`tun, atau `adatun, yang artinya karakter, tabiat atau adat kebiasaan, atau disebut juga etika. Akhlak juga sering disebut dengan moral, di mana ia merupakan satu kali tindakan manusia yang diulang secara terus menerus, dan akhirnya menjadi adat kebiasaan yang menyatu dalam diri perilakunya. Sedangkan moral menurut Peospoprodjo, bahwa moral adalah suatu kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, serta baik atau buruk. Moral juga dikatakan sebagai padanan dari etika, yang berasal dari bahasa Yunani ethos yang juga bermakna hukum, adat istiadat, kebiasaan, budi pekerti.

Dalam ajaran Islam yang menjadi dasar-dasar akhlak adalah berupa al-Qur`an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Baik dan buruk dalam akhlak Islam ukurannya adalah baik dan buruk menurut kedua sumber itu, bukan baik dan buruk menurut ukuran manusia. Sebab jika ukurannya adalah manusia, maka baik dan buruk itu bisa berbeda-beda. Seseorang mengatakan bahwa sesuatu itu baik, tetapi orang lain belum tentu menganggapnya baik. Begitu juga sebaliknya, seseorang menyebut sesuatu itu buruk, padahal yang lain bisa saja menyebutnya baik. Semua ummat Islam sepakat pada kedua dasar pokok itu (al-Qur`an dan Sunnah) sebagai dalil naqli yang tinggal mentransfernya dari Allah Swt, dan Rasulullah Saw. Keduanya hingga sekarang masih terjaga keotentikannya, kecuali Sunnah Nabi yang memang dalam perkembangannya banyak ditemukan hadis-hadis yang tidak benar (dha’if/palsu).

Peran pendidikan Islam sangat besar dalam membentuk watak kebangsaan termasuk menghidupkan nilai-nilai moralitas dalam kehidupan sehari-hari baik itu di lingkungan sekolah, masyarakat, bangsa dan negara. Pasca reformasi 1998, masyarakat mulai mengagung-agungkan kebebasan individu di semua sendi-sendi kehidupan akan tetapi pada saat yang sama terdapat banyak bukti yang menunjukkan adanya penurunan nilai moral bangsa.

Pendidikan agama dalam hal ini membawa sebuah pendidikan moral yang sifatnya universal. Pendidikan Islam dalam hal ini berperan dalam menumbuh kembangkan nilai- nilai religiusitas individu. Al-Qur’an sebagai sumber pokok dalam pendidikan Islam menerangkan empat pengembangan fungsi manusia yang berkaitan langsung dengan pengembangan akhlak dan moral manusia baik itu yang berkaitan dengan hablu minallah, hablu minannas dan hablu minal alam.

Pendidikan Agama Islam sebagai pilar pembentukan moral dan etika menghadapi beberapa tantangan yang perlu diatasi. Berikut adalah beberapa tantangan yang umum dihadapi dalam Pendidikan Agama Islam:

  1. Tantangan Kontekstual: Pendidikan Agama Islam perlu menghadapi tantangan kontekstual yang berkaitan dengan perubahan sosial, budaya, dan teknologi. Dalam dunia yang semakin kompleks dan beragam ini, pendidikan agama harus dapat menyesuaikan materi dan metode pengajaran agar relevan dengan realitas yang dihadapi oleh generasi muda.
  2. Kurikulum dan Metode Pengajaran: Pengembangan kurikulum yang sesuai dan metode pengajaran yang efektif merupakan tantangan lain dalam Pendidikan Agama Islam. Diperlukan kurikulum yang komprehensif, relevan, dan sesuai dengan perkembangan zaman, serta metode pengajaran yang menarik, interaktif, dan memotivasi peserta didik untuk belajar nilai-nilai moral dan etika.
  3. Kualitas Pengajar: Ketersediaan pengajar yang berkualitas dalam Pendidikan Agama Islam juga merupakan tantangan penting. Pengajar harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang ajaran agama Islam, kompetensi pedagogis, serta kemampuan untuk menyampaikan nilai-nilai agama dengan cara yang efektif dan menarik. Pengembangan profesionalisme pengajar dan peningkatan kualitas pendidikan agama merupakan hal yang perlu diperhatikan.
  4. Pemahaman yang Tepat: Tantangan lain adalah pemahaman yang tepat tentang ajaran agama Islam. Terkadang terjadi perbedaan interpretasi yang dapat mengaburkan nilai-nilai etika dan moral yang sebenarnya diajarkan dalam agama Islam. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang jelas dan konsisten dalam mengajarkan nilai-nilai agama Islam untuk menghindari kesalahpahaman. 
  5. Pengaruh Lingkungan Sekuler: Di dalam lingkungan yang lebih sekuler, di mana nilai-nilai agama seringkali terpinggirkan, pendidikan agama Islam dihadapkan pada tantangan dalam mempengaruhi pemikiran dan perilaku individu. Penting bagi pendidikan agama Islam untuk mengembangkan pendekatan yang relevan dan menarik bagi generasi muda agar mereka dapat menghargai dan menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
  6. Pemenuhan Kebutuhan Individual: Setiap individu memiliki kebutuhan, minat, dan tantangan yang berbeda. Tantangan dalam pendidikan agama Islam adalah memenuhi kebutuhan individual dan memastikan pendidikan agama memberikan solusi yang relevan dan bermanfaat dalam membentuk moral dan etika individu sesuai dengan konteksnya.

Biodata Penulis:

Ainul Karimah saat ini aktif sebagai mahasiswa, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, di UIN K. H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

© Sepenuhnya. All rights reserved.