Oleh Agnina Zulfa Adzkiya
Anak-anak di usia dini adalah individu yang sedang berada di fase pertumbuhan dan perkembangan. Pada tahap ini, mereka mengalami periode keemasan, di mana pertumbuhan dan perkembangan berlangsung dengan cepat dan menentukan tahap selanjutnya.
Kegagalan dalam belajar adalah suatu tantangan yang umum dihadapi anak-anak dalam usia ini. Karena mereka sedang dalam fase eksplorasi dan pembelajaran yang aktif, cara pandang mereka terhadap kegagalan akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan mereka di masa mendatang. John Dewey, seorang filsuf pendidikan, menyoroti betapa pentingnya pengalaman dalam proses belajar, yang dapat membantu anak-anak memahami serta menangani kegagalan dengan cara yang lebih positif. Kesulitan belajar dapat terjadi pada anak usia dini, bukan karena cacat fisik, tetapi karena perbedaan cara belajar, lingkungan, kebiasaan, kemampuan kognitif, latar belakang, dan karakteristik individu. Salah satu strategi efektif untuk menangani dan mencegah kesulitan belajar pada usia dini adalah melalui bermain. Karena bermain dianggap sebagai tahap awal dari proses belajar.
Teori Pembelajaran Berbasis Pengalaman oleh John Dewey
John Dewey adalah seorang pemikir dalam bidang pendidikan progresif yang berpendapat bahwa pembelajaran adalah suatu proses aktif yang berlangsung melalui pengalaman langsung. Dewey menyatakan bahwa pendidikan tidak hanya mempertimbangkan hasil akhir, melainkan lebih pada proses pembelajaran itu sendiri. Ia meyakini bahwa pengalaman akan terasa berarti jika disertai dengan refleksi, sehingga anak dapat memahami hubungan antara tindakan dan konsekuensinya.
Dewey juga menggaris bawahi pentingnya lingkungan belajar yang demokratis dan mendukung, di mana guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing anak belajar dari pengalaman dan kesalahan. Dengan cara ini, kegagalan dalam belajar bisa menjadi pengalaman yang bermanfaat, membangun semangat pantang menyerah serta rasa ingin tahu anak.
Contoh Penerapan Teori John Dewey
1. Mengidentifikasi Masalah
Seorang anak diminta untuk menggambar sebuah rumah. Ketika melihat hasil gambarnya, anak tersebut merasa gambar yang dihasilkan tidak memuaskan dan berbeda jauh dari contoh yang diberikan guru.
Catatan: Anak pun berhenti menggambar dengan terlihat kecewa. Tindakan anak ini mencerminkan rasa frustasi karena merasa tidak bisa meniru gambar yang benar dan memilih untuk menyerah, yang berujung pada kehilangan motivasi.
2. Mendefinisi Masalah
Guru melihat bahwa permasalahan yang dihadapi bukan terletak pada kemampuan menggambar anak, tetapi lebih kepada ketakutan salah dan kurangnya rasa percaya diri akibat membandingkan hasil gambarnya dengan contoh yang ada.
Catatan: Guru perlu menyadari perlunya mengubah pendekatan agar anak bisa lebih fokus pada proses daripada hasil.
3. Mengembangkan Solusi
Guru mendekati anak dan memberikan dukungan. Ia berkata, "Wah, gambarnya luar biasa! ", "Bisa ceritakan tentang gambarmu? ", dan "Kamu pasti dapat melakukannya".
Catatan: Guru memberikan kebebasan kepada anak untuk menambahkan warna atau bentuk sesuai imajinasinya. Ia menekankan bahwa tidak ada gambar yang salah dan setiap gambar itu unik. Anak mulai merasa lebih tenang dan ingin melanjutkan menggambarnya.
4. Menguji Solusi atau Gagasan
Anak melanjutkan menggambar dengan lebih santai. Ia mencoba menambahkan jendela, pintu, dan mewarnai sesuai keinginannya tanpa rasa takut akan kesalahan.
Catatan: Anak menunjukkan rasa percaya diri, tetap fokus, dan menikmati proses menggambarnya.
5. Membuat Kesimpulan
Setelah selesai, guru mengajak anak berbicara sejenak, "Tadi sempat berhenti, tetapi sekarang gambarnya sudah lebih lengkap, kan?".
Catatan: Anak menyadari bahwa menggambar tidak perlu sempurna dan harus bagus. Ia merasa bangga dengan hasil karyanya dan lebih berani untuk mencoba lagi tanpa rasa takut akan kegagalan.
Melalui aktivitas menggambar dengan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pengalaman ala John Dewey, anak-anak pada usia dini belajar untuk merespons kegagalan dengan cara yang positif. Mereka tidak hanya memperbaiki keterampilan motorik halus dan kreativitas, tetapi juga belajar untuk menumbuhkan rasa percaya diri, keberanian untuk mencoba, serta sikap tidak mudah menyerah. Dengan bimbingan guru dan lingkungan pembelajaran yang aman, aktivitas menggambar memberikan pengalaman belajar yang berarti bagi anak.
Peran Guru dan Lingkungan Belajar
Guru berfungsi sebagai fasilitator yang membantu anak dalam mendapatkan pengalaman pembelajaran yang berarti. Fokus guru bukanlah pada hasil akhir, melainkan pada proses yang dilalui anak, termasuk saat mereka menghadapi kegagalan. Pengalaman belajar yang disertai refleksi akan membantu anak memahami kesalahan sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Lingkungan belajar memiliki peran yang signifikan dalam membentuk cara anak usia dini menghadapi kegagalan dalam belajar. Ruang pembelajaran harus dirancang agar anak bisa berinteraksi secara aktif dengan pengalaman mereka. Lingkungan yang aman dan tidak menghakimi akan membuat anak merasa lebih nyaman untuk mencoba, gagal, dan belajar kembali.
Dengan kerjasama yang baik antara guru dan lingkungan belajar, kegagalan dapat dipahami sebagai elemen penting dari proses pembelajaran berbasis pengalaman, sehingga anak tumbuh menjadi pelajar yang percaya diri dan tidak mudah menyerah.
Implementasi di PAUD
- Pembelajaran menekankan learning by doing, yaitu belajar melalui pengalaman langsung.
- Kegiatan belajar dirancang berbasis bermain dan bereksplorasi seperti menggambar, menyusun balok, dan proyek-proyek sederhana lainnya.
- Anak diberi kesempatan kembali untuk mencoba termasuk mengalami kegagalan.
- Menciptakan lingkungan belajar anak yang nyaman, aman, dan suportif, sehingga anak tidak takut untuk mencoba hal baru.
- Guru memberikan dukungan dan motivasi.
Sumber Referensi:
- Ramos, Ria. (2021). Strategi mengatasi kesulitan belajar bagi anak usia dini melalui bermain. Jurnal Panria, 2(1), Desember. https://www.academia.edu/113896213/Strategi_Meningkatkan_Kesulitan_Belajar_Bagi_Anak_Usia_Dini_Melalui_Bermain
- UNESA.pdf. https://s3paud.fip.unesa.ac.id/post/pandangan-john-dewey-tentang-pengalaman-belajar-dan-implementasinya-di-paud
Biodata Penulis:
Agnina Zulfa Adzkiya saat ini aktif sebagai mahasiswa, Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini, di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.