Sawah yang Menjadi Pusat Hidup
Orang tua saya adalah petani yang sudah bertani selama puluhan tahun. Bertani menjadi pekerjaan utama yang menopang hidup keluarga kami. Sejak kecil, saya tumbuh dengan sawah sebagai bagian dari keseharian. Padi, jagung, cabai, terong, tomat, timun, hingga kacang tanah pernah ditanam. Kini, orang tua saya menanam jagung dan kacang panjang sebagai tumpuan musim.
Hidup yang Bergantung pada Musim
Sebagai anak petani, saya hidup mengikuti irama musim yang tidak pasti. Hujan dan panas bukan sekadar cuaca, tetapi penentu penghasilan keluarga. Orang tua saya jarang mengeluh meski hasil tidak selalu sepadan usaha. Saya belajar bahwa bertani adalah pekerjaan dengan risiko tinggi. Ketidakpastian itu perlahan membentuk cara saya memahami hidup.
Panen dan Kebahagiaan Sederhana
Ada masa ketika panen membawa kebahagiaan sederhana ke rumah. Saat hasil panen terjual dan uang cair, suasana keluarga terasa lebih lega. Orang tua saya membelikan barang yang saya inginkan tanpa banyak hitungan. Kami sekeluarga sering merayakannya dengan makan bakso bersama. Bakso menjadi tanda kecil bahwa kerja panjang akhirnya berbuah.
Sawah sebagai Dapur Keluarga
Menjadi anak petani membuat urusan makan terasa lebih dekat. Ketika harga sayur mahal, keluarga kami tidak terlalu panik. Cabai, terong, dan sayuran lain bisa diambil langsung dari sawah. Sawah menjadi semacam dapur kedua bagi keluarga kami. Dari sana, saya belajar bahwa pangan tidak selalu datang dari pasar.
Pengetahuan yang Tumbuh Diam-Diam
Pengalaman bertani juga membantu saya di bangku sekolah. Saat ada proyek kewirausahaan, saya tidak asing dengan proses menanam. Saya memahami cara merawat tanaman hingga panen dan mengolah hasilnya. Pelajaran IPA tentang tanaman terasa lebih mudah dipahami.
Pengetahuan dari sawah menjadi bekal yang tidak tertulis di rapor.
Gagal Panen dan Kerja yang Tidak Terlihat
Namun, kehidupan petani juga menyimpan duka yang jarang dibicarakan. Gagal panen berarti modal tidak kembali dan kerugian tidak terhindarkan. Saat panen, saya sering diminta membantu di bawah panas matahari, memetik dan memupuk tanaman. Jika tidak diborong, hasil panen dibawa pulang dan dijual ke pengepul. Dari orang tua petani, saya belajar bertahan adalah kerja paling sunyi.
Biodata Penulis:
Nabila saat ini aktif sebagai mahasiswa, Pendidikan Ekonomi, di UNS. Penulis bisa disapa di Instagram @laa.blla