Scroll Lancar, Literasi Macet: Ketika Indonesia Sibuk Online Tapi Malas Membaca, Hoaks pun Merajalela

Ayo tingkatkan literasi digital! Jangan cuma scroll, pelajari cara membedakan hoaks dari fakta, dan mulai kebiasaan membaca sedikit tiap hari.

Oleh Anindhita Nur Mufidah

Hampir semua orang tidak pernah lepas dari yang namanya HP dari bangun tidur sampai malam harinya, dari scrolling reels Instagram sampai tiktok kita betah, tapi disuruh baca 5 paragraf saja sudah nyerah. Meutya Hafid, Menteri Kemkomdigi menyampaikan adanya penggunaan jaringan internet di Indonesia mencapai 221 juta pengguna, hal itu disampaikannya dalam sambutan peringatan keselamatan berinternet 2025 di Jakarta.

Indonesia yang merupakan salah satu pengguna internet terbesar saja tidak bisa membedakan mana berita yang benar mana yang hoaks, di sisi lain menurut Indeks Speedtest Global, kecepatan internet Indonesia hanya sebesar 39,88 mbps dan untuk koneksi seluler mencapai rata-rata 45,01 Mbps, dengan kecepatan yang tergolong rendah itu menjadikan Indonesia sebagai internet terlambat kedua di ASEAN. Negara dengan internetnya yang lelet ternyata literasinya juga ikut lelet.

Rendahnya Minat Baca

Berdasarkan UNESCO, hanya terdapat 1 banding 1000 orang di Indonesia yang rajin membaca, walaupun begitu adanya data peningkatan signifikan pada tahun 2022 dan 2023 dari Perpustakaan Nasional (PERPUSNAS). Namun dari berbagai laporan nasional termasuk UNESCO dan Progame for International Students Assessment (PISA) menempatkan Indonesia pada peringat rendah dalam hal minat baca dan literasi.

Scroll Lancar, Literasi Macet

Terkadang kita bisa menemukan orang-orang dengan minat baca yang rendah di media sosial contohnya YouTube, pada kolom komentar jika ada yang memberikan pendapat yang cukup panjang, pasti balasannya “Panjang banget tulisannya, jadi males baca”. Banyak orang juga menerapkan baca cepat (skimming) tapi nggak paham sama isinya, hal ini membuktikan bahwa masih banyak dari masyarakat kita yang nggak bisa menyimpulkan suatu pembahasan ataupun bacaan secara sederhana.

Munculnya video-video pendek membuat orang-orang terbiasa dengan penyampaian informasi yang cepat, dengan beredarnya berita click bait dan informasi setengah benar, penyebarannya pun dengan cepat meluas. hal ini membuat banyak beredarnya berita hoaks di Indonesia dan orang dengan mudah percaya dengan berita yang beredar, terbukti bahwa bacaan favorit sekarang bukan lagi buku tapi akun gosip. Pada kurun waktu 21 Oktober 2024 hingga 17 Oktober 2025, tercatat terdapat 1.593 hoaks selama setahun pemerintahan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran oleh Antifitnah Indonesia atau Mafindo.

Dari Sekolah hingga Algoritma

Rendahnya tingkat literasi di Indonesia bisa disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah pendidikan yang masih berfokus pada hafalan dan bukan pemahaman, dengan begitu tidak adanya motivasi belajar yang mengakibatkan sulitnya mencapai keberhasilan belajar. keadaan lingkungan sekolah, kualitas serta fasilitas juga berpengaruh dalam meningkatkan minat membaca murid. Rendahnya minat murid membuat mereka beranggapan bahwa buku hanyalah beban tugas, bukan sumber yang seru.

Toko buku juga saat ini sulit ditemukan, mungkin kita bisa menemukannya di kota besar, tetapi di beberapa daerah toko buku jarang sekali ditemukan, sekalinya ada pun pengunjung jarang untuk datang. Tidak hanya itu, harga buku saat ini juga sedang naik, harga buku di dalam pulau jawa yang dikenal lebih murah daripada harga di luar pulau saja masih tergolong mahal di mana harga satu buku bisa mencapai Rp. 100.000 untuk buku bacaan fiksi.

Maraknya algoritma media sosial yang membuat orang nyaman dengan bacaan serta video yang ringan dan cepat menyebabkan literasi digital orang-orang menjadi rendah. Orang terbiasa untuk mencerna informasi secara langsung atau secara mentah-mentah tanpa memahaminya terlebih dahulu, sehingga tidak mengherankan orang-orang mudah percaya dengan berita hoaks.

Dampak yang Ditimbulkan karena Tidak Melek Isi

Minimnya literasi menjadikan orang kurang peka terhadap informasi serta wawasan yang ada, orang-orang tidak tertarik atau berminat membaca bacaan yang bermanfaat untuk kehidupan atau dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan orang lebih tertarik dengan suatu hal yang menurut mereka menarik saja.

Penggunaan internet serta minimnya literasi juga menyebabkan masalah, kebiasaan untuk berkomentar, memposting dan membagikan membuat hoaks dengan cepat tersebar. Alih-alih menyaring informasi yang ada, orang-orang justru semakin menyebarkannya yang membuat informasi semakin meluas dan menimbulkan peningkatan orang-orang yang percaya akan hoaks tersebut.

Dengan banyaknya hoaks yang beredar, orang-orang sulit untuk membedakan mana yang asli, mana yang palsu, mana yang opini dan mana yang fakta. Ditambah dengan kebiasaan orang Indonesia yang malas untuk mencari kebenaran suatu berita membuat keadaan semakin memburuk.

Munculnya perdebatan antar orang pada kolom komentar, orang yang hanya mempercayai satu sumber berita tidak akan percaya dengan mereka yang dianggap berbeda pendapat. Hal ini pastinya menimbulkan terjadinya perdebatan ataupun konflik pada kolom komentar. Mereka yang diberi informasi mengenai kebenaran juga cenderung tutup mata dan tidak menerima kebenaran yang ada.

Menimbulkan rendahnya empati dan berpikir kritis. Ketika ada kabar yang mewakili suatu perasaan, orang-orang cenderung akan membagikannya terlepas benar atau tidaknya suatu berita. Ketika seseorang mengetahui dirinya salah, ia malah mencari pembelaan serta pembenaran yang lain tanpa mau mengakui kesalahannya. 

Scroll Boleh, tapi Baca Juga Perlu Ditingkatkan

Terkadang kita tidak sadar saat scroll, informasi yang kita dapatkan itu sangat cepat. Dari satu waktu kita sudah mendapatkan banyak informasi, tetapi kita belum benar-benar memahaminya. Nggak ada yang salah dengan main sosmed, scroll itu boleh, asal nggak bacain komen sejam lebih tapi baca buku kurang dari lima menit.

Nggak perlu langsung baca buku dengan topik berat untuk meningkatkan literasi, cukup mulai dari baca artikel, berita, nonton video edukatif, ataupun baca buku kesukaan lima halaman sehari. Terkadang otak juga butuh istirahat dalam mencerna semua informasi yang ada, scroll memang kenceng, tapi literasi harus dikencengin juga.

© Sepenuhnya. All rights reserved.