Sein Kanan Belok Kiri: Fenomena Emak-Emak yang Bikin Jalan Raya Deg-degan

Fenomena sein kanan belok kiri menunjukkan betapa lemahnya budaya tertib di jalan. Menurut data Korlantas Polri, faktor manusia menyumbang lebih ...

Oleh Nuriyatin Fighya

Pagi itu jalanan sudah mulai padat. Klakson bersahutan, motor saling salip. Di depanku ada seorang ibu-ibu naik motor matic, rambutnya keluar dari bawah helm setengah kepala. Tiba-tiba, lampu seinnya nyala ke kiri. Aku bersiap mengerem. Eh, ibunya malah belok ke kanan. Nyaris saja aku menabrak. Dalam hati aku cuma bisa mengelus dada, “Ya Allah, sein nganan belok ngiri, kapan Indonesia siap disiplin berlalu lintas?”

Sein Kanan Belok Kiri

Fenomena emak-emak seperti ini bukan hal langka di jalan. Kadang mau belok, sein-nya ke arah lain. Kadang malah gak sein sama sekali. Mungkin buat sebagian orang, ini hal sepele. Tapi buat pengguna jalan lain, ini bisa bikin jantung serasa mau copot. Lampu sein bukan hiasan motor. Itu kode penting yang bisa menyelamatkan nyawa di jalan raya.

Aku jadi ingat kejadian lain yang nggak kalah unik. Suatu pagi waktu berangkat kuliah, aku melewati perempatan kecil di dekat kampus. Dari jauh kulihat emak-emak naik motor, tanpa helm, dengan kecepatan santai tapi penuh percaya diri. Lampu seinnya nyala ke kiri. Aku pikir dia mau menepi. Eh, tahu-tahu dia malah belok kanan, nyelonong di depan mobil. Mobil langsung berhenti mendadak. Si ibu cuma senyum, sambil nyeletuk, “Pie to, Mbak, mbok sing ngati-ati.” Lah, yang salah siapa, yang dimarahi siapa.

Kejadian semacam ini seolah sudah jadi budaya jalanan. Mungkin karena sebagian pengendara, terutama emak-emak, merasa lebih berhak atas jalan. Entah kenapa, mereka terlihat sangat yakin dengan keputusannya sendiri, meski kadang salah arah. Ada semacam kekuatan magis yang bikin pengendara lain memilih mengalah. Mungkin karena kalau sampai adu argumen, ujung-ujungnya kita yang disalahin.

Belum cukup sampai di situ. Pernah juga aku jalan kaki di trotoar. Lagi asik menikmati udara pagi, tiba-tiba ada suara knalpot mendekat dari belakang. “Awas, Mbak!” Aku reflek minggir. Kukira mobil, ternyata emak-emak lagi naik motor di trotoar. Sambil lewat, dia bilang, “Minggir, Mbak, bahaya lho di tengah gini.” Dalam hatiku cuma bisa ngomel, “Bu, ini trotoar, bukan jalan raya.” Yang jalan kaki malah disuruh minggir, yang bawa motor malah santai melintas di jalur pejalan kaki.

Fenomena motor naik trotoar bukan hal baru. Padahal, menurut Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993, trotoar diperuntukkan untuk pejalan kaki. Tapi nyatanya, banyak yang masih menganggap trotoar itu jalur alternatif kalau jalan macet. Ironisnya, mereka sering melintas sambil menegur orang yang benar-benar berjalan di trotoar. Dunia seolah terbalik: yang salah merasa benar, yang benar malah disingkirkan.

Belum lagi soal parkir sembarangan. Ada satu momen yang tak kalah bikin geleng kepala. Di depan minimarket, seorang bapak memarkir mobil di pinggir jalan sempit. Ia menyalakan lampu hazard dan turun dengan santai. Saat ditegur petugas parkir, jawabannya klasik, “Cuma sebentar, Mbak.” Lampu hazard seolah jadi simbol pembenaran. Padahal, menyalakan hazard bukan berarti kita boleh berhenti di mana saja. Lampu itu hanya untuk keadaan darurat, bukan alasan untuk beli pulsa lima menit.

Fenomena ini menunjukkan betapa lemahnya budaya tertib di jalan. Menurut data Korlantas Polri, faktor manusia menyumbang lebih dari 60 persen penyebab kecelakaan lalu lintas. Dari mulai melanggar lampu merah, salah sein, sampai berkendara tanpa memperhatikan keselamatan. Semua karena menganggap jalan raya sebagai “hak pribadi”, bukan ruang bersama.

Kalau ditelusuri, perilaku seperti ini bisa muncul dari banyak hal. Bisa karena kurangnya edukasi berlalu lintas, bisa juga karena ego. Banyak pengendara yang merasa pengalaman dan naluri lebih penting dari aturan. “Saya udah biasa lewat sini,” begitu kira-kira pembenarannya. Padahal, aturan dibuat bukan untuk orang yang “biasa”, tapi untuk semua orang agar aman.

Selain itu, ada juga faktor sosial yang tak bisa diabaikan. Emak-emak misalnya, sering terburu-buru antar anak sekolah, belanja, atau kerja. Waktu terbatas, pikiran bercabang, jadilah refleks berkendara asal cepat. Tapi apapun alasannya, keselamatan tetap nomor satu. Satu sein yang salah bisa berarti satu nyawa yang terancam.

Meski begitu, kita juga harus jujur: bukan cuma emak-emak yang salah. Banyak juga bapak-bapak, remaja, bahkan ojek online yang tidak kalah ngawur. Bedanya, fenomena emak-emak ini jadi lebih populer karena kesannya lucu sekaligus absurd. Tapi lucu bukan berarti bisa dimaklumi. Kalau terus dibiarkan, budaya abai ini bisa menular ke generasi berikutnya.

Jadi, lain kali kalau di jalan dan melihat emak-emak dengan sein ke kiri tapi belok kanan, mari tetap sabar. Tapi jangan berhenti di sabar. Edukasi dan tegur dengan sopan kalau memungkinkan. Karena perubahan budaya dimulai dari kesadaran kecil. Dari lampu sein yang benar, dari trotoar yang kembali jadi tempat berjalan kaki, dan dari lampu hazard yang digunakan sebagaimana mestinya.

Jalan raya adalah cermin masyarakat. Kalau di jalan saja kita tak bisa tertib, jangan heran kalau di ruang publik lain pun sulit disiplin. Mungkin sudah saatnya kita belajar kembali arti sederhana dari berkendara: hati-hati, saling menghargai, dan jangan seenaknya sendiri — meski cuma sein nganan tapi belok ngiri.

Biodata Penulis:

Nuriyatin Fighya saat ini aktif sebagai mahasiswa dan bisa disapa di Instagram @n.fghyaa

© Sepenuhnya. All rights reserved.