Sekolah sebagai Miniatur Kehidupan: Belajar Nilai Pancasila Sejak Dini ala John Dewey

Yuk lihat bagaimana nilai Pancasila dapat ditanamkan sejak PAUD melalui pengalaman nyata anak, bermain, bekerja sama, dan belajar hidup bersama.

Oleh Sofiah Nuurul Azizah

Di kelas PAUD anak-anak sering belajar dari peristiwa sederhana. Saat bermain balok, ada anak yang berebut, ada yang menunggu giliran di ruang dan ada yang membantu temannya. Guru tidak selalu menegur dengan aturan kaku, tetapi mengajak anak berbicara dan mencari solusi bersama. Dari pengalaman kecil inilah anak belajar berbagi, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab.

Bagi anak usia dini, belajar tidak terjadi melalui hafalan atau ceramah panjang. Anak belajar melalui pengalaman langsung. Sayangnya, Pendidikan Pancasila masih sering dipahami sebatas penyampaian nilai secara lisan, padahal anak belum mampu memahami konsep abstrak secara mendalam.

John Dewey dan Konsep Belajar Melalui Pengalaman

John Dewey, tokoh pendidikan progresif, memandang pendidikan sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri. Menurutnya, belajar tidak terjadi melalui hafalan, tetapi melalui keterlibatan aktif anak dalam pengalaman nyata. Konsep ini dikenal dengan istilah learning by doing. Anak belajar dengan melakukan, mencoba, dan berinteraksi dengan lingkungannya.

Sekolah sebagai Miniatur Kehidupan

Dewey juga menegaskan bahwa sekolah seharusnya menjadi miniatur masyarakat. Artinya, sekolah tidak boleh terpisah dari kehidupan sosial, melainkan mencerminkan realitas sosial yang sesungguhnya. Dalam lingkungan sekolah, anak belajar berinteraksi, memahami aturan, bekerja sama, serta menyelesaikan masalah bersama. Pemikiran ini sangat relevan dengan tujuan Pendidikan Pancasila di PAUD.

Menanamkan Nilai Gotong Royong Melalui Aktivitas Sehari-hari

Nilai gotong royong dapat ditanamkan melalui aktivitas sederhana yang dilakukan secara rutin. Ketika anak diajak merapikan mainan bersama, membersihkan kelas, atau bermain dalam kelompok, mereka belajar bahwa pekerjaan akan lebih mudah jika dilakukan secara bersama-sama.

Melalui kegiatan tersebut, anak juga belajar saling membantu dan peduli terhadap teman. Meskipun anak belum memahami istilah “gotong royong”, pengalaman tersebut telah menanamkan nilai kebersamaan dan persatuan. Nilai ini sejalan dengan sila ketiga “PERSATUAN INDONESIA” Pancasila yang menekankan pentingnya persatuan dalam kehidupan bermasyarakat.

Pendidikan Demokrasi dalam Keputusan Sederhana Anak

Pendidikan demokrasi juga dapat dimulai sejak usia dini. Demokrasi tidak harus diwujudkan dalam diskusi formal, tetapi dapat hadir dalam keputusan-keputusan kecil. Anak diajak memilih permainan bersama, menyepakati aturan kelas, atau menentukan giliran bermain. Ketika pendapat anak dihargai, ia belajar bahwa suaranya memiliki arti. Ketika ia belajar mendengarkan teman, ia sedang mempraktikkan sikap demokratis. Nilai sila keempat Pancasila pun tumbuh secara alami

Peran Guru Sebagai Fasiliator Pendidikan Nilai

Dalam pandangan John Dewey, guru memiliki peran penting sebagai fasilitator pembelajaran. Guru bukan pusat pengetahuan, melainkan pendamping yang menciptakan lingkungan belajar yang aman, demokratis, dan bermakna. Guru perlu peka terhadap pengalaman sehari-hari anak dan menjadikannya sebagai bahan pembelajaran nilai.

John Dewey menekankan bahwa pengalaman belajar harus relevan dengan kehidupan anak. Oleh karena itu, guru PAUD memiliki peran yang sangat penting. Guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi fasilitator yang menciptakan lingkungan belajar bermakna. Guru perlu peka terhadap momen-momen kecil yang dapat dijadikan pengalaman belajar nilai. Sebuah konflik kecil, kerja kelompok sederhana, atau aktivitas bermain bisa menjadi sarana pendidikan karakter yang kuat.

Keteladanan guru juga tidak kalah penting. Anak usia dini belajar banyak melalui peniruan. Sikap guru yang adil, sabar, dan menghargai perbedaan akan terekam kuat dalam diri anak. Dalam perspektif Dewey, pendidikan nilai tidak cukup diajarkan, tetapi harus dicontohkan. Guru yang memperlakukan semua anak dengan adil sedang mengajarkan keadilan sosial tanpa harus menjelaskannya secara teoritis.

Sekolah Sebagai Ruang Belajar Kehidupan

Sekolah sebagai miniatur kehidupan juga mengajarkan anak tentang tanggung jawab. Anak belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Ketika aturan disepakati bersama, anak belajar mematuhinya. Jika melanggar, guru membantu anak memahami akibat dari perbuatannya, bukan dengan hukuman keras, tetapi dengan dialog. Proses ini membantu anak membangun kesadaran moral secara bertahap, sesuai dengan tahap perkembangannya.

Di tengah tantangan zaman modern, pendidikan nilai menjadi semakin penting. Anak-anak tumbuh di era digital yang serba cepat dan individualistis. Tanpa fondasi nilai yang kuat, anak berisiko tumbuh tanpa kepekaan sosial. Pendidikan Pancasila berbasis pengalaman ala John Dewey menawarkan jawaban atas tantangan ini. Anak tidak hanya dikenalkan pada nilai, tetapi dibiasakan untuk hidup bersama orang lain secara harmonis.

Melalui pendekatan ini, pendidikan tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi sebagai proses yang menyenangkan dan bermakna. Anak belajar sambil bermain, belajar sambil hidup. Pancasila tidak hadir sebagai teks yang jauh dari kehidupan anak, tetapi sebagai nilai yang mereka rasakan setiap hari di sekolah.

Pada akhirnya, pendidikan anak usia dini bukan tentang mencetak anak yang paling pintar secara akademik, melainkan membentuk manusia seutuhnya. Dengan menjadikan sekolah sebagai miniatur kehidupan, sebagaimana dikemukakan John Dewey, pendidikan Pancasila dapat ditanamkan sejak dini secara alami dan berkelanjutan. Anak-anak inilah yang kelak tumbuh menjadi generasi yang beradab, peduli, dan mampu hidup bersama dalam keberagaman

Kesimpulan

Melalui pengalaman belajar yang bermakna, nilai Pancasila tumbuh sebagai kebiasaan. Sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi ruang kehidupan sosial bagi anak. Dengan menjadikan sekolah sebagai miniatur kehidupan.

Referensi:

  1. Dewey, J. (1916). Democracy and Education. New York: The Free Press.
  2. Dewey, J. (1938). Experience and Education. New York: Macmillan Publishing.
  3. Suyanto, S. (2017). Pendidikan Anak Usia Dini: Konsep dan Praktik Pembelajaran. Jakarta: Kencana.

Biodata Penulis:

Sofiah Nuurul Azizah saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah & Keguruan, Prodi Pendidikan Anak Usia Dini.

© Sepenuhnya. All rights reserved.