Solo, Tempat Slow Living Terbaik di Jawa Tengah

Tanpa hingar-bingar, tanpa stres berlebih, Solo menawarkan hidup yang nyaman. Yuk intip alasan kenapa kota ini bikin orang betah tanpa sadar.

Oleh Nuriyatin Fighya

Solo mungkin tidak pernah mempromosikan diri sebagai kota slow living, tapi siapa pun yang pernah tinggal di sini pasti paham betapa pelannya ritme hidup kota ini. Tenang, teduh, murah, dan tidak pernah membuat warganya merasa tergesa-gesa. Di antara kota-kota Jawa Tengah yang penuh hiruk pikuk, Solo berdiri sebagai tempat paling pas buat berhenti sebentar, bernapas lebih pelan, dan mengingat bahwa hidup tidak harus selalu dikejar-kejar.

Solo adalah kota yang sering dipuji kalem, murah, dan manusiawi, tapi jarang sekali ada yang menyebutnya kota slow living. Padahal kalau dipikir lagi, gaya hidup warga Solo itu jauh lebih santai dibanding kota-kota besar tetangganya. Solo berjalan pelan, tapi tidak pernah benar-benar stagnan. Seolah kota ini sengaja disetel pada mode “hemat tenaga tapi tetap hidup”.

Solo, Tempat Slow Living Terbaik di Jawa Tengah

Kota ini kecil, tapi isinya lengkap. Nyaman, tapi tidak membosankan. Murah, tapi tidak murahan. Begitulah Solo: kota yang tidak berusaha menarik perhatian, tapi justru bikin banyak orang betah tanpa sadar.

Teduh, Lapang, dan Punya Angin Sore yang Menenangkan

Salah satu daya tarik Solo ada pada suasananya. Jalan-jalannya teduh, banyak pepohonan, dan jarang membuat warganya merasa “gagal napas” seperti di kota-kota besar. Di sepanjang Slamet Riyadi, Sudiarto, sampai Kleco, angin sore bisa lewat dengan santai seperti warga lokal: pelan, adem, nggak suka bikin drama.

Kalau di kota lain pulang kerja rasanya ingin ngamuk karena macet, pulang kerja di Solo justru bikin pengin naik sepeda santai. Lalu berhenti beli es tung-tung di pinggir jalan. Hidup terasa lebih sederhana dan bisa dinikmati pelan-pelan.

Lengkap seperti Kota Besar, tapi Ritmenya Tetap Manusia

Solo itu unik. Kota ini punya mall, bioskop, tempat nongkrong kekinian, coffee shop berdesain minimalis, bahkan coworking space di gang-gang kecil. Tapi meskipun lengkap, ritme hidupnya tetap manusiawi. Tidak ada kejar-kejaran ritme kerja ala Jakarta. Tidak ada antrean absurd seperti di Jogja saat liburan.

Apa pun bisa kamu dapat, tapi tanpa harus bergelut dengan stres kota megapolitan. Mau nonton film? Ada. Mau belanja pernak-pernik? Ada. Mau nongkrong murah tanpa was-was lihat saldo? Sangat bisa.

Ruang Hijau dan Tempat Tenang Ada di Mana-Mana

Butuh kabur sebentar dari rutinitas? Solo menyediakan banyak ruang tanpa perlu perjalanan panjang. Ada Taman Balekambang yang selalu adem buat duduk sambil menata pikiran. Ada koridor Ngarsopuro yang hidup saat malam minggu. Mau lihat hewan sambil healing? Tinggal ke Jurug. Mau dapat suasana desa yang tenang? Sepuluh menit naik motor sudah masuk Boyolali atau Karanganyar yang udaranya lebih segar.

Kota ini kecil, tapi punya banyak pintu keluar ke ketenangan.

Kuliner Murah yang Bikin Hidup Terasa Baik-Baik Saja

Solo adalah kota di mana satu porsi makan enak masih bisa dibayar tanpa perlu memikirkan cicilan. Ada sate kere, serabi Notosuman, tengkleng, selat Solo, sampai deretan wedangan yang seperti tidak ada habisnya.

Kamu bisa nongkrong dua jam, makan gorengan, tambah teh hangat dua kali, dan tetap pulang tanpa merasa menyalahi perencanaan keuangan. Makanan di kota ini mengajarkan bahwa hidup yang damai itu juga soal harga yang ramah.

Kota Budaya yang Tidak Agresif ke Wisatawan

Solo memiliki aura budaya yang kuat, tapi tidak menuntut pengunjung datang dalam jumlah ribuan setiap minggu. Ada Keraton Kasunanan, Mangkunegaran, Gedung Wayang Orang Sriwedari, Loji Gandrung, Benteng Vastenburg, dan museum-museum kecil yang tenang.

Semua bisa dinikmati santai, tanpa harus menyikut orang demi foto instagramable.

Aman, Akrab, dan Warganya Ramah

Salah satu hal paling slow living dari Solo adalah atmosfer sosialnya. Lingkungannya akrab, warganya ramah, dan interaksi sehari-harinya tenang. Tidak banyak berita kriminal besar, tidak banyak keramaian tak perlu. Solo itu kota yang cukup, pas, dan tidak berlebihan.

Begitulah Solo. Kota yang tidak pernah mengaku slow living, tapi menjalani hidup pelan-pelan dengan wajar. Kota yang membuat warganya merasa nyaman tanpa harus membuktikan apa-apa. Dan mungkin, di tengah hidup yang makin cepat, Solo adalah salah satu tempat terbaik untuk berhenti sebentar dan bernapas lebih panjang.

Tertarik mencoba hidup tenang di sini?

Biodata Penulis:

Nuriyatin Fighya saat ini aktif sebagai mahasiswa dan bisa disapa di Instagram @n.fghyaa

© Sepenuhnya. All rights reserved.