Teman Tapi Mesra, Hubungan Abu-Abu Favorit Gen Z

Teman tapi mesra terasa hangat sekaligus membingungkan. Yuk, pahami dinamika TTM, kenyamanannya, dan luka yang sering tersembunyi di dalamnya.

Teman Tapi Mesra, Hubungan Abu-Abu Favorit Gen Z

“Kita ini apa sebenarnya?”

“Kita teman, tapi kok chat-an tiap hari?”

“Nggak pacaran, tapi kenapa cemburu waktu dia dekat sama orang lain?”

Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul tiba-tiba, biasanya saat malam sudah terlalu sunyi dan notifikasi ponsel justru makin ramai. Kalau kamu pernah memikirkannya, bisa jadi kamu sedang berada di satu fase yang cukup akrab di kalangan Gen Z: Teman Tapi Mesra.

Hubungan ini tidak pernah diawali dengan pengakuan. Tidak ada tanggal jadian, tidak ada status yang diumumkan. Tapi entah kenapa, ada rasa nyaman yang tumbuh perlahan. Chat mengalir hampir setiap hari, perhatian hadir tanpa diminta, dan kedekatan terasa nyata, meski tidak pernah diberi nama.

Teman Tapi Mesra (TTM) sebenarnya bukan hal baru. Namun, di tangan Gen Z, hubungan ini seperti menemukan bentuknya sendiri. Generasi yang tumbuh bersama media sosial, story Instagram, dan pesan singkat tengah malam ini punya cara berbeda dalam memaknai kedekatan. Mereka ingin dekat, tapi tidak terikat. Ingin ditemani, tapi tanpa beban. Ingin merasa aman, tapi tidak mau terkurung oleh label yang terasa kaku.

Dan dari situlah TTM muncul pelan-pelan, tanpa deklarasi, tanpa kepastian.

Kenapa Teman Tapi Mesra Terasa Menyenangkan?

Ada satu alasan utama kenapa banyak orang betah menjalani hubungan ini: kebebasan. Dalam Teman Tapi Mesra, kamu bebas menjadi diri sendiri. Bebas ngobrol dengan siapa saja, bebas pergi tanpa harus memberi laporan, bebas tertarik pada orang lain tanpa rasa bersalah. Tidak ada janji yang harus ditepati, karena sejak awal memang tidak pernah ada janji yang dibuat.

Selain itu, TTM terasa minim drama. Tidak ada tuntutan “kok lama balas chat?”, tidak ada marah karena lupa ngabarin, tidak ada konflik soal prioritas. Kalau lagi sibuk, ya dimengerti. Kalau menghilang sebentar, dianggap wajar. Semuanya terasa ringan, seolah tidak ada yang perlu diperdebatkan.

Yang paling menyenangkan, kamu tetap punya seseorang yang selalu ada. Tempat cerita saat hari terasa berat. Tempat mengeluh tentang hal-hal kecil yang tidak penting bagi orang lain. Tempat pulang secara emosional, meski tanpa kata “pacar”.

Rasanya hangat. Aman. Sederhana.

Dan mungkin, itulah yang membuat banyak orang jatuh terlalu dalam tanpa sadar.

Tapi Kenapa TTM Sering Berakhir Menyakitkan?

Masalahnya bukan pada konsepnya, melainkan pada perasaan manusia yang tidak bisa diatur sesederhana aturan.

Awalnya biasa saja. Chat karena nyaman. Perhatian karena peduli. Tapi lama-lama, tanpa disadari, muncul harapan kecil. Mulai bertanya dalam hati, “Kalau aku dekat sama orang lain, dia bakal cemburu nggak ya?” atau “Kenapa aku sedih waktu dia cerita tentang orang lain?”

Di titik itu, Teman Tapi Mesra mulai berubah. Hubungan yang katanya bebas justru terasa menyesakkan. Yang dulu ringan, sekarang penuh pertanyaan.

Yang lebih menyakitkan, sering kali hanya satu pihak yang terbawa perasaan. Sementara yang lain masih merasa ini sekadar persahabatan yang akrab. Dari situlah rasa cemburu, kecewa, dan keinginan akan kepastian mulai tumbuh padahal tidak ada status yang bisa ditagih.

Pelan-pelan, muncul pertanyaan yang semakin dalam:

“Aku ini apa buat dia?”

“Cuma teman, atau sekadar pelarian?”

“Atau aku hanya tempat pulang sementara saat dia lelah?”

Jadi, Lebih Baik TTM atau Pacaran?

Tidak ada jawaban yang paling benar.

Teman Tapi Mesra bisa menjadi pilihan jika dua-duanya benar-benar sepakat, sama-sama sadar batas, dan sama-sama siap untuk tidak berharap lebih. Namun jujur saja, itu tidak mudah. Karena perasaan jarang mau patuh pada kesepakatan logis.

Jika kamu tipe yang mudah baper, mudah berharap, dan butuh kepastian, TTM mungkin bukan tempat yang aman. Sebaliknya, jika kamu sedang ingin fokus pada diri sendiri dan hanya butuh teman berbagi tanpa komitmen, hubungan ini bisa terasa nyaman.

Yang paling penting adalah jujur pada diri sendiri. Jangan bertahan di hubungan abu-abu hanya karena takut kehilangan, sementara hatimu perlahan lelah sendirian.

Karena pada akhirnya, hubungan apa pun bentuknya seharusnya membuat kita merasa tenang, bukan terus-menerus bertanya, “Aku ini siapa di hidupmu?”

Biodata Penulis:

Avira Flora Astia Zuliana saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Sebelas Maret.

© Sepenuhnya. All rights reserved.