Tukang Parkir: Sosok Misterius yang Selalu Muncul di Waktu yang Tepat

Dua ribu rupiah, peluit, dan kemunculan tak terduga. Yuk simak potret sederhana kehidupan perkotaan yang terasa akrab dan nyata.

Oleh Alissa Salwa Ramadhani

Pernah nggak sih kamu mengalami kejadian ini: ketika kamu baru saja selesai dari urusan, mau jalan ke motor atau mobil, menyalakan mesin, lalu entah dari mana tiba-tiba ada tukang parkir muncul dengan rompi oranye yang seperti punya kekuatan teleportasi. Ketika kamu datang, mereka tidak ada. Sebaliknya, saat kamu mau pergi, mereka tiba- tiba muncul entah dari mana.

Tukang Parkir

Kejadian seperti ini sudah menjadi bagian dari kehidupan perkotaan di Indonesia. Mulai dari minimarket, tempat fotokopi, rumah makan, di pinggir jalan, sampai dengan depan kampus, tukang parkir selalu punya insting tajam soal waktu. Mereka tau kapan kamu datang, kapan kamu ingin pergi, dan tentu saja, tahu kapan momen yang pas buat menagih uang parkir.

Munculnya Tak Pernah Terduga

Sering kali kita bertanya: “Tadi dia di mana, ya?”

Kita bisa parkir lima belas menit tanpa melihat satu pun bayangan tukang parkir. Tapi begitu kunci motor diputar ke posisi “ON” tanpa diduga sudah ada tukang parkir yang seolah muncul dari dimensi lain, entah sejak kapan dia sudah berdiri di samping, meniup peluit dengan percaya diri.

Beberapa orang bilang bahwa tukang parkir itu punya radar bawaan. Begitu mendengar suara mesin menyala, mereka langsung bergerak dengan cepat untuk membantu memundurkan motor dan menunggu uang parkir yang akan diberikan.

Gaya dan Jurus Andalan

Setiap tukang parkir memiliki gaya khas mereka masing-masing. Ada yang sopan, dengan gaya lambaian tangan yang terampil terlihat seperti professional, seolah sedang mengatur lalu lintas dalam film aksi. Ada juga yang santai, hanya menunjukkan arah menggunakan dua jari dengan wajah yang malas sambil terus bermain HP. Bahkan ada juga yang bekerja dengan sangat tertib. Dia yang mengatur semua kendaraan, dengan peluitnya yang ditiup tiga kali untuk pertanda kapan kendaraan harus maju atau mundur.

Belum lagi cara mereka membantu memundurkan kendaraan. Kadang mereka kelihatan begitu bersemangat, seolah ingin memastikan semuanya segera selesai secepat mungkin, sampai-sampai kamu bingung yang ingin cepat pulang siapa sebenarnya, kamu atau dia.

Tapi ada juga tukang parkir yang “minimalis”, dengan hanya berdiri diam tidak membantu mengeluarkan atau mengarahkan kendaraan, lalu begitu kendaraan keluar mereka langsung berkata “Dua Ribu, Mbak.” Kata-kata tersebut seolah sudah menjadi mantra sakral parkiran di Indonesia.

Negosiasi Receh yang Tak Pernah Usai

Momen yang paling sering terjadi saat ingin membayar parkir adalah mencari uang receh.

Kadang kamu hanya punya selembar uang cash seratus ribu, tapi tarif parkirnya dua ribu. Saat itulah kesabaran mulai diuji. Jika tukang parkir sedang baik hati, ia akan berkata “Gak apa apa, mbak, langsung aja” tapi kalau sedang galak, kamu mungkin akan mendapatkan tatapan sinis dari mereka yang seolah berkata “Masa iya gak punya receh?”

Tapi lucunya, walaupun sering bikin kita ngelus dada, banyak tukang parkir yang sebenarnya tulus. Mereka biasanya memberi penutup pada jok motor pada siang hari agar saat kita menaiki motor keadaan jok tidak panas, kadang mereka juga bantuin dorong motor yang mogok, bahkan ngasih tau kalau ada kaca yang belum ditutup. Dalam diam, mereka punya tanggung jawab kecil yang bikin tempat parkir menjadi lebih teratur dan cukup untuk menampung beberapa kendaraan.

Tanpa Mereka, Parkiran Jadi Sepi

Coba bayangkan kalau semua tukang parkir yang ada di sekitar kita mendadak menghilang. Kita pasti akan kesusahan mencari tempat parkir yang kosong dan bingung harus parkir di mana, siapa yang membantu mengeluarkan motor, dan siapa yang akan memberi lambaian tangan setiap kali kita mau jalan. Mungkin kita akan merasa lebih bebas, tapi juga merasa lebih sepi. Karena sekecil apapun interaksi kita dengan tukang parkir akan tetap menjadi bagian dari kehidupan kota yang penuh warna.

Mereka yang Muncul di Saat yang Tepat

Jadi, meskipun sering dijadikan bahan bercandaan, tukang parkir sebenarnya menunjukkan gambaran kecil dari realita. Orang orang yang bekerja di tengah kesibukan kota dengan cara mereka sendiri. Mereka mungkin tidak punya kantor, tidak juga memakai seragam rapi, dan sering muncul tiba-tiba, tapi kehadirannya selalu terasa.

Dan mungkin dalam kehidupan ini kita semua sebenanya juga mirip seperti tukang parkir, selalu berusaha hadir di waktu yang tepat walaupun kadang dari tempat yang tak terduga.

Biodata Penulis:

Alissa Salwa Ramadhani saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Sebelas Maret. Penulis bisa disapa di Instagram @alissaasalwaaa

© Sepenuhnya. All rights reserved.