Umbul Pengging: Wisata Air yang Membuktikan Boyolali Masih Punya Sumber Mata Air Sejernih Dulu

Yuk telusuri Umbul Pengging di Boyolali, mata air bersejarah yang menyimpan kisah peradaban, spiritualitas, dan ketenangan.

Oleh Nuriyatin Fighya

Boyolali sering dikenal lewat branding “Kota Susu”, tapi sebenarnya ada satu ikon yang jauh lebih tua dari reputasi sapi perah: Umbul Pengging, kolam mata air yang sejak abad ke-9 menjadi saksi peradaban di kawasan Pengging. Banyak orang datang ke sana hanya untuk mandi atau foto-foto, padahal tempat ini punya narasi panjang tentang air, sejarah, dan bagaimana sebuah desa bertahan menjaga sumber kehidupan.

Umbul Pengging

Kejernihan airnya bukan sekadar estetika wisata. Ini bukti bahwa Pengging masih menyimpan sistem hidrologi yang relatif stabil. Dalam beberapa tahun terakhir, kita sering dengar kabar kekeringan melanda kawasan sekitar Merapi–Merbabu. Namun, di tengah ancaman itu, Umbul Pengging tetap mengalir—menandakan bahwa konservasi mata air masih berjalan, setidaknya di titik ini. Warga setempat, para juru kunci, serta pengelola desa wisata punya peran besar menjaga ekosistemnya agar tidak rusak oleh over-tourism.

Umbul Pengging juga punya aspek historis yang tidak kalah menarik. Di masa Kerajaan Pajang dan Mataram, tempat ini digunakan sebagai petirtaan para bangsawan. Relasi antara air dan spiritualitas Jawa sangat melekat di sini. Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk menyegarkan badan, tapi juga merasakan atmosfer “nenepi” yang disukai para peziarah. Ada ketenangan yang membuat orang betah berendam sambil hilir-mudik memandang pepohonan besar yang mengelilingi area kolam.

Namun wisata di Umbul Pengging tidak selamanya romantis. Tantangan terbesarnya justru terletak pada modernisasi. Semakin banyak orang datang berarti semakin besar tekanan terhadap ekosistem mata air. Sampah plastik, sabun, hingga sedimentasi bisa merusak kejernihan yang selama ratusan tahun menjadi kebanggaan daerah. Untungnya, warga dan pengelola mulai menerapkan sejumlah aturan, seperti pembatasan area mandi, imbauan tidak memakai sabun, serta peningkatan pengawasan kualitas air.

Kekuatan Umbul Pengging terletak pada kesederhanaannya. Ia tidak mencoba menjadi tempat wisata “wah” sebagaimana tempat hits Instagram yang sering viral. Yang dijual adalah kesegaran, keheningan, dan kontinuitas sejarah. Justru tiga hal itulah yang membuatnya tetap hidup di tengah persaingan antarwisata modern.

Di era ketika konten visual mendominasi perilaku wisatawan, Umbul Pengging menawarkan sesuatu yang berbeda: pengalaman alam yang apa adanya. Kita datang, berendam, diam, dan pulang dengan tubuh lebih ringan. Tidak perlu spot foto warna-warni, tidak perlu dekorasi buatan. Cukup air yang jernih dan suasana desa yang tenang.

Jika Boyolali ingin mempertahankan identitas ekologisnya, menjaga Umbul Pengging adalah langkah paling strategis. Tempat ini bukan hanya destinasi wisata, tetapi “laboratorium alam” yang menunjukkan bahwa sumber air bisa tetap jernih selama manusia tidak serakah. Dan untuk para pengunjung, mungkin ini saatnya kita belajar menjadi lebih peka: menikmati alam tanpa meninggalkan beban untuk generasi berikutnya.

Biodata Penulis:

Nuriyatin Fighya saat ini aktif sebagai mahasiswa dan bisa disapa di Instagram @n.fghyaa

© Sepenuhnya. All rights reserved.