Aceh masih belum baik-baik saja.

Anak Jalanan, Luka Kota Yang Tak Pernah Ditangani Hingga Tuntas

Di balik megahnya Jakarta, masih ada anak jalanan yang terpinggirkan. Yuk simak realitas sosialnya dan ikut berpikir tentang solusi berkelanjutan.

Oleh Putri Adelia

Perkembangan kota yang pesat sering dipandang sebagai simbol kemajuan. Salah satu contohnya adalah kota Jakarta yang sering dianggap sebagai simbol kemajuan Indonesia. Gedung-gedung tinggi, transportasi modern, jalan layang, dan pusat perbelanjaan yang tersebar di berbagai sudut kota Jakarta seolah menjadi bukti bahwa kota ini terus berkembang. Kegiatan ekonomi di kota hampir tak pernah berhenti, baik siang maupun malam, yang menunjukan kehidupan kota yang dinamis. Namun, di balik kemajuan Jakarta, masih ada masalah sosial yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah keberadaan anak jalanan. Kehadiran mereka di lampu merah, stasiun, terminal, hingga trotoar menunjukan bahwa pembangunan belum benar-benar dirasakan oleh semua kalangan masyarakat.

Anak Jalanan

Keberadaan anak jalanan di Jakarta berkaitan erat dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat kota. Biaya hidup yang mahal, sulitnya mencari pekerjaan, serta banyaknya pendatang yang datang ke Jakarta membuat sebagian keluarga hidup dalam keadaan sulit. Dalam kondisi seperti ini, peran anak sering kali menjadi pihak yang terkena dampaknya. Banyak dari mereka yang akhirnya turun ke jalan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga atau sekadar untuk bertahan hidup. Karena itu, masalah anak jalanan seharusnya dilihat sebagai masalah bersama, bukan hanya menyalahkan anak atau keluarganya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kemiskinan di wilayah perkotaan masih menjadi masalah yang nyata, termasuk di wilayah Jakarta. Pada tahun 2023, jumlah penduduk miskin di Jakarta berada di kisaran 4% (Badan Pusat Statistik, 2023). Walaupun persentasenya terlihat rendah dibandingkan daerah lain, tetapi jumlah tersebut sebenarnya cukup besar karena Jakarta memiliki penduduk yang sangat padat. Kondisi tersebut berdampak langsung pada mereka yaitu anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, seperti pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Selain itu, Kementerian Sosial Republik Indonesia mencatat bahwa banyak anak jalanan berasal dari keluarga yang bekerja di sektor informal dengan penghasilan yang tidak tetap. Keadaan ekonomi yang sulit tersebut, membuat anak harus ikut turun ke jalan untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga (Kementerian Sosial RI, 2022).

Di tengah kondisi tersebut, anak jalanan sering kali mendapat pandangan negatif dari masyarakat. Mereka sering dianggap mengganggu ketertiban atau membuat suasana tidak nyaman di tempat umum. Padahal, menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia, anak jalanan termasuk kelompok yang sangat rentan mengalami kekerasan, eksploitasi, dan pelanggaran hak anak. Ketika masyarakat bersikap tidak peduli dan memilih menghindari anak-anak jalanan, justru itu membuat anak-anak ini semakin kehilangan rasa yang aman untuk tumbuh dan berkembang secara wajar (KPAI, 2022).

Upaya penanganan di Jakarta sampai saat ini masih menghadapi banyak kendala. Penertiban yang dilakukan di beberapa titik kota biasanya hanya bersifat sementara dan belum menyentuh penyebab utamanya. Anak-anak jalanan yang terjaring razia biasanya dibina atau dipulangkan ke keluarganya, tetapi tanpa pendampingan yang berkelanjutan, banyak dari mereka akhirnya kembali ke jalanan. Dinas Sosial DKI Jakarta juga mengakui bahwa tekanan ekonomi keluarga serta kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar menjadi alasan utama mengapa masalah anak jalanan terus berulang dari waktu ke waktu (Dinas Sosial DKI Jakarta, 2022).

Melihat kondisi tersebut, penanganan anak jalanan perlu dilakukan dengan cara yang lebih serius dan berkelanjutan. Mengandalkan penertiban saja tidak akan cukup untuk menyelesaikan masalah ini. Harus ada upaya lain, seperti membantu perekonomian keluarga, membuka kesempatan pendidikan yang lebih luas bagi anak, serta memberikan pendampingan sosial secara konsisten. Kementerian Sosial juga menyampaikan bahwa rehabilitasi sosial yang berbasis keluarga penting agar anak memiliki tempat aman untuk kembali. Jika keluarga mendapatkan dukungan yang nyata, anak-anak tidak perlu lagi menghadapi kerasnya kehidupan di jalan sejak usia dini (KementErian Sosial RI, 2022).

Selain peran pemerintah, masyarakat Jakarta juga memiliki peran penting dalam menyikapi masalah anak jalanan. Kehidupan kota yang serba cepat sering membuat kepedulian terhadap orang sekitar semakin berkurang. Padahal rasa empati dan keterlibatan masyarakat sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi anak. Hal ini sejalan dengan pandangan Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang menekankan bahwa dukungan lingkungan dan kepedulian sosial dapat membantu melindungi anak dari eksploitasi, sekaligus memberi kesempatan bagi mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih layak (KPAI, 2022).

Keberadaan anak jalanan di Jakarta menunjukan bahwa masih ada masalah sosial di kota ini yang belum ditangani dengan tuntas. Selama masih ada anak yang harus menjalani kehidupan di jalanan untuk bertahan hidup, pembangunan kota belum bisa dikatakan adil bagi semua orang. Kota yang maju seharusnya tidak hanya dilihat dari gedung-gedung tinggi dan fasilitas yang megah, tetapi juga dari bagaimana kota tersebut mampu melindungi dan menjamin masa depan anak-anak. Jika penanganan dilakukan dengan lebih serius, berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak, masalah ini perlahan bisa diatasi agar Jakarta benar-benar menjadi kota yang ramah dan manusiawi bagi seluruh warganya.

Biodata Penulis:

Putri Adelia saat ini aktif sebagai Mahasiswa Kesejahteraan Sosial di Universitas Muhammadiyah Jakarta.

© Sepenuhnya. All rights reserved.