Oleh Nafisa Alya Jingga
Asma adalah penyakit pernapasan yang berlangsung secara terus-menerus dan sering dialami oleh banyak orang, termasuk anak-anak dan orang dewasa. Penyakit ini terjadi karena terjadi peradangan di saluran pernapasan, sehingga menyebabkan jalan napas menyempit dan aliran udara terganggu. Akibatnya, penderita asma sering merasa sesak napas, batuk terus-menerus, mengeluarkan suara mengi, serta merasa berat di dada. Gejala-gejala asma bisa muncul mendadak dan biasanya diakibatkan oleh berbagai hal, seperti debu, asap rokok, udara dingin, aktivitas fisik yang berlebihan, atau infeksi saluran pernapasan.
Pada penderita asma, saluran pernapasan lebih mudah bereaksi terhadap hal-hal yang biasanya tidak menimbulkan masalah bagi orang sehat. Saat terkena pemicu, otot di sekitar saluran napas akan mengencang, dinding saluran mengalami pembengkakan, dan terdapat peningkatan produksi lendir. Hal ini menyebabkan saluran napas menjadi sempit dan membuat penderita kesulitan bernapas. Meskipun asma tidak bisa dihilangkan seluruhnya, penyakit ini bisa dikelola dengan pengobatan yang tepat dan penggunaan obat secara teratur.
Salah satu obat yang sering digunakan untuk mengatasi asma secara jangka panjang adalah Seretide Diskus. Obat ini berupa semprotan napas yang mengandung dua bahan aktif, yaitu fluticasone propionate dan salmeterol. Fluticasone berfungsi mengurangi peradangan di saluran napas, sedangkan salmeterol membantu membuka saluran napas secara bertahap dan terus-menerus. Seretide Diskus digunakan setiap hari untuk menjaga agar gejala asma tidak muncul kembali dan tetap terkendali.
Obat ini tidak ditujukan untuk meredakan serangan asma yang terjadi secara mendadak. Setelah menggunakan Seretide Diskus, penderita dianjurkan untuk berkumur guna mencegah iritasi mulut dan infeksi jamur. Selain obat pengontrol, penderita asma juga memerlukan obat pereda yang digunakan saat serangan muncul. Salah satu obat pereda yang umum digunakan adalah Berotec. Berotec mengandung fenoterol, yaitu bronkodilator kerja cepat yang mampu merelaksasi otot polos saluran napas sehingga sesak napas dapat berkurang dalam waktu singkat.
Berotec biasanya digunakan ketika penderita mulai merasakan gejala seperti sesak atau mengi. Obat ini sangat penting sebagai pertolongan pertama saat serangan asma terjadi. Namun, penggunaan Berotec yang terlalu sering dapat menjadi tanda bahwa asma tidak terkontrol dengan baik dan perlu evaluasi lebih lanjut oleh tenaga kesehatan.
Seretide Diskus dan Berotec memiliki peran yang berbeda tetapi saling melengkapi dalam pengobatan asma. Seretide Diskus berfungsi sebagai obat pengontrol yang digunakan secara rutin untuk mencegah peradangan dan kekambuhan, sedangkan Berotec digunakan sebagai obat pereda cepat untuk mengatasi serangan asma yang muncul secara tiba-tiba.
Dengan penggunaan obat yang tepat dan sesuai anjuran dokter, penderita asma dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman dan aman. Pengelolaan asma yang baik tidak hanya membantu mengurangi gejala, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup penderita secara keseluruhan.
Biodata Penulis:
Nafisa Alya Jingga saat ini aktif sebagai Mahasiswa Farmasi di Universitas Binawan.