Banjir bukan Hanya Sekadar bencana Alam, tapi Alarm Krisis Lingkungan

Hujan memang turun, tetapi banjir bisa dicegah. Yuk simak faktor mengapa kolaborasi masyarakat dan pemerintah menjadi kunci solusi berkelanjutan.

Oleh Audi Cahyaningtias

Bencana alam adalah ketika sesuatu yang besar dan buruk terjadi, menyebabkan kerusakan dan berdampak pada banyak orang yang membutuhkan bantuan. Banjir adalah bencana alam yang umum terjadi di Indonesia. Hujan lebat adalah penyebab utama terjadinya banjir. Apakah hal ini terjadi hanya karena faktor alam saja atau ada faktor sosial juga di dalamnya? Lalu siapa yang harus bertanggung jawab? Tindakan manusia juga dapat membuat banjir menjadi lebih parah. Salah satu contohnya adalah penggundulan hutan. Terkadang, bukan hanya alam yang menyebabkan banjir, manusia sebenarnya juga bisa mewujudkannya, yang bahkan mengakibatkan dampak yang lebih parah daripada faktor alam itu sendiri.

Banjir

Kadang-kadang kita berpikir kita tidak bisa menghindari bencana alam seperti banjir karena bencana tersebut dianggap hanya ulah alam. Namun jika kita menggali lebih dalam, kita akan menemukan bahwa banyak tindakan kita sehari-hari, seperti membuang sampah, menebang pohon tanpa menanam pohon baru, dan mengacaukan lahan tanpa perencanaan yang tepat, semuanya menyebabkan banjir. Tidak semua orang paham bahwa tindakan ini bisa sangat mengganggu keseimbangan alam dalam jangka panjang. Jadi, semua orang terlibat, masyarakat dan pemerintah harus benar-benar peduli dan bertanggung jawab untuk menjaga lingkungan kita agar tetap aman. Kita harus bekerja sama untuk mengatasi hal ini sehingga kita dapat menjaga risiko terjadinya banjir, tidak hanya untuk keuntungan hari ini, namun juga untuk masa yang akan datang, dan bukan untuk kepentingan diri sendiri melainkan untuk kepentingan bersama.

Hampir setiap tahun di Indonesia kita dilanda banjir. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Indonesia mengalami 3.233 bencana alam. Bencana alam yang terjadi pada tanggal 1 Januari hingga 31 Desember 2025, jika kita melihat lebih dekat jenis-jenis bencana, banjir menempati urutan teratas dengan jumlah kejadian sebanyak 1.652 kejadian, atau merupakan 51.10% dari seluruh bencana di negara ini, dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.

Banyak rumah terendam air, jalanan berantakan, sulit mendapatkan air bersih, kebutuhan masyarakat terhambat, masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, dan lebih parahnya banyak nyawa melayang. Banjir bukan hanya sekadar bencana alam, hal-hal ini merupakan dampak buruk yang nyata terhadap masyarakat dan kesehatan mental mereka, ditambah lagi hal ini melemahkan kemampuan masyarakat untuk bangkit kembali, sehingga memberikan dampak yang paling berat bagi kelompok rentan.

Dampak besar banjir tidak lepas dari hal-hal sosial dan lingkungan yang saling berkaitan. Selain curah hujan yang tinggi, perilaku manusia yang merusak lingkungan dan mengabaikan fungsi alam juga menjadi penyebab terjadinya banjir, seperti pembangunan permukiman di bantaran sungai, penebangan hutan secara liar, dan kebiasaan membuang sampah sembarangan. Faktor-faktor penyebab banjir tersebut juga mengakibatkan dampak sosial yang terjadi setelah banjir itu mereda, masyarakat harus menghadapi berbagai persoalan seperti kerusakan tempat tinggal, masalah kesehatan, kehilangan keluarga, trauma psikologis, anak-anak yang kehilangan akses pendidikan sementara waktu, dan keluarga dengan penghasilan rendah menjadi semakin rentan. Dampak sosial ini dapat menimbulkan permasalahan sosial pada masyarakat yang kurang mendapatkan bantuan.

Nurdin dan Abrori (2006) berpendapat bahwa peran adalah pola perilaku normatif yang diharapkan dalam kedudukan (status) tertentu. Dengan demikian, untuk menangani permasalahan banjir, pemerintah harus benar-benar turun tangan dalam mencegah dan menanggulangi banjir. Pemerintah harus siap menangani bencana apa pun yang akan datang, melakukan pengawasan dengan lebih terorganisir. Seperti mengawasi perubahan lahan, melakukan pengarahan tentang cara mencegah dan menanggulangi bencana, membuat sistem untuk memperingatkan kita akan banjir sejak dini, dan mengatakan tidak pada rencana apa pun yang dapat merugikan lingkungan kita. Karena setiap keputusan “kurang tepat” yang diambil sama dengan sedikit demi sedikit menggerogoti alam, dan keharmonisan masyarakat. Pemerintah harus menjadi tempat yang tepat untuk rasa percaya yang masyarakat miliki, bukan sebaliknya. Apa yang diungkapkan, yang dijanjikan harus dibuktikan dengan baik ketika turun ke lapangan.

Tidak hanya pemerintah, masyarakat juga memiliki peran yang sama pentingnya dalam menangani masalah ini, kesadaran atas apa yang sudah dan akan dilakukan sangat diperlukan, untuk mengukur apakah hal tersebut dapat atau tidak menjadi penyebab terjadinya banjir. Kesadaran juga harus ditanamkan sejak dini, mengedukasi untuk tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan sungai, melakukan penghijauan, mencegah penebangan liar, serta perlakuan apapun yang dapat menyebabkan banjir terjadi, karena yang sama-sama kita ketahui bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Dengan demikian keterlibatan seluruh lapisan masyarakat sangat diperlukan.

Banjir bukan hanya sekadar bencana alam, melainkan cerminan dari hubungan manusia dan lingkungan, jika kita masih beranggapan bahwa banjir adalah kesalahan alam, maka manusia sedang menutup mata terhadap perannya sendiri dalam menciptakan bencana, dan akhirnya masalah banjir akan terus berulang tanpa adanya solusi yang berkelanjutan. Dengan demikian, kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya banjir dan menekan dampaknya, sehingga tidak lagi menjadi ancaman serius bagi kesejahteraan sosial masyarakat.

Biodata Penulis:

Audi Cahyaningtias saat ini aktif sebagai Mahasiswa Kesejahteraan Sosial, di Universitas Muhammadiyah Jakarta.

© Sepenuhnya. All rights reserved.