Ambowetan, 1944. Tanah Pemalang itu masih diselimuti embun beku tradisi, di mana setiap langkah kehidupan diukur oleh keteguhan dogma lama. Di sinilah, di rahim sebuah desa yang tanahnya tak pernah kering dari sentuhan para ulama pendahulu, seorang anak laki laki lahir dengan nama yang sudah memuat takdirnya: Munawwar, Sang Cahaya.
Ayunan tangan ayahnya, KH. Muhyiddin, bukan hanya menggarap ladang, tetapi juga menanam benih-benih tauhid di relung jiwa Munawwar. Sejak kecil, ia telah membawa keistimewaan yang tidak dimiliki saudara-saudaranya. Ia cerdas, ia berani, dan yang paling membara, ia memiliki cita-cita yang tinggi untuk menjadi mercusuar di tengah kegelapan minimnya ilmu agama. Cita-cita itu membawanya pada sebuah janji sunyi: tidak akan kembali sebelum bejana ilmunya penuh.
Janji itu ditepati, bukan dalam hitungan tahun biasa, melainkan dalam rentang waktu yang menakjubkan tiga puluh tahun. Rembang, Jawa Timur, menjadi saksi bisu penempaan jiwanya. Tiga dasawarsa. Jangka waktu itu bukan sekadar penanda lama menetap, melainkan sebuah manifestasi dari dahaga ilmu yang tak pernah terpuaskan.
Di tengah rutinitas pesantren yang ketat, Kiai Munawwar tenggelam dalam laku spiritual yang melampaui batas. Ia bukan hanya santri yang terdepan dalam mutala'ah (mengulang pelajaran), tetapi juga seorang pejalan sunyi yang memilih jalan tirakat ekstrem: puasa sunnah tanpa henti, diselingi qiyamul lail yang tidak pernah putus. Tubuhnya kurus, pakaiannya sederhana, namun di mata batinnya, ia sedang melipat jarak antara Ambowetan dan Baghdad, antara bumi dan langit. Ia melakukan puasa empat puluh hari empat puluh malam, sebuah persembahan agung yang ditujukan agar ilmu yang ia serap menjadi berkah, manfaat, dan mampu menembus batas dimensi duniawi.
Mereka berkata, ilmu yang Barokah harus direbut dengan pengorbanan yang Barokah pula.
Maka, ketika Sang Cahaya akhirnya kembali ke kampung halaman dengan dada penuh ilmu dan punggung yang membawa warisan karomah termasuk kisah-kisah perjalanan ruhani menuju Syekh Abdul Qodir Al-Jailani di tengah malam buta Ambowetan tak lagi sama. Dengan keikhlasan yang kokoh, ia mendirikan Pondok Pesantren Miftakhul Huda, ‘Tempat Munculnya Petunjuk’, mengubah wajah Ulujami yang konservatif menjadi Kota Santri.
Ini adalah kisah tentang Kiai Munawwar. Kisah tentang kegigihan seorang hamba yang memilih jalan sunyi untuk menjadi gembala bagi umatnya, menjadikan keteladanan sebagai kitab, dan tirakat sebagai jembatan menuju ilmu yang abadi.
Benih di Tanah Religius
Desa Ambowetan, Kecamatan Ulujami, Pemalang, pada tahun 1944 bukanlah sekadar hamparan sawah dan rumah-rumah kayu. Ia adalah sebuah benteng tradisi yang memegang teguh ajaran leluhur, sebuah tempat di mana cahaya ilmu Islam telah tertanam kuat di tengah hiruk pikuk masa penjajahan yang hampir usai. Di tengah suasana yang kondusif untuk tumbuh kembang spiritual, namun terkadang masih terikat pada dogma-dogma kuno yang perlu direformasi, lahirlah seorang anak laki-laki yang dinamai Munawwar. Ia adalah putra kedua dari pasangan yang amat disegani di kawasan itu: KH. Muhyiddin, seorang tokoh agama dengan kedalaman ilmu yang diakui, dan ibundanya, Hj. Sudarsih. Dari silsilahnya, Munawwar membawa warisan istimewa; ia adalah keturunan para ulama yang telah menyebarkan panji-panji Islam di Ambowetan, menjadikannya pewaris langsung dari sebuah tradisi keagamaan yang kuat dan tak lekang oleh zaman. Keluarga mereka bukan hanya pemeluk agama, tetapi tiang penyangga yang menjaga agar cahaya Islam terus bersinar di desa tersebut.
Masa kecil Munawwar dihabiskan dalam sebuah dualitas yang membentuk karakternya. Di satu sisi, ia adalah anak desa biasa yang mengenyam pendidikan formal di Sekolah Rakyat (SR), di mana kecerdasannya bersinar terang, mengungguli rekan-rekan sebayanya. Namun, pendidikan yang paling membekas adalah yang ia dapatkan setelah matahari terbenam. Di bawah bimbingan langsung Ayahandanya, KH. Muhyiddin yang sehari-hari berprofesi sebagai petani untuk menghidupi keluarga, namun tak pernah luput dari tugasnya sebagai pengajar Munawwar dengan tekun mengaji. Setiap malam, hanya ditemani cahaya lampu minyak yang berkedip di atas tumpukan kitab kuning, Munawwar menyerap ilmu-ilmu keislaman, mulai dari dasar-dasar tata bahasa Arab hingga seluk-beluk fiqih. Dari Ayahnya pulalah, Munawwar mulai memupuk cita-cita yang tinggi, sebuah impian yang melampaui batas desa kecil mereka: untuk memperdalam ilmu agama hingga ke akar-akarnya dan kelak mendirikan lembaga pendidikan yang dapat menjadi mercusuar bagi umat, menyebarkan petunjuk di tengah kegelapan kebodohan.
Tekad Munawwar untuk menempuh jalan kesalehan dan keilmuan semakin diperteguh oleh sebuah wasiat yang tak lekang oleh waktu dari orang tuanya. Ayahnya sering berujar bahwa ilmu harus diutamakan di atas segala-galanya, bahkan di atas kebutuhan perut.
"Bekalmu adalah ilmu, Nak, bukan uang saku," kira-kira demikian pesan yang selalu digaungkan. Pesan ini bukan sekadar filosofi kosong, melainkan sebuah bekal spiritual dan mental yang nyata ketika tiba saatnya bagi Munawwar untuk meninggalkan kenyamanan rumah demi mengembara mencari ilmu. Pada usia yang masih belia, didorong oleh keberanian yang besar dan keyakinan teguh akan berkah dari menuntut ilmu, Munawwar membuat sebuah keputusan besar: ia harus meninggalkan Ambowetan untuk nyantri di pesantren yang lebih besar. Keputusan ini menunjukkan mentalitas yang kokoh, siap menghadapi segala risiko, keterbatasan, dan kesulitan hidup di perantauan demi memuaskan dahaga akan ilmu pengetahuan. Langkah awal ini, pelepasan diri dari tanah kelahiran, adalah penanda dimulainya sebuah perjalanan spiritual yang akan mengubah tak hanya nasibnya, tetapi juga nasib ribuan santri di masa depan yang akan ia bina.
"Bekal sejati bukanlah harta, melainkan istiqomah dalam ilmu dan keikhlasan dalam berkhidmat."
Samudra Ilmu dan Tirakat Batin (Pengembaraan di Pesantren)
1. Tiga Dekade di Rembang: Menggali Kedalaman Ilmu
Udara Rembang, Jawa Timur, terasa berbeda dari kehangatan Ambowetan. Di sinilah, di salah satu pesantren besar yang menjadi jantung keilmuan, Munawwar muda menjejakkan kakinya, membawa serta bekal spiritual dari sang ayah dan janji teguh untuk mendahulukan ilmu di atas segala-galanya. Kedatangannya bukanlah untuk sekadar singgah, melainkan untuk menetap, untuk menggali sedalam dalamnya lautan ilmu yang terhampar di hadapannya. Secara fisik, ia hanya membawa pakaian seadanya dan tekad yang membaja, tetapi secara batin, ia membawa etos kerja yang melampaui rata-rata santri lainnya.
Munawwar tidak hanya nyantri selama beberapa tahun; ia mendedikasikan tiga dekade, hampir separuh usianya saat itu, untuk menjadi seorang santri. Tiga puluh tahun adalah waktu yang luar biasa panjang, rentang waktu di mana sebagian besar temannya telah kembali ke kampung halaman, menikah, atau mendirikan pondok sendiri. Namun, bagi Munawwar, proses menuntut ilmu adalah sebuah maraton tanpa garis akhir. Ia dikenal sebagai santri teladan yang memiliki etos belajar yang gila: ia jarang tidur nyenyak, memanfaatkan setiap jeda waktu untuk mengulang pelajaran, dan selalu siap sedia dalam majelis, meskipun kondisi kehidupannya sangatlah sederhana. Keberadaannya di Rembang menjadi monumen hidup bagi ketahanan mental dan spiritual, membuktikan bahwa kecerdasan harus diimbangi dengan ketekunan yang tak tertandingi.
2. Tirakat yang Melampaui Batas: Disiplin Spiritual Ekstrem
Ketekunan Munawwar tak hanya terlihat di kelas atau di depan kitab kuning; ia menjalar hingga ke ranah spiritual yang paling pribadi. Di lingkungan pesantren yang sudah ketat disiplinnya, ia bahkan menerapkan standar tirakat yang jauh lebih ekstrem pada dirinya sendiri. Puasa sunnah menjadi rutinitas harian, hampir tak pernah terputus, seolah tubuhnya hanya membutuhkan sedikit energi untuk bertahan hidup, menyisakan sebagian besar energinya untuk menyerap dan menghafal.
Puncak dari disiplin spiritualnya adalah qiyamul lail, atau shalat malam. Saat gubuk-gubuk santri lainnya terlelap dalam keheningan dini hari, Munawwar sudah berdiri di atas sajadah. Dinginnya malam dan kantuk yang menyerang ia lawan dengan zikir dan lantunan ayat-ayat suci. Ini bukan sekadar ibadah rutin, melainkan sebuah dialog batin yang konsisten. Dalam setiap sujudnya, ia memohon satu hal kepada Tuhan: agar ilmu yang ia pelajari, setiap kata, setiap bab, menjadi berkah dan bermanfaat bagi seluruh umat. Sikap zuhud atau melepaskan diri dari keterikatan duniawi juga ia terapkan secara total, baik dalam pakaian, makanan, maupun kenyamanan. Baginya, khidmah (melayani) guru dan pondok adalah kehormatan tertinggi, sebuah jalan pintas menuju keberkahan ilmu yang tidak dapat dibeli dengan harta.
3. Menguasai Khazanah Keilmuan: Seorang Ahli di Berbagai Disiplin
Dedikasi tak kenal lelah Munawwar membuahkan hasil yang gemilang: penguasaan keilmuan yang holistik dan mendalam. Ia tidak memilih satu bidang spesialisasi, melainkan merangkul seluruh khazanah ilmu agama. Lembar demi lembar kitab kuning ia taklukkan. Ia menguasai Fiqih (hukum Islam) dengan detail yang presisi, menjadikannya seorang ahli dalam menetapkan hukum-hukum ibadah dan muamalah. Ia menaklukkan Nahwu dan Sharaf (tata bahasa Arab) yang terkenal rumit, membuka kunci-kunci untuk memahami teks-teks klasik tanpa keraguan.
Tak hanya ilmu formal, ia juga mendalami Tasawwuf, ilmu penyucian jiwa, yang menjadi dasar dari semua tirakat batinnya. Bahkan, ia dikenal memiliki keahlian khusus dalam ilmu Falaq (astronomi Islam), sebuah disiplin yang menuntut ketelitian matematis tinggi dalam menentukan arah kiblat dan waktu-waktu ibadah. Keberhasilan Munawwar dalam menguasai begitu banyak disiplin ilmu ini menjadikannya bukan sekadar ulama, tetapi seorang mutafannin (ahli di berbagai bidang), siap untuk kembali dan memancarkan petunjuk (seperti arti namanya, Munawwar, 'cahaya') bagi masyarakat yang telah menantikannya. Tiga puluh tahun pengembaraan ini adalah proses penempaan yang mengubahnya dari benih menjadi pohon ilmu yang siap berbuah.
"Ilmu yang berkah harus direbut dengan pengorbanan yang melampaui batas nalar, sebab cahaya petunjuk hanya mampir pada jiwa yang gigih."
Memancarkan Petunjuk (Pendirian Pondok Miftakhul Huda)
1. Kembali dan Tanggung Jawab: Janji yang Terpenuhi
Setelah tiga puluh tahun tenggelam dalam lautan ilmu di Rembang, Munawwar yang kini telah digelari Kiai kembali ke Ambowetan. Kepulangannya bukan sekadar akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari sebuah tugas suci yang jauh lebih besar. Desa yang dulu ia tinggalkan sebagai seorang bocah lugu, kini ia datangi sebagai seorang mutafannin, sang ahli ilmu. Namun, tugas pertama yang menanti bukanlah segera mendirikan madrasah, melainkan membangun rumah tangga. Ia menikah dengan Nyai Salamah dari Wonopringgo, yang kelak menjadi rekan setia dalam perjuangan dakwahnya.
Kehidupan barunya segera berhadapan dengan realitas di kampung halaman. Ayah mertuanya, yang juga seorang tokoh agama, telah wafat, meninggalkan sebuah warisan berupa langgar sebuah mushola kecil yang menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Kiai Munawwar tidak melihat ini sebagai beban, melainkan sebagai tongkat estafet. Ia memanggul tanggung jawab untuk meneruskan dakwah yang telah dirintis, menjadikan langgar sederhana itu sebagai batu pijakan pertamanya.
2. Miftakhul Huda Lahir: Dari Langgar Glinding Menjadi Mercusuar
Tahun-tahun awal kepulangan Kiai Munawwar adalah masa penuh kesederhanaan dan perjuangan. Didorong oleh anjuran kuat dari gurunya di Rembang, dukungan tanpa batas dari istrinya, serta permintaan yang mendesak dari masyarakat yang mendambakan pencerahan, pada tahun 1960-an, ia merealisasikan niat sucinya: mendirikan Pondok Pesantren Miftakhul Huda, yang secara harfiah berarti "Tempat Munculnya Petunjuk." Nama itu adalah harapan, doa, dan janji. Awalnya, Miftakhul Huda jauh dari citra pesantren megah. Bangunannya hanyalah sebuah "pondok panggung" atau yang sering disebut santri sebagai "langgar glinding," sebuah struktur kayu yang sangat sederhana, minim fasilitas, namun penuh berkah. Kesederhanaan fisik itu justru menarik santri santri awal, yang datang bukan karena kemewahan, melainkan karena kehausan akan ilmu yang murni.
3. Etos Santri Khidmat: Pendidikan dengan Keringat dan Keikhlasan
Model pendidikan yang diterapkan Kiai Munawwar mencerminkan kondisi zaman dan karakternya yang zuhud. Ia memahami bahwa banyak santri yang datang berasal dari keluarga tidak mampu. Oleh karena itu, ia menerapkan sistem yang unik: santri datang tanpa modal materi, tetapi dengan modal tenaga dan keikhlasan. Di siang hari, mereka menjalani khidmah, bekerja membantu masyarakat desa bertani, berkebun, atau membantu pekerjaan rumah tangga sebagai bentuk pengabdian dan untuk mencari nafkah. Sistem ini mengajarkan kemandirian dan etos kerja keras, sekaligus menumbuhkan ikatan yang erat antara pesantren dan masyarakat.
Barulah ketika Maghrib tiba, cahaya ilmu mulai benderang. Jadwal belajar mengajar diatur dengan sangat intensif: setelah Maghrib, setelah Isya’, dan di penghujung malam, setelah Subuh. Suara-suara hafalan dan kajian kitab memenuhi Langgar Glinding, menggantikan sunyi desa. Ini adalah proses belajar yang keras, menuntut disiplin waktu, mental, dan fisik yang luar biasa. Kiai Munawwar sendiri menjadi teladan, mengajar dengan penuh kesabaran, memastikan setiap santri tidak hanya hafal, tetapi juga memahami kedalaman ilmu yang terkandung. Perjuangan ini, yang dimulai dari sepetak tanah dan sebuah langgar sederhana, perlahan mulai mengubah wajah Ulujami. Keberadaan Kiai Munawwar dan Miftakhul Huda, dengan etos keilmuan dan sosialnya, tak butuh waktu lama untuk menarik perhatian santri dari daerah-daerah lain seperti Tegal, Brebes, Pekalongan, hingga Jawa Barat.
4. Transformasi Kota Santri: Ulujami yang Memancarkan Cahaya
Seiring bertambahnya jumlah santri, yang datang berbondong-bondong dari berbagai penjuru, Miftakhul Huda mulai berkembang melampaui batas batas Langgar Glinding. Pondok kayu sederhana itu harus diperluas, kamar-kamar baru didirikan, dan tatanan keorganisasian pesantren mulai terbentuk secara alami. Berkat kehadiran dan karisma Kiai Munawwar, serta pengaruh pesantren yang semakin meluas, Ulujami, Pemalang, yang tadinya hanya desa pesisir biasa, perlahan dikenal luas sebagai "Kota Santri." Ini adalah puncak dari realisasi cita-cita masa kecil Munawwar; ia tidak hanya membawa pulang ilmu untuk dirinya sendiri, melainkan telah menanamkan pohon besar yang memayungi dan menerangi ribuan jiwa dengan petunjuk Allah. Cahaya Munawwar, sesuai namanya, kini benar-benar memancar, mengukir Ulujami di peta pendidikan Islam Nusantara.
"Jangan pernah takut kekurangan, karena keuntungan duniawi itu hanya bayangan, tetapi keberkahan Allah adalah hakikat."
Kharisma dan Karomah (Puncak Spiritual dan Keteladanan)
1. Kepribadian Sang Kiai: Cahaya yang Merunduk
Setelah Miftakhul Huda berdiri kokoh di atas Langgar Glinding yang sederhana, Kiai Munawwar tidak berubah. Justru, cahaya (Munawwar) yang terpancar dari dirinya semakin merunduk. Beliau adalah perwujudan sejati dari ilmu yang diamalkan. Meskipun telah diakui sebagai mutafannin dengan wawasan keilmuan yang luas, ketawadukan (kerendahan hati) beliau adalah jubah yang paling sering dikenakan. Istiqomah menjadi denyut nadinya; setiap hari, rutinitas ibadah beliau berjalan seperti air yang mengalir di sungai yang sama. Jauh sebelum azan Subuh berkumandang, suara lirih munajat sudah terdengar dari kamar beliau, menembus dinginnya malam Ulujami. Qiyamul lail dan Shalat Dhuha tak pernah luput, seolah beliau tak mampu memulai hari tanpa berdialog mesra dengan Sang Pencipta.
Suatu sore, seorang kiai muda dari kota tetangga datang, merasa gentar. Ia membawa masalah organisasi yang rumit.
"Maafkan hamba, Kiai. Saya bingung harus mengambil keputusan apa untuk yayasan kami. Setiap pilihan terasa mengandung risiko besar," ujar Kiai muda itu, menunduk di hadapan Kiai Munawwar yang hanya duduk bersila di tikar bambu. Kiai Munawwar tersenyum lembut, senyum yang membawa ketenangan.
"Nak, cobalah lihat masalah itu dari dua mata: mata logika dan mata batin. Logika memberimu pilihan untung-rugi. Mata batin memberimu petunjuk tentang niat dan keberkahan. Jangan pernah takut rugi selama niatmu lurus. Keuntungan duniawi itu hanya bayangan, keberkahan Allah itu hakikat."
Kiai muda itu mendongak, matanya berkaca-kaca. "Nasehat Kiai sungguh ringkas, tapi menembus hati. Terima kasih, Kiai."
Itulah Munawwar: tegas dalam pendirian agama, namun santun dalam memberikan petunjuk.
2. Puncak Riyadhah: Puasa Empat Puluh Hari
Namun, di balik ketawadukan itu, tersimpan kisah riyadhah (latihan spiritual) yang ekstrem, yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekat. Kiai Munawwar pernah mencapai puncak tirakatnya dengan menjalankan puasa selama empat puluh hari empat puluh malam. Bukan sekadar puasa menahan lapar dan haus dari Subuh hingga Maghrib, tetapi puasa total tanpa asupan makanan dan minuman sedikit pun, sebuah praktik yang diyakini hanya dapat dilakukan oleh jiwa-jiwa terpilih.
Keputusan ini diambil bukan karena ambisi pribadi, melainkan demi pondoknya. Suatu malam, ia memanggil putra tertuanya.
"Nak, Ayah harus memastikan, bahwa setiap butir ilmu yang diajarkan di Miftakhul Huda ini, mulai dari sekarang hingga ke masa depan, adalah ilmu yang barokah dan manfaat. Bukan hanya teori di kepala, tetapi cahaya di hati," kata Kiai Munawwar dengan suara berat.
"Doakan Ayah agar kuat. Puasa ini adalah permohonan kita kepada Allah, agar petunjuk ini benar-benar kekal."
Puasa itu dijalani dalam kesunyian, menguji batas fisik dan mentalnya, tetapi setiap tetes keringatnya adalah permohonan keikhlasan. Setelah empat puluh hari usai, beliau keluar dari ruangannya bukan sebagai orang yang lemah, tetapi sebagai seseorang yang telah disucikan, membawa aura keyakinan bahwa janji barokah itu telah dipegang.
3. Karomah Thoyyul Ardh dan Tayy al-Makan: Kehadiran yang Melampaui Batas
Setelah melalui penempaan spiritual yang luar biasa ini, kisah-kisah di sekitar Kiai Munawwar mulai berembus, melampaui logika biasa. Santri-santri yang bertugas menjaganya mulai menyaksikan keanehan yang mereka sebut karomah. Santri Umar, yang paling sering melayani beliau, sering kali mendapati tempat tidur Kiai sudah dingin pukul dua belas malam, padahal setengah jam sebelumnya ia masih melihat gurunya membaca kitab.
Suatu malam, Umar beranikan diri bertanya, sambil membereskan peralatan mengaji.
"Kiai, maafkan kelancangan hamba. Kadang, hamba tak menemukan Kiai di kamar tengah malam. Apakah Kiai sedang di mushola?"
Kiai Munawwar hanya tersenyum samar, menatap langit-langit pondok yang gelap.
"Umar, setiap ulama memiliki rujukan utama, tempat di mana mereka memperbarui janji. Bagi Ayah, itu adalah Baghdad. Adakalanya, kita harus memastikan bahwa ilmu yang kita ajarkan ini selaras dengan para Aulia di sana, terutama dengan Syekh Abdul Qodir Al Jailani. Hati ini harus selalu terhubung."
Jawaban itu, yang menyiratkan perjalanan ruhani (Thoyyul Ardh, melipat bumi) ke Baghdad setiap tengah malam, membuat Umar merinding.
Karomah itu semakin nyata ketika suatu ketika, seorang tamu dari Semarang datang.
"Kami sangat terkesan, Kiai. Tausiyah Kiai di pengajian akbar kami semalam sungguh luar biasa. Ribuan orang menangis," kata tamu itu dengan antusias di serambi pondok.
Santri Umar, yang saat itu membuatkan teh, terdiam kaku. Ia ingat betul, semalam suntuk Kiai Munawwar berada di Miftakhul Huda, memimpin diskusi Fiqih di Langgar Glinding hingga menjelang Subuh. Bagaimana mungkin beliau mengisi pengajian di Semarang, yang jaraknya ratusan kilometer, pada waktu yang sama? Inilah Tayy al-Makan, anugerah kehadiran di dua tempat, yang menunjukkan kedekatan beliau dengan dimensi spiritual yang tak terjangkau akal.
4. Peran Sosial dan Panutan Umat
Di mata masyarakat, Kiai Munawwar bukan hanya seorang wali dengan karomah, melainkan juga seorang pemimpin yang nyata. Beliau menjabat sebagai Pimpinan Cabang NU di daerahnya, menempatkan dirinya sebagai benteng tradisi dan penyeimbang sosial. Kediaman beliau menjadi wadah penyelesaian masalah, mulai dari perselisihan rumah tangga hingga sengketa tanah yang rumit. Dalam setiap keputusan, beliau selalu menyuntikkan prinsip keadilan dan keberkahan. Kharisma beliau adalah perpaduan antara keilmuan tinggi, kesalehan pribadi, dan peran aktif dalam membimbing umat. Beliau adalah panutan, mercusuar yang sinarnya tidak hanya menerangi Miftakhul Huda, tetapi seluruh Ulujami, mengukuhkan statusnya sebagai tokoh sentral yang tak tergantikan.
"Ketawadukan adalah jubah terindah bagi seorang alim; semakin tinggi ilmu, semakin merunduk jiwanya."
Warisan Abadi (Wafat dan Penerus Perjuangan)
1. Detik-Detik Husnul Khatimah: Ujian Terakhir
Tahun 2012, Ulujami diliputi kecemasan yang mendalam. Kiai Munawwar, sang mercusuar yang sinarnya tak pernah redup, kini terbaring lemah. Fisiknya yang telah ditempa oleh puasa puluhan tahun dan tirakat ekstrem, kini diuji oleh sakit diare parah yang menggerogoti. Kelemahan jasmani itu sungguh kontras dengan kekuatan spiritual yang masih membungkus beliau. Bahkan dalam kondisi paling rapuh sekalipun, ketenangan tak pernah meninggalkan wajah beliau. Ketika para santri dan keluarga bergantian menjaganya dengan hati pilu, beliau tetap memancarkan aura ikhlas.
Di salah satu malam terakhirnya, Kiai Mahmudi, putra bungsu yang kini bersiap memikul beban estafet, mendekatkan wajahnya. Ia memegang tangan sang Ayah yang terasa dingin.
"Abah," panggil Mahmudi dengan suara tertahan.
"Apakah ada pesan terakhir untuk kami, untuk Miftakhul Huda?"
Kiai Munawwar, dengan napas yang semakin berat, membuka mata sejenak. Matanya yang biasanya tajam dan penuh petunjuk kini memancarkan kedamaian yang mendalam. Beliau hanya mampu berbisik, namun bisikannya terasa menggema di ruangan itu.
"Jaga... jaga cahaya itu. Istiqomah... di atas segalanya. Jangan pernah takut kekurangan, karena Dia Maha Kaya. Teruslah mengajar... teruslah berkhidmat..."
Kelemahan fisik itu mencapai puncaknya menjelang fajar di suatu pagi yang hening. Keluarga dan santri inti berkumpul, melantunkan ayat-ayat suci. Tiba-tiba, mata Kiai Munawwar terbuka lebar, senyum tipis senyum kemenangan terukir di bibirnya. Seluruh ruangan sunyi menanti isyarat. Dan kemudian, dengan seluruh sisa kekuatan yang ada di jiwanya, beliau menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskan kata terakhirnya dengan lantang dan tegas, memenuhi ruangan dengan gema keagungan:
"Allahu Akbar!"
Seketika, tubuh itu menjadi tenang, dingin, dan damai. Kiai Munawwar telah menuntaskan perjalanan spiritualnya, kembali kepada Sang Kekasih dalam kondisi husnul khatimah (akhir yang baik), diiringi dengan kalimat takbir yang menjadi penutup paling agung bagi seorang pejuang sejati.
2. Pulang ke Pesantren: Keabadian di Tanah Wakaf
Berita duka itu menyebar bak api di padang rumput, melintasi desa, kota, hingga ke pelosok pelosok Jawa. Ribuan santri, alumni, kiai, dan masyarakat berbondong-bondong datang ke Miftakhul Huda. Suasana haru dan kehilangan tak terhindarkan, namun juga diselimuti kekaguman atas kesalehan beliau. Mereka mengantar jenazah sang kiai bukan ke pemakaman umum, melainkan ke jantung pesantren yang telah beliau dirikan dengan keringat dan doa: di area kompleks Pondok Pesantren Miftakhul Huda sendiri.
Pemakaman Kiai Munawwar di tengah-tengah lingkungan pesantren adalah simbol yang kuat. Beliau tidak pernah meninggalkan Miftakhul Huda; beliau hanya berganti alam, dan jasadnya kini menjadi penjaga spiritual bagi lembaga yang ia cintai. Pusara beliau segera bertransformasi menjadi tempat tabarruk (mencari berkah), inspirasi, dan pengingat abadi bagi alumni yang datang berziarah. Mereka datang, duduk di dekat makam, memanjatkan doa, seolah-olah masih meminta petunjuk langsung dari sang guru.
3. Penerus Cahaya: Estafet Misi Pendidikan
Sepeninggal Kiai Munawwar, tugas suci itu berada di pundak Kiai Mahmudi, putra terakhir beliau. Beban yang dipikulnya sangatlah berat, menggantikan seorang sosok yang karismanya nyaris tak tertandingi. Namun, Kiai Mahmudi berpegang teguh pada wasiat Ayahnya: istiqomah dalam mengajar dan berkhidmat. Ia memahami bahwa warisan sejati Ayahnya bukanlah pada bangunan, melainkan pada sistem pendidikan dan keberkahan ilmu.
Di bawah kepemimpinan Kiai Mahmudi, Miftakhul Huda tidak hanya mempertahankan tradisi salafiyah (kitab kuning), tetapi juga beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Salah satu langkah terpentingnya adalah mendirikan Madrasah Diniyah yang lebih terstruktur untuk mengembangkan pendidikan formal di pesantren. Langkah ini menjamin bahwa cahaya yang dibawa Kiai Munawwar tidak hanya menerangi hati santri, tetapi juga mencerdaskan akal mereka dalam menghadapi tantangan modern.
4. Haul sebagai Pengingat: Siklus Keabadian
Meskipun jasad Kiai Munawwar telah beristirahat, kehadirannya tetap terasa kuat melalui tradisi tahunan. Setiap bulan Syawal, Pondok Pesantren Miftakhul Huda menjadi pusat perayaan besar: Haul (peringatan wafat) beliau, Harlah (Hari Lahir) Pondok, dan Halal Bihalal akbar.
Alumni dari seluruh penjuru datang, membanjiri Ulujami. Dalam majelis yang dihadiri ribuan orang itu, Kiai Mahmudi selalu mengingatkan:
"Kita berkumpul di sini bukan untuk meratapi kehilangan, tetapi untuk memperbarui janji kita kepada Allah dan kepada almarhum Abah. Haul ini adalah pengingat bahwa cahaya Munawwar tidak pernah padam. Ia telah meninggalkan kita peta, berupa ilmu dan keteladanan. Tugas kita adalah berjalan lurus di atas peta itu!"
Melalui tradisi ini, siklus spiritual pun berlanjut. Kiai Munawwar bin Muhyiddin telah tiada, tetapi cahaya Miftakhul Huda yang beliau nyalakan, didorong oleh tirakat empat puluh hari dan Allahu Akbar di detik terakhirnya, akan terus menyinari Ulujami, mengukuhkan kisah beliau sebagai warisan abadi yang tak lekang oleh waktu.
"Warisan abadi seorang pejuang bukanlah bangunan, melainkan peta ilmu dan keteladanan untuk generasi penerus."
Sumber Referensi:
- Wawancara langsung dan dokumentasi pribadi dengan H.M. Zarkoni (kerabat terdekat KH. Munawwar), 1 Desember 2025.
Biodata Penulis:
Nikmatul Mazidah lahir pada tanggal 21 Februari 2005 di Pemalang. Ia menempuh pendidikan menengah pertama di lingkungan religius, termasuk di MTS Walisongo Ulujami. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di tingkat menengah atas di SMA Syubbanul Wathon yang berada di kompleks Pondok API Asri Tegalrejo, Magelang. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan tinggi di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, terus mendalami ilmu dan keilmuan.