Oleh Afreza Feba Duantara
Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, telah ditangkap oleh Angkatan Darat Amerika Serikat dalam sebuah operasi militer skala besar yang diberi kode nama "Operation Absolute Resolve" pada Sabtu dini hari, 3 Januari 2026. Operasi tersebut melibatkan serangan koordinat terhadap fasilitas militer Venezuela dan penyergapan presiden di ibu kota Caracas. Maduro dan istrinya, Cilia Flores, kini ditahan di Metropolitan Detention Center di Brooklyn, New York, menghadapi dakwaan federal terkait narkoterorisme dan perdagangan narkoba.
Kronologi Operasi
Operasi penangkapan dimulai ketika Presiden Trump memberikan persetujuan pada pukul 22.46 EST pada 2 Januari 2026. Pada dini hari 3 Januari, pukul 01.01 EST, pasukan khusus Amerika Serikat, terutama unit Delta Force, tiba di kompleks kediaman Presiden Maduro di Caracas. Hanya dua jam kemudian, pada pukul 03.29 EST, pasukan AS telah keluar dari Venezuela menuju kapal perang AS di Laut Karibia.
Pada pukul 04.21 EST, Presiden Trump mengumumkan melalui akun Truth Social bahwa Amerika Serikat telah melaksanakan "serangan berskala besar" terhadap Venezuela dan menangkap Maduro. Sebuah foto yang dibagikan Trump menunjukkan Maduro di atas kapal USS Iwo Jima dengan mata ditutup, memakai headphone peredam bising, dan pakaian abu-abu.
Strategi dan Eksekusi Operasi
Operasi ini direncanakan dengan detail luar biasa. Menurut Trump, pasukan AS melatih taktik penyergapan selama berbulan-bulan menggunakan replika kompleks kepresidenan Maduro. Untuk memberikan keuntungan taktis, tim AS mematikan jaringan listrik kota Caracas secara keseluruhan. "Berkat beberapa keahlian khusus yang kami miliki, lampu Caracas pada dasarnya dimatikan, dan semuanya gelap total," kata Trump.
Lebih dari 150 pesawat tempur AS dikerahkan dalam operasi ini. Meskipun Maduro memiliki ruang besi berlapis baja (safe room) di kediamannya, dia tidak sempat mencapainya. Trump menjelaskan bahwa Maduro disergap dengan sangat cepat: "Kami segera menyergapnya sebelum dia bisa menutup pintu."
Setelah ditangkap, Maduro dan istrinya dibawa menggunakan helikopter menuju kapal perang USS Iwo Jima, kemudian diterbangkan ke New York pada Sabtu malam.
Dakwaan Federal dan Persidangan
Menteri Kehakiman Pam Bondi membuka dakwaan federal terhadap Maduro pada Sabtu, 3 Januari 2026. Maduro menghadapi empat dakwaan utama:
- Konspirasi narkoterorisme.
- Konspirasi impor kokain.
- Kepemilikan senapan mesin dan perangkat destruktif.
- Konspirasi untuk menggunakan senapan mesin dan perangkat destruktif terhadap Amerika Serikat.
Cilia Flores didakwa dengan memfasilitasi pertemuan antara pedagang narkoba berskala besar dengan direktur Kantor Anti-Narkoba Nasional Venezuela dan menerima ratusan ribu dolar dalam penyogokan.
Pada Senin, 5 Januari 2026, Maduro dan Flores muncul di Pengadilan Distrik Selatan New York untuk persidangan pertama. Keduanya diangkut dengan helikopter dari pusat penahanan ke pengadilan federal di bawah protokol keamanan ketat, dengan barikade mengelilingi jalan dan sejumlah besar orang mengantri untuk memasuki gedung pengadilan.
Baik Maduro maupun Flores mengajukan pembelaan tidak bersalah terhadap semua dakwaan. Pengadilan menetapkan tanggal persidangan berikutnya untuk 17 Maret 2026. Jika dinyatakan bersalah, Maduro menghadapi kemungkinan hukuman seumur hidup.
Reaksi Pemerintah Trump
Presiden Trump menyebut Maduro sebagai "diktator yang illegitim" dan "penjahat utama dari jaringan kriminal luas yang bertanggung jawab atas perdagangan sejumlah besar narkoba ilegal dan mematikan ke Amerika Serikat." Trump menghubungkan penangkapan Maduro dengan doktrin Monroe dan mengumumkan "Donroe Doctrine" (Monroe Doctrine versi Trump), menyatakan bahwa "dominasi Amerika di belahan barat tidak akan pernah ditanyakan lagi."
Signifikansi lain dari pengumuman Trump adalah pernyataannya bahwa Amerika Serikat akan "menjalankan" Venezuela sampai tercapai "transisi yang aman, tepat, dan bijaksana." Trump juga menyatakan bahwa perusahaan minyak AS akan "masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara," dan bahwa AS siap meluncurkan serangan yang jauh lebih besar jika diperlukan.
Wakil Presiden JD Vance menyatakan bahwa operasi dibenarkan karena Maduro adalah buronan yang dicari AS, dan menekankan bahwa "minyak yang dicuri harus dikembalikan." Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengkonfirmasi bahwa Maduro telah ditangkap dan akan menghadapi dakwaan pidana di AS.
Posisi Pemerintah Venezuela
Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, awalnya mengutuk penangkapan Maduro sebagai "penculikan" dan menyatakan ketidaktahuan tentang keberadaan presiden dan ibu negara. "Kami tidak mengetahui keberadaan Presiden Nicolás Maduro dan First Lady Cilia Flores," kata Rodríguez.
Mahkamah Agung Venezuela menunjuk Rodríguez untuk menjalankan fungsi presiden secara sementara dan keputusan ini didukung oleh militer Venezuela. Rodríguez kemudian menunjukkan pendekatan yang lebih pragmatis, melakukan "balancing act" yang rumit: di satu sisi terus mengutuk penangkapan Maduro sebagai pelanggaran kedaulatan, namun di sisi lain menunjukkan keterbukaan untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat.
Trump mengingatkan Rodríguez dalam wawancara dengan The Atlantic: "Jika dia tidak melakukan apa yang benar, dia akan membayar harga yang sangat besar, mungkin lebih besar daripada Maduro."
Putra Maduro, Nicolás Ernesto Maduro Guerra (dikenal sebagai "Nicolásito"), muncul di Majelis Nasional Venezuela dan menuntut orang tuanya dibebaskan oleh otoritas Amerika serta memohon dukungan internasional.
Reaksi Internasional
Reaksi dunia terhadap operasi penangkapan Maduro sangat keras dan luas. Dewan Keamanan PBB mengadakan sesi darurat di mana anggota, baik sekutu maupun lawan AS, menyuarakan keberatan terhadap serangan tersebut.
Lembaga Chatham House, organisasi riset kebijakan internasional terkemuka, menyatakan bahwa penangkapan Maduro oleh AS dan serangan terhadap Venezuela "tidak memiliki pembenaran dalam hukum internasional". Lembaga ini menggambarkan tindakan AS sebagai "pelanggaran signifikan terhadap kedaulatan Venezuela dan Piagam PBB" dan menekankan bahwa pengumuman Trump untuk "menjalankan" Venezuela merupakan tantangan serius bagi hukum internasional.
Pejabat AS bersikeras bahwa operasi ini bukan perang tetapi operasi penegakan hukum yang didukung militer. Namun, berbagai pengamat internasional mempertanyakan yurisdiksi dan legalitas penangkapan presiden yang duduk di negara berdaulat.
Perencanaan Jangka Panjang
Penangkapan Maduro merupakan puncak dari bulan-bulan eskalasi tekanan AS. Pada pertengahan tahun sebelumnya, Trump telah menawarkan reward sebesar $50 juta kepada siapa pun yang memberikan informasi yang memungkinkan penangkapan Maduro. Perencanaan operasi militer dilakukan dengan intensif, dengan pasukan AS berlatih di replika kompleks kepresidenan Maduro hingga mengetahui detail-detail seperti kepemilikan hewan peliharaan.
Penolakan Maduro terhadap tawaran AS untuk mengasingkan diri ke Turki pada akhir Desember memicu keputusan Trump untuk meluncurkan operasi. Penampilan publik Maduro yang meremehkan ancaman Amerika, seperti menari di atas panggung sambil memutar sampel salah satu pidatonya yang mengatakan "No crazy war," juga menjadi faktor dalam keputusan Trump untuk memulai operasi.
Proyeksi Jangka Panjang
Motivasi Amerika Serikat untuk operasi ini melampaui sekadar penegakan hukum narkoba. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia dengan sekitar 3,03 triliun barel. Trump secara terbuka mengacu pada keinginan untuk mengakses dan mengendalikan sumber daya minyak Venezuela ini. Pengumuman Trump tentang kontrol AS atas Venezuela dan investasi perusahaan minyak AS mencerminkan ambisi geopolitik dan ekonomi yang lebih luas.
Namun, kompleksitas situasi internal Venezuela tetap tinggal. Sementara beberapa oposisi Venezuela menyambut penangkapan Maduro (seperti pemimpin oposisi María Corina Machado), lainnya melihat tindakan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan. Trump menyatakan bahwa Machado tidak memiliki dukungan dan rasa hormat dari rakyat Venezuela yang diperlukan untuk memimpin, dan menunjuk pada kebutuhan untuk pemilihan umum agar rakyat Venezuela dapat memilih pemimpin mereka.
Kabar ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat sedang berada di persimpangan yang rumit antara penegakan hukum, aspirasi geopolitik, dan hukum internasional, sementara komunitas internasional memantau implikasi lebih lanjut dari operasi ini.
Catatan Redaksi:
Berita ini disusun berdasarkan laporan dari sumber-sumber terpercaya internasional termasuk New York Times, BBC, CNN, AP News, CBS News, Reuters, dan Chatham House.