Dari Angin dan Niat Jahat: Tinggam dan Gayuang yang Datang Tanpa Menyentuh

Yuk masuki dunia kepercayaan Ulakan Tapakis, di mana penyakit, ritual, dan hubungan sosial saling terhubung melalui tinggam dan gayuang.

Oleh Wulan Darma Putri

Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, konsep kesehatan mencakup keseimbangan antara unsur jasmani dengan kekuatan-kekuatan yang diyakini mempengaruhi manusia. Hal ini tampak jelas dalam kehidupan warga Ulakan Tapakis, sebuah nagari di Kabupaten Padang Pariaman. Di wilayah ini, sebuah penyakit dapat muncul bukan hanya karena gangguan dari dalam tubuh, tetapi juga karena perbuatan manusia lain melalui kekuatan gaib. Dua bentuk penyakit gangguan ghaib yang paling dikenal dan sekaligus paling ditakuti adalah tinggam dan gayuang.

Tinggam dan Gayuang

Tinggam dianggap sebagai salah satu bentuk guna-guna yang paling kuat. Serangan ini datang langsung kepada korban tanpa harus dilakukan secara dekat. Pelaku biasanya adalah seorang dukun yang menguasai ilmu hitam dengan media tertentu sebagai perantaranya, seperti ikan pari. Dalam banyak cerita, ikan pari dijadikan sebagai pengganti tubuh korban. Ikan tersebut dipercaya dapat dijadikan simbol tubuh seseorang setelah melalui proses ritual tertentu. Masyarakat meyakini bahwa tubuh manusia dapat menjadi target energi jahat yang dikendalikan oleh orang lain dari jauh. Tinggam dalam keyakinan masyarakat bekerja dengan cara menghubungkan pelaku dan korban melalui media yang dijadikan sarana untuk mengirimkan penyakit.

Berbeda dengan tinggam yang memerlukan objek fisik, gayuang bekerja melalui angin. Angin dipandang sebagai saluran yang bisa membawa niat buruk dari pelaku kepada korban. Pelaku gayuang cukup menggunakan gerakan tertentu seperti kibasan tangan, tatapan mata, atau tiupan angin untuk melukai seseorang. Karena sifatnya yang tidak kasat mata, gayuang sering kali lebih sulit dikenali. Tidak ada benda yang bisa menjadi bukti dan serangannya bekerja secara halus. Masyarakat Ulakan Tapakis percaya bahwa unsur alam seperti udara pun dapat menjadi bagian dari kekuatan gaib yang bisa mencelakai manusia.

Kedua bentuk gangguan ini tidak hanya menjadi persoalan kesehatan, tetapi juga menciptakan ancaman sosial. Serangan tinggam dan gayuang menunjukkan bahwa seseorang dapat disakiti bukan karena penyakit alamiah, tetapi karena niat buruk orang lain. Akibatnya, masyarakat sering berhati-hati dalam bertutur kata dan menjaga hubungan sosial agar tidak memicu permusuhan. Tinggam dan gayuang juga melibatkan transaksi ekonomi, dukun yang akan melakukan serangan bisa meminta bayaran dalam jumlah besar, biasanya berupa uang atau emas. Dengan demikian, guna-guna tidak sekadar persoalan ghaib, tetapi juga menciptakan transaksi ekonomi dan kekuasaan dalam masyarakat.

Proses mengobati tinggam dan gayuang memiliki ritual tersendiri yang berbeda dari pengobatan penyakit fisik. Salah satu aturan penting dalam pengobatannya adalah pemilihan waktu yang tepat. Senja menjadi waktu yang dianggap paling baik untuk melakukan penyembuhan. Masyarakat percaya bahwa pada waktu senja, kehadiran makhluk ghaib seperti iblis menjadi lebih kuat. Karena itu, pengobatan dilakukan ketika kekuatan jahat sedang berada pada waktu yang tepat agar obat yang diberikan lebih ampuh. Meski demikian, sebenarnya pengobatan tinggam berkemungkinan hanya untuk orang yang tinggal atau pihak keluarga, bukan untuk orang yang terkena penyakit tersebut.

Tidak semua tinggam atau gayuang dapat disembuhkan. Dalam hal ini, ada beberapa ungkapan yang mengatakan jika seseorang sudah terkena tinggam, yang perlu disiapkan hanyalah kain kafan. Ucapan ini menggambarkan betapa fatalnya penyakit tersebut. Bagi masyarakat Ulakan Tapakis, tinggam bukan hanya penyakit, tetapi juga ancaman terhadap nyawa. Penyakit dalam dunia ghaib bukan hanya sekadar gangguan tubuh, tetapi juga refleksi dari spiritual antara niat jahat.

Walaupun demikian, masyarakat tetap meyakini pentingnya berusaha untuk sembuh. Mereka percaya bahwa mencari pengobatan adalah tindakan yang dianjurkan, terlepas dari besar kecilnya peluang untuk pulih. Upaya berobat dipandang sebagai bentuk sunah yang harus dilakukan manusia. Meski tinggam dan gayuang sangat kuat, masyarakat tidak menyerah pada keadaan, mereka mengartikan proses pengobatan sebagai bentuk keteguhan hati dan perlawanan terhadap penyakit.

Pada akhirnya, tinggam dan gayuang bukan hanya istilah dalam dunia perdukunan, tetapi juga menggambarkan cara masyarakat Ulakan Tapakis memandang hubungan antara manusia dan dunia spiritual. Keyakinan ini membentuk interaksi antar warga, cara mereka menjaga diri, dan bagaimana mereka memahami arti sakit serta sembuh. Di balik kepercayaan ini, terdapat warisan budaya yang mencerminkan spiritual, nilai sosial, dan identitas masyarakat setempat yang terus bertahan sampai sekarang.

Selain menjadi penjelasan terhadap penyakit, kepercayaan terhadap tinggam dan gayuang juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Ulakan Tapakis memahami batas kemampuan manusia dalam menjaga diri. Mereka percaya bahwa ada hal-hal di luar kuasa manusia yang bisa menyerang kapan saja. Sehingga perlindungan tidak hanya dicari melalui obat, tetapi juga melalui doa, hati yang bersih, serta menjaga hubungan baik dengan sesama. Dengan demikian, tinggam dan gayuang bukan hanya konsep magis, tetapi juga budaya yang mendorong terciptanya kehati-hatian dan keseimbangan sosial.

Biodata Penulis:

Wulan Darma Putri saat ini aktif sebagai mahasiswa, Sasindo, Fib, di Unand.
© Sepenuhnya. All rights reserved.