Drama Ijazah Jokowi: Strategi Pengalihan Isu yang Nggak Ada Matinya

Isu ijazah Jokowi muncul lagi? Jangan terkecoh. Simak bagaimana distraksi politik bekerja dan kenapa isu penting justru sering luput dari perhatian.

Oleh Roman Adiwijaya

Pernah nggak sih kalian merasa deja vu? Setiap kali negara ini lagi genting atau ada kebijakan aneh-aneh yang mau disahkan, tiba-tiba linimasa media sosial kita penuh lagi sama perdebatan soal "Ijazah Jokowi Asli atau Palsu". Padahal isu ini sudah basi, sudah dibantah UGM, bahkan sudah lewat jalur pengadilan. Tapi anehnya, isu ini kayak zombie yang nggak bisa mati. Selalu muncul di waktu yang pas.

Drama Ijazah Jokowi

Kalau kita bedah pakai kacamata sosiologi dan komunikasi, ini bukan kebetulan. Ini adalah pola. Isu ijazah ini adalah contoh sempurna dari isu non-organik yang sengaja "digoreng" buat menutupi isu organik yang jauh lebih berbahaya buat hajat hidup kita semua. Yuk, kita bongkar pelan-pelan.

Bedanya Isu "Titipan" vs Isu Beneran

Biar paham, kita harus bedain dulu dua jenis isu ini.

  • Isu Organik: Ini masalah nyata yang kita rasain dampaknya. Contohnya? Demo RUU Pilkada kemarin, kerusakan alam di Raja Ampat, atau korupsi timah 271 Triliun. Ini isu yang bikin perut laper dan masa depan suram.
  • Isu Non-Organik: Ini isu yang mainin emosi doang tapi nggak ngefek ke dompet atau hak asasi kita. Contohnya ya itu, debat soal font ijazah tahun 80-an. Mau asli atau palsu, dampaknya ke harga beras hari ini apa? Nggak ada. Tapi isu ini sukses bikin kita berantem di kolom komentar.

Nah, pola yang terjadi dari 2019 sampai 2025 ini menarik. Setiap kali pemerintah atau DPR mau ngelakuin manuver yang bikin rakyat marah, tombol "Isu Ijazah" kayaknya langsung ditekan buat mecah konsentrasi kita.

Teori Jacques Ellul: Kenapa Kita Gampang Terkecoh?

Ada seorang pemikir jenius dari Prancis namanya Jacques Ellul. Di bukunya yang judulnya Propaganda, dia ngejelasin konsep yang relevan banget sama situasi kita sekarang.

Menurut Ellul, propaganda modern itu tujuannya bukan cuma buat nipu, tapi buat bikin kita sibuk.

  • Orthopraxy (Aksi Tanpa Mikir): Ellul bilang propaganda sukses itu kalau bisa bikin orang bertindak tanpa mikir panjang. Di kasus ijazah, "tindakan" yang dimau adalah kita sibuk nge-share, debat, dan maki-maki. Selama kita sibuk ngurusin foto wisuda Jokowi yang di-zoom 1000 kali, kita lupa buat protes soal undang-undang yang merugikan kita.
  • Mitos Pendidikan: Propaganda ini cerdik karena nyerang mitos sosial kita soal "gelar". Di Indonesia, gelar itu segalanya. Jadi kalau ada rumor presiden gelarnya palsu, emosi satu negara langsung ke-trigger. Ini bikin kita lupa sama substansi.

Intinya, isu ijazah ini adalah "kabut asap" yang dibikin biar kita nggak liat kebakaran hutan yang sebenernya.

Apa Aja yang Ketutup Kabut Asap Ini?

Coba kita liat daftar "dosa besar" yang seringkali lewat begitu aja gara-gara kita terlalu sibuk ngurusin ijazah.

1. Peringatan Darurat & RUU Pilkada (Agustus 2024)

Masih inget gambar Garuda Biru "Peringatan Darurat" yang viral banget? Itu momen langka di mana rakyat sadar kalau konstitusi lagi diacak-acak DPR buat mulusin politik dinasti. Kemarahan publik meledak, demo di mana-mana sampai pager DPR jebol.

Tapi coba perhatiin, di tengah panasnya isu itu, narasi soal ijazah Jokowi juga dikencengin lagi sama akun-akun tertentu. Tujuannya jelas, buat mecah fokus. Biar yang tadinya marah soal konstitusi, jadi melenceng bahas personal Jokowi. Untungnya waktu itu gerakan sipil lumayan kuat nahan arusnya, tapi tetep aja banyak energi kebuang .

2. Bahaya Kembalinya Dwifungsi ABRI lewat RUU TNI

Ini sebenernya ngeri banget. Ada revisi UU TNI yang berpotensi balikin kita ke zaman Orde Baru, di mana tentara bisa megang jabatan sipil dan ngurusin bisnis lagi. Amnesty International udah teriak-teriak soal bahaya ini.

Tapi karena isunya "berat" dan butuh baca undang-undang, orang lebih suka bahas drama ijazah. Lebih gampang cerna gosip daripada baca pasal hukum. Akibatnya? Revisi jalan terus dengan resistensi yang minim dari publik.

3. Skandal Korupsi Timah & Harvey Moeis

Ingat kasus korupsi 271 Triliun yang nyeret suami artis Sandra Dewi? Itu duit gede banget yang harusnya bisa buat bangun sekolah atau rumah sakit. Awalnya heboh, tapi lama-lama ketutup sama gosip lain, termasuk daur ulang isu ijazah yang selalu dipelihara tensinya. Kita lebih sibuk ngurusin masa lalu satu orang (ijazah) daripada ngurusin masa depan duit negara yang dimaling.

4. Raja Ampat yang Digali Terus

Raja Ampat itu surga dunia, tapi sekarang lagi diancam sama tambang nikel. Meskipun ada izin yang dicabut, masih ada perusahaan kayak PT Gag Nikel yang jalan terus. Masyarakat adat di sana udah teriak nolak karena laut mereka rusak, tapi suara mereka kalah nyaring sama buzzer yang ribut soal ijazah.

Jokowi sempet bilang dia nggak terlibat urusan izin tambang itu, tapi tetep aja polanya sama. Isu lingkungan yang krusial selalu kalah pamor sama isu sensasional.

5. Proyek Raksasa Giant Sea Wall

Di Jakarta, ada proyek tembok laut raksasa yang nilainya ratusan triliun. Walhi udah ingetin kalau ini bakal jadi "septic tank raksasa" yang ngerusak ekosistem Teluk Jakarta. Tapi debat publik soal ini sepi banget. Kenapa? Karena bahas dampak lingkungan itu ribet. Jauh lebih "seru" bahas konspirasi ijazah.

6. Fenomena "Indonesia Gelap" & #KaburAjaDulu

Saking capeknya sama keadaan politik yang begini terus, muncul gerakan protes "Indonesia Gelap" dan tren tagar #KaburAjaDulu. Ini tanda kalau anak muda udah muak dan putus asa. Mereka ngerasa aspirasi dibungkam dan negara makin nggak asik. Ironisnya, keputusasaan ini juga sebagian karena ruang publik kita isinya sampah informasi kayak debat ijazah itu, bikin orang jadi apatis sama politik beneran.

Kesimpulan: Jangan Mau Dibodohi

Jadi, hubungan antara isu ijazah Jokowi dan buku Propaganda-nya Jacques Ellul itu jelas banget. Isu ijazah adalah alat distraksi massal.

Polanya selalu sama:

  1. Bikin kebijakan yang merugikan rakyat.
  2. Saat rakyat mulai sadar dan mau protes, lempar isu ijazah palsu biar ribut.
  3. Rakyat sibuk berantem soal kertas tahun 80-an.
  4. Kebijakan lolos, alam rusak, duit negara ilang.

Solusinya simpel tapi susah. Kita harus berhenti ngasih panggung ke isu ijazah ini. Kalau ada akun yang bahas itu, skip aja. Fokus kita harus balik ke hal-hal yang nyata. Tanah yang dirampas, undang-undang yang menindas, dan uang pajak yang dikorupsi. Jangan sampai kita jadi korban "Orthopraxy"-nya Ellul, sibuk bertindak (komen/share) tapi lupa mikir.

Stop debat ijazah, ayo kawal kebijakan!

© Sepenuhnya. All rights reserved.