Oleh Roman Adiwijaya
Belakangan ini, nama Menteri Keuangan kita, Purbaya Yudhi Sadewa, lagi sering banget menghiasi headline berita. Bukan cuma soal angka atau kebijakan fiskal yang bikin pusing, tapi karena ada bumbu drama politik yang cukup panas. Isu paling kencang yang beredar adalah rencana buat "men-Noel-kan" Pak Purbaya. Kalau Anda bingung apa maksudnya, istilah ini muncul dari mulut Immanuel Ebenezer alias Noel, mantan Wamenaker yang sekarang lagi tersandung kasus hukum. Noel mengklaim kalau Pak Purbaya ini target berikutnya buat dikriminalisasi. Kenapa? Katanya sih karena kebijakan sang menteri sudah mulai mengganggu "pesta para bandit" di sektor ekonomi gelap.
Siapa Sih Sebenarnya Sosok Purbaya Ini?
Sebelum kita bahas soal ancaman penjara dan krisis, kita kenalan dulu sama sosoknya. Pak Purbaya ini bukan orang sembarangan di dunia keuangan. Dia punya latar belakang pendidikan yang unik, yaitu perpaduan antara presisi teknik dan logika ekonomi. Dia adalah lulusan Teknik Elektro ITB yang kemudian lanjut belajar ekonomi sampai dapat gelar PhD dari Purdue University di Amerika Serikat. Jadi, cara dia melihat masalah itu sangat kuantitatif dan sistemik.
Sebelum jadi Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani pada September 2025, dia lama menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner LPS. Di sana, dia dikenal dengan "Purbaya Effect", yaitu langkah berani menurunkan bunga penjaminan buat maksa perbankan nurunin bunga kredit. Secara personal, dia juga dikenal hidup cukup sederhana. Istrinya, Ida Yulidina, sering tertangkap kamera naik bajaj atau makan di pinggir jalan meskipun suaminya pejabat tinggi. Dengan kekayaan sekitar Rp39 miliar yang bersih dari hutang, Pak Purbaya pede banget bilang kalau dia nggak butuh uang suap karena gajinya sebagai menteri sudah lebih dari cukup buat hidup enak.
Ancaman di-Noel-kan dan Murka Para Bandit
Balik lagi ke soal isu kriminalisasi. Noel, yang sekarang berstatus terdakwa kasus pemerasan, mengklaim punya info valid kalau Pak Purbaya lagi diincar. Menurut Noel, siapa pun yang berani mengusik pasar gelap di Indonesia bakal "digigit anjing liar". Pak Purbaya memang lagi rajin-rajinnya melakukan sidak. Dia nggak segan menutup keran impor baju bekas atau thrifting ilegal, mengincar 40 perusahaan baja yang nggak taat pajak, sampai memburu mafia impor sepatu.
Bagi Pak Purbaya, pilihannya cuma satu: lindungi industri dalam negeri atau biarkan pasar kita dikuasai barang ilegal. Dia sadar kalau tindakannya ini bikin banyak orang kehilangan keuntungan triliunan rupiah. Tapi respons dia santai saja. Dia bilang kalau kuncinya cuma satu, yaitu jangan terima duit haram. Kalau sudah terima suap, seorang pejabat bakal jadi sandera dan nggak punya keberanian buat memecat atau merotasi orang yang korup. Itulah kenapa dia berani merombak besar-besaran birokrasi di Bea Cukai dan Pajak pada awal tahun 2026 ini.
Sinyal Krisis 2026: IHSG Rontok dan Rupiah Lemas
Di tengah drama politik itu, kondisi ekonomi kita memang lagi nggak baik-baik saja. Banyak ekonom senior, termasuk mendiang Faisal Basri, jauh-jauh hari sudah memperingatkan kalau tahun 2026 bakal jadi titik kritis. Ramalan itu seolah mulai terbukti waktu IHSG anjlok sampai 8 persen di akhir Januari 2026 kemarin. Perdagangan saham sampai harus dihentikan sementara alias trading halt gara-gara investor pada panik setelah laporan dari MSCI keluar.
Nggak cuma saham, nilai tukar Rupiah juga sempat bikin deg-degan karena hampir menyentuh angka Rp17.000 per dolar AS. Secara global, dunia lagi dihantui fenomena stagflasi, yaitu kondisi di mana harga barang naik terus (inflasi) tapi ekonomi malah lesu atau resesi. Ini tantangan berat buat Pak Purbaya. Dia harus muter otak gimana caranya jaga daya beli masyarakat sementara beban utang negara makin numpuk dan target penerimaan pajak susah dicapai karena ekonomi lagi lesu.
Langkah Bersih-Bersih di Tubuh Kemenkeu
Menghadapi situasi genting ini, Pak Purbaya nggak mau main aman. Dia justru makin kencang melakukan bersih-bersih internal. Pada akhir Januari 2026, dia resmi memutasi sekitar 70 pejabat pajak dan 30 orang di Bea Cukai. Pejabat yang ketahuan "main mata" sama pengusaha nakal atau membiarkan kebocoran pajak langsung digeser ke tempat-tempat yang lebih sepi. Strategi ini diambil buat memastikan setiap rupiah masuk ke kantong negara, bukan kantong pribadi.
Selain itu, buat memperkuat timnya, muncul nama Juda Agung yang dikabarkan bakal jadi Wakil Menteri Keuangan yang baru. Juda Agung, yang punya pengalaman panjang di Bank Indonesia, diharapkan bisa membantu sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan moneter. Jadi, kalau ada guncangan di nilai tukar atau pasar modal, Kemenkeu dan BI bisa langsung gerak cepat bareng-bareng.
Apa yang Harus Kita Siapkan?
Terus, gimana nasib kita sebagai rakyat biasa di tahun 2026 nanti? Para pengamat menyarankan kita buat lebih waspada. Skenario terburuknya adalah terjadi hard landing, di mana pengangguran meningkat dan harga pangan makin mahal. Tapi ada juga harapan kalau Indonesia bisa jadi "anomali global". Artinya, meskipun dunia lagi krisis, kita tetap bisa tumbuh kalau reformasi birokrasi Pak Purbaya ini sukses dan hilirisasi industri benar-benar jalan.
Kesimpulannya, tahun 2026 ini bakal jadi tahun pembuktian. Apakah Pak Purbaya bakal benar-benar "di-Noel-kan" oleh lawan politiknya, atau justru dia berhasil membersihkan "pesta para bandit" dan membawa ekonomi kita keluar dari badai krisis. Yang jelas, integritas jadi taruhan paling mahal di sini. Selama bendahara negara kita tetap lurus dan nggak tergoda suap, peluang buat selamat dari krisis masih sangat terbuka lebar. Mari kita pantau terus perkembangannya sambil tetap bijak mengatur keuangan pribadi.