Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan dramatis sebesar 8% atau 718,44 poin ke level 8.261,78 pada perdagangan Rabu (28/1/2026) pukul 13.43 WIB, memicu aktivasi trading halt sementara oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
Penyebab Utama: Peringatan Keras MSCI
Penurunan tajam ini dipicu pengumuman MSCI pada Selasa malam (27/1/2026) yang menerapkan "interim freeze" pada rebalancing indeks saham Indonesia akibat kekurangan transparansi kepemilikan dan free float adjustment. MSCI menilai perbaikan minor dari BEI belum cukup, sehingga membekukan kenaikan bobot saham RI, penambahan saham baru, dan potensi upgrade status pasar.
Kebijakan ini membatasi risiko turnover indeks dan menjaga investability bagi investor global, yang langsung memicu aksi jual panik.
Respons BEI dan Dampak Perdagangan
BEI mengaktifkan trading halt selama 30 menit untuk stabilisasi pasar setelah IHSG tembus batas 8%, dengan 768 saham melemah, hanya 28 menguat, dan 8 stagnan. Corporate Secretary BEI, Kautsar Primadi, menyatakan pihaknya akan terus berdiskusi dengan MSCI dan regulator untuk atasi isu transparansi.
Analis menyoroti isu "goreng saham" dan manajemen free float sebagai akar masalah, yang dikonfirmasi Menteri Keuangan Purbaya Yudha.
Analisis Dampak Jangka Panjang
Kejadian ini berpotensi kurangi bobot saham Indonesia di MSCI Emerging Markets jika tak ada kemajuan hingga Mei 2026, bahkan reklasifikasi ke Frontier Market. Sentimen negatif ini lebih dominan daripada fundamental ekonomi, dengan peluang rebound jika BEI perbaiki regulasi.
Investor disarankan pantau diskusi BEI-MSCI dan hindari panic selling, karena volatilitas seperti ini sering ciptakan peluang beli di level rendah.
Penulis:
- Afreza Feba Duantara
- Muhammad Zakiy Faturrahman
- Anggit Satriyo Pangestu