Indonesia Intelektual Budaya dan Kritik Sosial

Intelektual sejati lahir dari logika, etika, dan sikap. Yuk rawat budaya Indonesia dengan pemikiran matang dan penuh makna.

Oleh Kang Thohir

Brebes, 19 Januari 2026 - Indonesia penuh budaya. Banyak suku dan bahasa, tapi kita lupa bagaimana kita mengembannya. Ada sejarah di balik semua budaya yang ada di bumi Nusantara. Indonesia menapaki garis khatulistiwa. Banyak babad yang tertulis dalam daun lontar dan kulit oleh para pujangga kerajaan. Banyaknya aneka kuliner di berbagai daerah, dan gunung-gunung yang indah menjulang tinggi. Toh, bagaimana kita menyapanya dengan penuh cinta? Ataukah kita akan terkurung di balik ambisi dan politik kotor itu? Yang merusak citra bangsanya sendiri. Ah, sudahlah.

Indonesia Intelektual Budaya dan Kritik Sosial

Setiap orang boleh berkata kritis, tapi harus diimbangi dengan sikap harmonis penyampaian baik. Ketika pada waktunya dibalas kritikan lagi, jangan pernah membalasnya, cukup diam saja dan menginstrospeksi diri sendiri, jika dirimu memang ada yang salah. Kalau benar ya lanjutkan saja, jika kritikanmu memang benar adanya. Bukan main-main soal kritik-mengkritik harus sesuai ilmu, pengalaman, pemikiran yang matang, pengetahuan yang mumpuni, dan sikap baik, juga data atau fakta. Begitu adanya.

Intelektual itu bukan soal belajar dan soal tentang sekolah saja, tapi bagaimana pikiran itu menjadi buah yang bisa melahirkan gagasan/ide yang cemerlang dan maju. Ilmu pengetahuan semakin tinggi gaya pikiran harus meningkat, namun intelektual terkadang tanpa attitude itu adalah omong kosong tanpa insiatif yang baik. Akan tetapi, intelektual itu cara berpikir logis dan sistematis, juga analisis. Sehingga memberikan suatu potensi dan komunikasi yang padat dan bermakna. Bahwa kecermelangan otak pada cara kita berperspektif yang baik pula dan emas, juga menginspirasi banyak orang.

© Sepenuhnya. All rights reserved.