Integrasi Model Pemecahan Masalah George Polya untuk Mengatasi Konflik Bermain di PAUD

Konflik bermain di PAUD sering membuat kewalahan. Yuk pelajari cara efektif menyelesaikan konflik anak melalui model pemecahan masalah George Polya.

Oleh Ivanella Zaskia P. R.

Konflik bermain adalah hal yang umum terjadi di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Di antaranya seperti perilaku agresif fisik, berebut mainan, merusak hasil karya, eksklusi sosial (sekelompok anak melarang teman lainnya untuk bergabung dalam permainan mereka), dan masih banyak lagi. Konflik tersebut malah menjadi masalah untuk para guru. Memang manusia sering kali dihadapkan dengan berbagai masalah yang tidak disadari datangnya kapan. Masalah sering kali membuat orang terdorong untuk menyelesaikannya namun tidak tahu apa dan bagaimana cara yang tepat dalam menyelesaikannya yang membuat masalah bukannya teratasi namun bertambah banyak. Maka dari itu penting sekali kita tahu cara yang tepat dalam memecahkan masalah.

Mengapa Skill Pemecahan Masalah Penting?

Karena kemampuan anak dalam memecahkan masalah meningkatkan kemampuan kognitif anak (proses berpikir & mengembangkan kreativitas). Kemampuan problem solving (pemecahan masalah) setiap anak sesuai tahapan usianya dan perkembangannya. Keterampilan memecahkan masalah juga berkaitan dengan proses berpikir, memahami dan mendapatkan pemahaman akan dunianya, termasuk juga kemampuan mengingat, memecahkan masalah dan membuat keputusan.

Integrasi Model Pemecahan Masalah George Polya untuk Mengatasi Konflik Bermain di PAUD

Berbicara tentang pemecahan masalah, George Polya dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi konflik bermain di PAUD. Dengan menggunakan model ini, anak-anak dapat belajar bagaimana mengatasi konflik dengan cara yang efektif dan konstruktif. Dan proses pemecahan masalah yang terstruktur sehingga membantu siswa lebih mudah.

Berikut 4 langkah keterampilan pemecahan masalah George Polya dalam PAUD:

1. Memahami masalah (Understanding the Problem)

Pada tahap ini, anak diajak untuk mengidentifikasi situasi yang sedang dihadapi melalui pertanyaan sederhana. Guru membantu anak mengenali apa yang terjadi, siapa yang terlibat, dan apa yang ingin dicapai.

2. Menyusun Rencana (Devising a Plan)

Setelah memahami masalah, guru membimbing anak untuk memikirkan berbagai alternatif solusi. Anak didorong untuk bereksplorasi, membuat dugaan, atau mencari cara kreatif untuk mengatasi hambatan tersebut.

3. Menguji Rencana (Testing the Plan)

Anak mempraktikkan solusi yang telah direncanakan sebelumnya. Di tahap ini, anak belajar mencoba (trial and error) dan guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan semangat agar anak tidak mudah menyerah.

4. Memeriksa Kembali Solusi (Re-checking the Solution)

Langkah terakhir adalah meninjau kembali hasil yang telah dicapai. Guru mengajak anak berdiskusi apakah solusi tersebut berhasil, bagaimana perasaan mereka, dan apa yang bisa dipelajari untuk masalah serupa di masa depan.

Dalam kegiatan di dalam kelas PAUD, guru dapat menggunakan teori George Polya untuk membantu anak-anak mengatasi konflik bermain. Contohnya, ketika anak-anak berebut mainan, guru dapat membimbing mereka untuk memahami masalah, menyusun rencana, menguji rencana dan memeriksa kembali solusi. Guru dapat membimbing anak-anak dengan bertanya pertanyaan seperti 'Apa yang terjadi?', 'Apa yang kamu inginkan?', 'Apa yang bisa kita lakukan?', dan 'Apakah itu berhasil?' untuk membantu mereka memahami masalah dan memikirkan solusi.

Untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan model ini, mari pahami dengan seksama.

  • Tahap pertama fokus pada pemahaman mendalam terhadap konflik berebut mainan, di mana anak-anak sering bertengkar karena egosentrisme alami pada usia 3-6 tahun. Guru harus mengamati situasi secara detail: konflik permasalahan (misalnya, Lia dan Bagas berebut bola), kondisi lingkungan (ruang bermain sempit dengan mainan terbatas), informasi yang diketahui (keduanya menangis dan saling dorong), serta tujuan akhir (anak belajar bergantian bermain tanpa konflik). Ajukan pertanyaan panduan seperti: Apa yang menyebabkan perebutan? Apakah ada masalah (misalnya, saat terjadi kegiatan)? Apakah anak sudah paham aturan berbagi? Pengamatan selama 5-10 menit membantu menggali akar masalah, seperti kurangnya keterampilan sosial atau kelelahan anak.
  • Setelah memahami, susun strategi konkret yang sesuai perkembangan anak PAUD, dengan mempertimbangkan teori Piaget tentang egosentrisme pra-operasional. Rencana bisa mencakup: (1) Pengenalan aturan bergantian via cerita boneka (misalnya, boneka berbagi es krim); (2) Penggunaan timer visual (jam pasir 2 menit per anak) untuk membagi waktu; (3) Penguatan positif seperti stiker berbagi; (4) Kegiatan kelompok kecil untuk role-playing konflik; (5) Penyediaan mainan duplikat jika memungkinkan. Hubungkan dengan pengalaman sebelumnya, seperti lagu Babybus yang berjudul "antre tunggu giliran kalau mau main bersama dengan teman", dan pilih strategi fleksibel agar sesuai kondisi kelas. Rencana ini harus bertahap, dimulai dari intervensi langsung hingga pencegahan jangka panjang.
  • Uji rencana dengan pendekatan aktif dan menyenangkan agar anak terlibat. Misalnya, pisahkan Lia dan Bagas sementara, lalu kumpulkan dalam lingkaran: ceritakan kisah berbagi, berikan waktu, dan biarkan mereka praktik bergantian sambil guru memfasilitasi ("Sekarang giliran Lia, tepuk tangan!"). Pantau emosi anak, gunakan bahasa sederhana seperti "Kita main bareng ya, biar semuanya juga senang", dan integrasikan gerakan tubuh untuk sensorik-motorik. Jika konflik muncul lagi, ulangi role-playing dengan variasi (misalnya, berebut puzzle). Tahap ini berlangsung 15-20 menit per sesi, dilakukan rutin setiap hari selama seminggu untuk membangun kebiasaan.
  • Evaluasi hasil secara komprehensif: Amati apakah konflik berkurang (catat frekuensi sebelum-sesudah via jurnal observasi), tanyakan feedback anak ("Senangkah main bergantian?"), dan libatkan orang tua lewat laporan harian. Jika berhasil (anak mandiri berbagi), perkuat dengan pujian kelas; jika belum (konflik tetap), revisi rencana seperti tambah mainan atau sesi konseling individu. Periksa kelengkapan (apakah semua anak terlibat?) dan kebenaran (apakah sesuai norma PAUD seperti inklusivitas?).

Dengan demikian, model pemecahan masalah George Polya dapat menjadi salah satu solusi efektif untuk mengatasi konflik bermain di PAUD. Kelebihan teori ini adalah dapat membantu anak-anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, seperti yang terlihat dalam contoh strategi pengenalan aturan bergantian dengan cerita boneka. Namun, kekurangan teori ini adalah memerlukan waktu dan kesabaran dari guru untuk membimbing anak-anak, sehingga perlu perencanaan yang matang dan fleksibel.

Referensi:

  1. Purba, D., Nasution, Z., & Lubis, R. (2021). Pemikiran george polya tentang pemecahan masalah. Jurnal MathEdu (Mathematic Education Journal), 4(1), 25-31.
  2. Lestari, L. D. (2020). Pentingnya mendidik problem solving pada anak melalui bermain. Jurnal Pendidikan Anak, 100-108.

Biodata Penulis:

Ivanella Zaskia P. R. saat ini aktif sebagai mahasiswa, Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

© Sepenuhnya. All rights reserved.