Oleh Sandrina Nur Elfarini
Temulawak adalah tumbuhan endemik Indonesia yang memiliki potensi tumbuh hingga sekitar dua meter. Bagian rimpangnya tersusun atas rimpang induk yang dikenal sebagai empu, berbentuk memanjang menyerupai gelendong, dengan warna luar kuning tua hingga cokelat kemerahan serta bagian dalam berwarna jingga kecokelatan. Dari rimpang induk tersebut muncul rimpang-rimpang sekunder yang ukurannya lebih kecil, tumbuh ke arah samping, dan memiliki warna yang lebih terang (Dalimartha, 2000).
Temulawak telah lama dikenal dan dimanfaatkan dalam upaya menjaga kesehatan serta sebagai sarana pencegahan dan pengobatan berbagai penyakit. Kandungan senyawa aktif di dalamnya diketahui dapat membantu melancarkan produksi air susu ibu (ASI) serta berperan dalam proses pembersihan darah (Rukmana, 2004). Selain itu, temulawak juga bermanfaat dalam meningkatkan fungsi sistem pencernaan, menjaga kesehatan hati, meredakan nyeri pada sendi dan tulang, menurunkan kadar lemak dalam darah, serta menghambat terjadinya penggumpalan darah (InfoPOM, 2005).
Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, temulawak mengandung beragam fitokimia, yaitu senyawa kimia alami yang terdapat pada tumbuhan, seperti terpenoid, kurkuminoid, serta berbagai senyawa fenolik lainnya. Kandungan tersebut menjadikan temulawak diyakini memiliki berbagai khasiat yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan manfaat dan kandungan temulawak.
Kandungan Temulawak
Komposisi temulawak sebagian besar terdiri atas karbohidrat sebesar 79,96%, diikuti oleh kandungan serat sebesar 0,80%, protein 1,52%, dan lemak 1,35%. Selain itu, temulawak juga mengandung kurkumin sebanyak 15 mg/kg, kalium 11,45 mg/kg, serta kalsium sebesar 19,07 mg/kg. Di samping komponen tersebut, temulawak memiliki senyawa lain yang relatif jarang ditemukan pada tanaman lain, seperti phellandren, turmerol, dan borneol. Senyawa-senyawa ini masing-masing berperan dalam membantu proses detoksifikasi tubuh melalui urin, memperlancar metabolisme, serta mendukung pemulihan tubuh setelah mengalami penyakit.
Menurut Ruslay et al. (2007), senyawa aktif temulawak yang berperan sebagai fraksi antioksidan meliputi bisdemetoksikurkumin, demetoksikurkumin, dan kurkumin. Kurkumin diketahui memiliki aktivitas biologis yang tinggi serta berpotensi kuat sebagai antioksidan (Jayaprakasha et al., 2005) karena keberadaan atom hidrogen pada senyawa fenoliknya (Priyadarsini et al., 2003). Selain itu, kurkumin juga memiliki efek antiinflamasi atau antiradang (Setiawan, 2011) serta menunjukkan aktivitas hipokolesterolemik, yaitu kemampuan menurunkan kadar kolesterol (Fujiwara et al., 2008).
Selain kurkumin, senyawa fenolik berperan sebagai antioksidan karena kemampuannya dalam menetralisir radikal bebas dan radikal peroksida, sehingga dapat membantu mencegah terjadinya penyakit kanker (Kelloff et al., 2000). Temulawak juga mengandung berbagai senyawa fitokimia lain yang memberikan manfaat bagi kesehatan, di antaranya alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, dan triterpenoid (Subagja, 2014).
Rimpang temulawak mengandung beragam senyawa kimia, di antaranya kurkumin, pati dengan kisaran 48–54%, serta minyak atsiri sebesar 3–12%. Minyak atsiri tersebut berupa cairan berwarna kuning hingga kuning jingga dan memiliki aroma yang khas serta tajam. Kandungan dan komposisi minyak atsiri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti umur rimpang, metode isolasi, kondisi tempat tumbuh, teknik analisis, serta varietas tanaman yang digunakan (Dalimartha, 2000).
Minyak atsiri yang berasal dari rimpang temulawak mengandung berbagai senyawa, antara lain telandren, kamfer, borneol, sineol, xanthorrhizol, isofuranogermakren, trisiklin, allo-aromadendren, serta germakren. Keberadaan senyawa-senyawa tersebut bersama kurkumin menjadikan temulawak memiliki khasiat yang bermanfaat dalam bidang pengobatan (Taryono et al., 1987; Kurnia, 2006 dalam Oktaviana, 2010; Khaerana et al., 2008).
Manfaat Temulawak
Temulawak telah lama dimanfaatkan sebagai tanaman herbal untuk menjaga kesehatan serta membantu pencegahan dan pengobatan berbagai penyakit. Senyawa aktif yang terkandung di dalamnya diketahui berperan dalam melancarkan produksi air susu ibu (ASI) dan membantu proses pembersihan darah (Rukmana, 2004).
Rimpang temulawak memiliki berbagai khasiat, antara lain sebagai laktagoga, kolagoga, antiinflamasi, tonikum, dan diuretik. Minyak atsiri yang terkandung di dalam temulawak diketahui bersifat fungistatik terhadap beberapa jenis jamur serta memiliki efek bakteriostatik terhadap mikroorganisme seperti Staphylococcus sp. dan Salmonella sp. Aktivitas kolagoga temulawak ditunjukkan melalui peningkatan produksi dan pengeluaran empedu yang bekerja secara kolekinetik dan koleretik. Meningkatnya sekresi empedu dapat mengurangi partikel padat dalam kantung empedu, sehingga berkontribusi dalam meredakan kolik empedu, mengurangi perut kembung akibat gangguan metabolisme lemak, serta menurunkan kadar kolesterol dalam darah (Dalimartha, 2000).
Temulawak berguna untuk mengobati gangguan fungsi hati, seperti hepatitis dan perlemakan hati. Bahan alami ini bekerja sebagai kolagoga yang mampu meningkatkan sekresi empedu, mengurangi kadar kolesterol, dan mendukung enzim pemecah lemak di hati. Manfaat ini bisa peroleh berkat kandungannya berupa kurkuminoid.
Temulawak diketahui mampu menghambat proses pembelahan sel tumor serta pembentukan jaringan kista pada paru-paru dan jaringan perut, serta menunjukkan aktivitas antiproliferatif terhadap sel kanker payudara MCF-7. Selain xanthorrhizol, temulawak juga mengandung senyawa lain seperti α-kurkumen, ar-turmeron, dan α-atlanton. Kurkumin dilaporkan berperan dalam menghambat pertumbuhan sel kanker (Choi et al., 2004). Selain itu, menurut Yasni et al. (1994), α-kurkumene merupakan salah satu senyawa aktif yang berpotensi menurunkan kadar trigliserida.
Dalam hal kosmetika, mengatasi jerawat menjadi salah satu manfaat temulawak untuk wajah. Bahan alami ini memiliki sifat astringen yang dapat mengurangi sekresi sel sebasea penyebab jerawat. Selain itu, temulawak juga memiliki daya antiseptik ringan yang mampu membersihkan kulit dan bakteri-bakteri patogen. Hasilnya, jerawat dapat berangsur-angsur membaik dan sembuh dengan sendirinya.
Selain dimanfaatkan sebagai bahan jamu dan obat tradisional, temulawak juga berpotensi sebagai sumber karbohidrat melalui pemanfaatan pati yang dikandungnya. Pati tersebut dapat diolah menjadi bubur sebagai bahan makanan bagi bayi maupun individu yang mengalami gangguan pencernaan (Sastrapradja et al., 1981). Menurut Dalimartha (2000), pati temulawak juga dapat dikembangkan sebagai sumber karbohidrat dalam berbagai jenis produk pangan, seperti bubur bayi dan aneka kue.
Berdasarkan hasil penelitian, temulawak diketahui bermanfaat bagi kesehatan lambung, terutama dalam membantu mengatasi gangguan pencernaan seperti maag dan peradangan pada dinding lambung. Hal ini disebabkan oleh sifat antiinflamasi serta kandungan senyawa aktifnya, antara lain kurkumin dan xanthorrhizol, yang berperan dalam menjaga fungsi saluran pencernaan.
Pemanfaatan temulawak sebagai pewarna alami pada produk pangan diharapkan dapat menggantikan penggunaan pewarna sintetis yang selama ini banyak digunakan. Ketentuan mengenai bahan pewarna yang diperbolehkan maupun yang dilarang dalam makanan telah diatur dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 722/Menkes/Per/IX/88 tentang bahan tambahan pangan. Namun demikian, dalam praktiknya masih sering ditemukan penggunaan pewarna berbahaya pada produk makanan (Anzar, 2016).
Penutup
Temulawak merupakan tanaman khas Indonesia yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Kandungan senyawa aktif di dalam rimpang temulawak, seperti kurkumin, minyak atsiri, pati, serta berbagai fitokimia lainnya, berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh. Senyawa-senyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, dan mampu membantu menurunkan kadar lemak dalam darah, sehingga temulawak bermanfaat dalam pencegahan dan penanganan berbagai penyakit, seperti gangguan pencernaan, masalah hati, peradangan, hingga berpotensi menghambat pertumbuhan sel kanker.
Selain di bidang kesehatan, temulawak juga memiliki kegunaan lain, yaitu sebagai bahan pangan dan kosmetika. Pati temulawak dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat yang diolah menjadi berbagai jenis makanan, terutama untuk bayi dan penderita gangguan pencernaan. Dalam bidang perawatan kulit, temulawak membantu mengatasi jerawat karena sifat astringen dan antiseptiknya. Temulawak juga berpotensi digunakan sebagai pewarna alami pada produk pangan yang lebih aman dibandingkan pewarna sintetis. Dengan berbagai kandungan dan manfaat tersebut, temulawak layak dikembangkan lebih lanjut sebagai tanaman herbal unggulan yang bernilai tinggi dan bermanfaat bagi kesehatan serta kesejahteraan masyarakat.
Daftar Pustaka:
- Aniswatul Khamidah, S. S. A. dan T. S. (2017). RAGAM PRODUK OLAHAN TEMULAWAK UNTUK MENDUKUNG KEANEKARAGAMAN PANGAN. Jurnal Litbang Pertanian, Vol. 36(No. 1), 1–12.
- Tim Konten Medis. (2025, January). 10 Manfaat Temulawak Biar Tubuh Makin Sehat.
- Tim Medis Siloam Hospitals. (2024, October). Berbagai Manfaat Temulawak untuk Kesehatan, Apa Saja?
Biodata Penulis:
Sandrina Nur Elfarini saat ini aktif sebagai Mahasiswa Farmasi di Universitas Binawan.