Kesenjangan Teknologi Industri Besar vs UMKM

Industri 4.0 membuka peluang besar bagi UMKM. Yuk simak kesenjangan teknologi dan solusi kolaboratif agar transformasi digital lebih inklusif.

Oleh Dahayu Adya Gantari

Perkembangan Industri 4.0 telah mengubah cara bisnis berjalan. Teknologi digital tidak hanya jadi alat bantu, tetapi sudah jadi bagian utama dalam meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing perusahaan. Meskipun ada kemajuan, masih ada perbedaan yang cukup besar antara perusahaan besar dan UMKM, terutama di negara seperti Indonesia.

Perusahaan besar biasanya punya modal lebih banyak, sehingga bisa berinvestasi besar dalam penelitian, pengembangan, dan infrastruktur teknologi. Dengan dana yang cukup, mereka lebih mampu menerapkan teknologi canggih seperti otomasi, kecerdasan buatan, dan sistem berbasis data. Sementara UMKM sering mengalami keterbatasan dana, sehingga fokus utamanya adalah menjaga bisnis harian, bukan berinvestasi jangka panjang di bidang teknologi.

Kesenjangan Teknologi Industri Besar vs UMKM

Selain modal, perbedaan skala ekonomi juga memperlebar jarak antara perusahaan besar dan UMKM. Perusahaan besar bisa manfaatkan teknologi otomatis karena produksi mereka cukup besar, sehingga biaya investasi teknologi terasa lebih kecil. Sebaliknya, UMKM sering merasa investasi pada mesin atau sistem digital terlalu mahal, tidak sebanding dengan keuntungan yang mereka dapat karena produksi yang relatif lebih kecil.

Ketersediaan tenaga ahli juga jadi faktor penting dalam perbedaan teknologi. Perusahaan besar lebih menarik tenaga profesional karena bisa memberikan gaji dan fasilitas yang lebih baik. Sementara itu, UMKM sulit mendapatkan tenaga yang kompeten di bidang teknologi, karena batasan finansial dan kurangnya kesempatan pelatihan yang relevan.

Untuk mengatasi perbedaan itu, diperlukan langkah strategis yang melibatkan pihak-pihak terkait. Salah satu solusi yang bisa diterapkan adalah penggunaan teknologi berbasis langganan atau SaaS. Model ini memungkinkan UMKM mengakses teknologi digital dengan biaya lebih murah, tanpa perlu investasi besar awal, sehingga lebih sesuai dengan kondisi finansial mereka.

Selain itu, perlu diperkuat kerja sama antara perusahaan besar dan UMKM, terutama dalam bentuk transfer teknologi. Melalui kerja sama dalam rantai pasok, perusahaan besar bisa membantu UMKM meningkatkan kemampuan teknologi dan manajemen mereka. Pendekatan ini tidak hanya bermanfaat bagi UMKM, tetapi juga memperkuat ekosistem industri secara keseluruhan.

Peran pemerintah juga sangat penting dalam menyediakan infrastruktur publik yang merata. Ketersediaan internet yang cepat, stabil, dan terjangkau hingga ke daerah terpencil sangat penting agar UMKM di berbagai wilayah bisa memanfaatkan teknologi digital secara adil. Tanpa infrastruktur yang memadai, upaya transformasi digital tidak akan bisa tercapai secara inklusif.

Di samping itu, peningkatan literasi digital perlu menjadi fokus utama. Literasi digital tidak hanya mencakup kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga pemahaman mengenai keamanan data, pemasaran digital, dan analisis pasar sederhana. Dengan literasi digital yang memadai, pelaku UMKM dapat memanfaatkan teknologi secara lebih optimal untuk mengembangkan usaha mereka.

Dengan sinergi antara pelaku usaha besar, UMKM, dan pemerintah, kesenjangan teknologi di era Industri 4.0 dapat diperkecil. Upaya ini tidak hanya penting untuk meningkatkan daya saing UMKM, tetapi juga untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Biodata Penulis:

Dahayu Adya Gantari saat ini aktif sebagai mahasiswa, Fakultas Teknik, di Universitas Pamulang.

© Sepenuhnya. All rights reserved.