Ketika Alam Rusak, Manusia Ikut Terancam

Saat alam kelelahan, manusia ikut menderita. Yuk simak alasan kenapa isu lingkungan adalah soal kemanusiaan dan kelangsungan hidup.

Oleh Haikal Wicaksono

Kalau alam rusak, sebenarnya yang paling rugi itu bukan pohon, bukan sungai, dan bukan hewan liar. Yang paling terancam itu justru malah manusia itu sendiri. Sayangnya, banyak orang masih mikir kerusakan alam itu masalah yang kecil, seolah-olah dampaknya cuma buat generasi nanti. Padahal kenyataannya, kita semua yang hidup sekarang pun sudah mulai merasakan akibatnya, sedikit demi sedikit, dan makin berasa.

Ketika Alam Rusak, Manusia Ikut Terancam

Coba aja lihat sekitar kita. Cuaca makin aneh dan susah ditebak, hujan bisa turun deras banget tanpa peringatan, lalu tiba-tiba panas yang menyengat berhari-hari. Banjir dan longsor datang hampir tiap tahun, bahkan di daerah yang dulunya aman. Itu bukan kejadian alam yang biasa, tapi tanda kalau keseimbangan lingkungan sudah terganggu. Hutan ditebang sembarangan, lahan hijau berubah jadi aspal atau beton, sungai dipenuhi sampah, dan laut dijadikan tempat buang limbah. Alam yang seharusnya jadi penyangga kehidupan akhirnya kelelahan menahan ulah manusia.

Ironisnya, manusia sering merasa paling pintar dan paling berkuasa. Kita membangun kota, pabrik, dan teknologi canggih, tapi lupa kalau semua itu berdiri di atas alam. Kita butuh air bersih, udara segar, tanah subur, dan iklim yang stabil untuk bisa hidup normal. Begitu alam rusak, semua kebutuhan dasar itu ikut terganggu. Air bersih jadi langka, udara penuh polusi bikin penyakit pernapasan meningkat, dan hasil pertanian menurun karena cuaca nggak bisa diprediksi.

Kerusakan alam juga bikin kesenjangan sosial makin parah. Orang-orang yang punya uang mungkin masih bisa beli air galon, pasang AC, atau pindah ke tempat yang lebih aman. Tapi masyarakat kecil? Mereka yang tinggal di bantaran sungai, pesisir pantai, atau daerah rawan bencana jadi korban pertama. Saat banjir datang, rumah hanyut, mata pencaharian hilang, dan hidup mereka makin sulit. Jadi, rusaknya alam bukan cuma soal lingkungan, tapi juga soal kemanusiaan.

Masalahnya, banyak dari kita masih bersikap seolah-olah ini bukan urusan pribadi. Buang sampah sembarangan dianggap hal kecil, pakai plastik sekali pakai terus-terusan juga dianggap biasa. Padahal kalau dilakukan jutaan orang setiap hari, dampaknya luar biasa besar. Alam punya batas, dan sekarang batas itu sudah hampir terlewatkan. Tapi manusia sering baru sadar setelah semuanya terlambat.

Kalau alam benar-benar marah, manusia nggak punya banyak pilihan. Kita nggak bisa hidup tanpa air atau udara bersih. Teknologi secanggih apa pun nggak akan bisa sepenuhnya menggantikan fungsi alam yang sudah hilang. Kita bisa bikin gedung tahan gempa, tapi nggak bisa menghentikan badai besar. Kita bisa bikin bendungan, tapi nggak selalu bisa menahan banjir bandang. Alam selalu lebih kuat, dan manusia sebenarnya sangat rapuh kalau kehilangan perlindungan alam.

Yang bikin miris, kerusakan alam sering dilakukan demi kenyamanan jangka pendek. Menggundulkan hutan buat keuntungan cepat, buang limbah ke sungai, atau eksploitasi sumber daya nggak mikir dampak jangka panjangnya kaya gimana. Keuntungan segelintir orang dibayar mahal oleh banyak orang, termasuk generasi yang belum lahir. Anak cucu kita mungkin akan hidup di dunia yang lebih panas, lebih kotor, dan lebih berbahaya karena keputusan kita hari ini.

Tapi bukan berarti semuanya sudah terlambat. Kesadaran masih bisa dibangun, asal ada kemauan. Menjaga alam tidak selalu harus lewat aksi besar. Hal sederhana seperti mengurangi sampah plastik, hemat air, menanam pohon, atau peduli dengan lingkungan sekitar sudah punya dampak. Yang penting adalah mengubah cara pandang alam bukan objek yang bisa dieksploitasi sesuka hati, tapi partner hidup manusia.

Pada akhirnya, merusak alam sama saja dengan menggali lubang buat diri sendiri. Kita mungkin nggak langsung jatuh hari ini, tapi perlahan tanah di bawah kaki kita akan runtuh. Kalau manusia ingin bertahan, mau nggak mau kita harus berdamai dengan alam. Karena ketika alam rusak, manusia bukan cuma terancam, tapi sedang menuju kehancurannya sendiri.

Selain dampak fisik yang kelihatan jelas, rusaknya alam juga berpengaruh ke kondisi mental manusia. Hidup di lingkungan yang kotor, panas, dan penuh bencana bikin orang gampang stres, cemas, bahkan putus asa. Banyak orang kehilangan rasa aman karena setiap musim hujan takut banjir, setiap kemarau khawatir kekeringan. Alam yang rusak secara nggak langsung menciptakan tekanan psikologis yang terus-menerus, terutama bagi mereka yang hidupnya sangat bergantung pada kondisi lingkungan.

Kalau cara berpikir ini nggak diubah, ancaman ke manusia akan makin nyata. Bukan cuma soal banjir atau polusi, tapi juga krisis pangan, konflik sumber daya, dan meningkatnya angka kemiskinan. Alam yang rusak bisa memicu masalah serius yang akhirnya bikin kehidupan manusia makin tidak manusiawi. Jadi, menyelamatkan alam bukan soal idealisme atau gaya hidup hijau semata, tapi soal bertahan hidup.

Biodata Penulis:

Haikal Wicaksono saat ini aktif sebagai mahasiswa, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Kesejahteraan sosial, di Universitas Muhammadiyah Jakarta.

© Sepenuhnya. All rights reserved.