Oleh Yohanes Wogo
Kelopak 2025 telah berguguran dan kuntum baru 2026 mulai mekar. Awal tahun kerap dipahami sebagai moment refleksi dan harapan baru, ketika masyarakat menaruh harapan pada hadirnya keterbukaan, ketertiban, dan iklim sosial yang lebih sehat. Namun, pergantian waktu tidak selalu beriringan dengan perubahan praktik. Intimidasi terhadap nalar kritis merupakan gejala yang kerap muncul ketika, ruang publik dan akademik berada dalam ketegangan antara kuasa dan kebebasan berpikir. Dalam konteks ini, representasi fiksi sering kali berfungsi sebagai media reflektif untuk membaca realitas sosial yang lebih luas. Salah satunya adalah Serial Wednesday yang menghadirkan figur yang secara konsisten mempertanyakan otoritas, menolak kepatuhan tanpa dasar rasional, dan memilih sikap kritis terhadap struktur kekuasaan yang bekerja secara terselubung.
Pola serupa dapat dibaca dalam peristiwa teror terhadap Guru Besar Fakultas Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada beberapa waktu lalu, di mana ancaman tidak hadir melalui mekanisme hukum yang transparan, melainkan melalui intimidasi personal yang memanfaatkan rasa takut. Dilansir dari (medcom.id) teror terjadi pada awal Januari 2026 melalui panggilan telepon seluler dari nomor yang tidak dikenal sebelumnya. Dalam panggilan tersebut, orang yang menelpon mengaku sebagai anggota kepolisian dari Polresta Yogyakarta dan pelaku menyampaikan kepada Prof. Zainal Arifin Mochtar untuk segera menghadap ke kantor polisi dengan membawa kartu tanda penduduk. Ancaman kemudian dilontarkan dengan menyebutkan kemungkinan penangkapan apabila permintaan tersebut tidak dipenuhi. Peristiwa tersebut kembali ditegaskannya melalui unggahan di akun Instagram pribadi prof. Zainal pada Jumat, 2 Januari 2026 lalu. Dalam unggahan tersebut, ia mengatakan bahwa ini bukan panggilan yang didahului oleh proses resmi atau surat, dan tidak ada permintaan uang melainkan semata-mata desakan untuk datang dengan membawa serta kartu tanda penduduk.
Peristiwa tersebut sebetulnya tidak dapat dipahami semata sebagai kasus teror individual, melainkan sebagai bukti akan “rapuhnya kebebasan akademik ketika daya kritis berhadapan dengan praktik kekuasaan yang tidak transparan.” Ancaman semacam ini memiliki dampak yang melampaui individu yang menjadi sasaran, karena berpotensi menimbulkan rasa takut dan kehati-hatian berlebihan di kalangan akademisi dan mereka yang selalu vokal dalam menyuarakan keadilan. Dalam konteks tersebut, intimidasi tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan verbal secara langsung, tetapi melalui penciptaan rasa takut, sehingga banyak orang yang memilih diam dan enggan menyampaikan kritik, meskipun tak ada larangan resmi.
Hal ini tentunya sangat bertolak belakang dengan kebijakan dalam kebebasan berpendapat di Indonesia, karena sebetulnya kebebasan berpendapat merupakan salah satu hal yang dijamin secara konstitusi, sebagaimana tertera dalam Pasal 28E ayat (3) dan Pasal 28F Undang-Undang Dasar 1945, serta diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Namun tetap saja, jaminan hukum tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan apa yang terjadi di lapangan, di mana banyak orang sebenarnya bebas berbicara menurut hukum, tetapi memilih diam karena adanya tekanan dan intimidasi tidak resmi yang menimbulkan rasa takut.
Fenomena pembungkaman semacam ini tidak hanya dapat dibaca melalui peristiwa sosial dan hukum, tetapi dapat dikritisi dalam ranah budaya populer. Ketika teror dan intimidasi bergerak secara senyap, menyusup ke dalam ruang pikiran dan rasa aman, keberanian untuk berpihak pada kebenaran sering diuji. Namun justru dalam tekanan semacam itulah, komitmen terhadap kebenaran dan integritas berpikir menemukan maknanya yang paling mendasar. Salah satu serial Netflix, Wednesday, yang disutradarai oleh Tim Burton, menghadirkan narasi reflektif tentang bagaimana kita mempertahankan sikap kritis di tengah situasi yang sarat dengan tekanan dan ketakutan.
Melalui karakter Wednesday Addams, kita diajar bahwa keberanian berpikir dan menolak keputusan tanpa dasar rasional kerap diposisikan sebagai ancaman oleh struktur kekuasaan yang bekerja secara terselubung. Akan tetapi, kondisi tersebut tidak serta merta meniadakan kemungkinan untuk tetap berpijak pada kebenaran. Melalui tokoh utamanya, serial Netflix Wednesday menunjukan bahwa keteguhan pada prinsip dan kejelasan prioritas justru menjadi kekuatan dalam menghadapi tekanan yang bersumber dari kekuasaan yang tidak transparan.
Dengan demikian, sejatinya kita dihantar untuk lebih memaknai akan arti kebebasan dalam menyuarakan nilai-nilai keadilan, tanpa memiliki rasa takut untuk diteror dan diintimidasi. Negara sejatinya hadir melindungi dan memberikan ruang kebebasan bagi publik untuk menyampaikan aspirasinya demi terciptanya nilai-nilai keadilan, kebebasan, dan kebaikan bersama. Bukan sebaliknya, membiarkan pihak-pihak tertentu “memperkosa” suara-suara kemanusiaan yang sejatinya memiliki orientasi yang jelas demi terciptanya Indonesia yang lebih baik.
Biodata Penulis:
Yohanes Wogo saat ini aktif sebagai Mahasiswa Filsafat di Universitas Katolik Widya Mandira.