Oleh Dr. Edy Suseno, S.Pd., M.Pd.
KULON PROGO – Di tengah deru pembangunan infrastruktur dan penetrasi teknologi digital yang kian masif hingga ke pelosok desa, sebuah pertanyaan besar membayangi masa depan generasi muda: di manakah benteng moral mereka dibangun? Di Kabupaten Kulon Progo, sebuah jawaban konkret tengah dipahat. Bukan melalui gedung-gedung pencakar langit, melainkan melalui revitalisasi pendidikan agama non-formal yang kini dikenal sebagai "Formasi Baru" Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) An-Nur.
Selama ini, madrasah diniyah seringkali dipandang sebagai institusi pelengkap atau sekadar tempat "menitipkan anak" di sore hari. Namun, gerakan yang kini tumbuh di wilayah Krembangan, Panjatan, Kulon Progo, ini membuktikan bahwa madrasah mampu bertransformasi menjadi lembaga yang modern, profesional, dan tetap teguh menjaga akar tradisi pesantren.
Sinergi Akademik: Jembatan Menuju Profesionalisme Pengajar
Satu hal yang paling mencolok dari formasi baru MDT An-Nur adalah keberaniannya untuk keluar dari zona nyaman melalui kemitraan strategis dengan dunia perguruan tinggi. IKIP Widya Darma Surabaya hadir sebagai mitra pendamping, membawa angin segar profesionalisme ke dalam ruang-ruang kelas madrasah.
Keterlibatan Dr. Edy Suseno, S.Pd., M.Pd., seorang pakar pendidikan bahasa Inggris, menjadi bukti nyata bahwa pengajaran di madrasah kini tidak lagi hanya berkutat pada pengulangan hafalan tradisional. Melalui pendampingannya, para mentor di MDT An-Nur mulai membekali santri usia dini dan tingkat sekolah dasar dengan kecakapan global. Ini adalah integrasi yang cerdas: santri tetap mengaji Al-Qur'an, namun mereka juga dipersiapkan menghadapi dunia yang kian tanpa sekat.
Lebih dari itu, kepedulian terhadap kesejahteraan dan kualifikasi pendidik diwujudkan melalui penawaran beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP). Para pengurus dan pengajar didorong untuk meraih gelar sarjana secara online di lima jurusan strategis, mulai dari Bahasa Inggris hingga Pendidikan Ekonomi, lengkap dengan tunjangan uang saku. Ini bukan sekadar bantuan finansial, melainkan investasi jangka panjang untuk memastikan pengajar madrasah memiliki kompetensi pedagogis yang mumpuni.
Kurikulum Karakter: Menanamkan "Unggah-Ungguh" di Era Digital
MDT An-Nur memahami bahwa anak-anak era pasca-pandemi membutuhkan lebih dari sekadar teori. Oleh karena itu, kurikulum karakter menjadi jantung dari formasi baru ini. Fokus utamanya bergeser pada penguatan kepribadian yang relevan dengan kearifan lokal Kulon Progo:
- Fikih Keseharian & Adab: Santri tidak hanya menghafal hukum ibadah, tetapi mendiskusikan implementasi praktisnya, seperti adab berbicara kepada orang tua menggunakan bahasa Jawa Krama (unggah-ungguh).
- Metode Klasikal yang Ceria: Menyadari tantangan kejenuhan santri setelah seharian di sekolah umum, MDT An-Nur menggunakan media visual dan alat peraga untuk menjelaskan sejarah nabi agar belajar menjadi momen yang dinanti.
- Evaluasi Transparan: Penggunaan absensi digital dan laporan perkembangan santri (Buku Penghubung) memastikan orang tua terlibat aktif dalam memantau perilaku anak di rumah, tidak hanya hafalan Al-Qur'an mereka.
Madrasah sebagai Benteng Desa dan Mitigasi Sosial
Keberadaan MDT An-Nur berfungsi sebagai benteng moral di tingkat desa. Di tengah maraknya isu ketergantungan gawai dan degradasi moral remaja, madrasah ini menawarkan lingkungan "Madrasah Ramah Anak". Pengajar berperan sebagai mentor dan sahabat, menciptakan suasana belajar yang tidak kaku.
Kegiatan luar ruangan seperti "Outbound Religi" di Kebon Jati atau pantai-pantai lokal menjadi sarana tadabbur alam. Di sini, santri diajarkan tanggung jawab menjaga ekosistem sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta. Selain itu, keterlibatan generasi muda dalam struktur pengelola memberikan energi baru dalam pemanfaatan teknologi untuk dakwah positif di media sosial.
Seruan untuk Pemerintah dan Masyarakat
Revitalisasi MDT An-Nur Krembangan, Panjatan Kulon Progo seharusnya menjadi prototipe bagi kebijakan pendidikan daerah. Dukungan pemerintah tidak boleh lagi hanya bersifat administratif, tetapi harus menyentuh penguatan infrastruktur digital dan dukungan nyata bagi beasiswa pendidik madrasah.
Masyarakat pun diharapkan kembali menghidupkan semangat gotong royong untuk mendukung kegiatan operasional madrasah. Sebab, investasi terbaik bagi sebuah desa bukanlah sekadar jalan yang mulus, melainkan kehalusan budi pekerti dan ketajaman intelektual generasinya.
Visi MDT An-Nur sangat jelas: "Mewujudkan Generasi Santri Kulon Progo yang Berakhlak Mulia, Cerdas Literasi, dan Menjunjung Tinggi Kearifan Lokal". Kini, saatnya kita semua bergandeng tangan memastikan cahaya dari madrasah-madrasah kecil ini tetap terang menyinari masa depan Indonesia.