Membangun Generasi Adaptif untuk Menghadapi dan Mengelola Industri 4.0

Jangan tertinggal di era Industri 4.0. Yuk simak bagaimana pendidikan dan lifelong learning menjadi kunci menghadapi otomatisasi dan disrupsi kerja.

Oleh Muhammad Nabil Rajaban

Apakah Anda tahu, seberapa canggih teknologi sekarang? Perkembangan teknologi yang sangat pesat dan menyeluruh adalah hasil dari Revolusi Industri Keempat, atau nama lainnya, Industri 4.0. Dikutip dari aptika.kominfo.go.id, Revolusi Industri 4.0 adalah fenomena transformasi dari segala lini produksi di dalam industri yang mengolaborasikan teknologi siber dan teknologi otomatisasi. Konsep penerapan Revolusi Industri 4.0 berpusat pada otomatisasi yang dibantu teknologi informasi dalam proses pengaplikasiannya. Dampaknya, keterlibatan tenaga manusia dapat berkurang. Industri 4.0 meminimalisasi risiko human error dan meningkatkan efisiensi produktivitas pada proses produksi, menjamin keamanan data karena terhubung ke dalam cloud computing, meningkatkan visibilitas terhadap status ketersediaan barang serta proses pengiriman, dan sistem dapat dikendalikan secara real time.

Membangun Generasi Adaptif untuk Menghadapi dan Mengelola Industri 4.0

Inovasi yang muncul di era Industri 4.0 tentu membawa banyak manfaat, namun disertai juga dengan tantangan dan dilema. Sudahkah kita memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan sepenuhnya dan berdaya saing, atau apakah kita hanya sebagai konsumen? Apakah kita siap menghadapi era di mana kita bisa mengakses dan memberi informasi dengan sebegitu mudahnya, tapi juga sebegitu mudah untuk orang lain untuk berbuat jahat? Apabila teknologi sudah secanggih ini, bagaimana cara agar kita tidak digantikan begitu saja? Tentunya, perkembangan teknologi informasi sering merupakan pisau bermata dua. Dengan mudahnya mengakses informasi, mudah juga untuk mendapatkan information overload dan mudah untuk menyebarkan hoax. Dengan mesin yang lebih canggih, terdapat juga disrupsi pekerjaan. Permasalahan tersebut harus kita pecahkan. Dengan majunya zaman, kita juga harus ikut maju, jangan sampai tertinggal olehnya.

Oleh karena itu, kita harus mengubah pandangan kita tentang pendidikan. Sebaiknya, kita harus menempuh proses pendidikan dengan mengembangkan empati dan soft skill, kemampuan berpikir kritis dan kreatif, serta kemampuan untuk berkolaborasi dengan yang lain untuk menghadapi masalah sekitar maupun di dunia digital. Proses yang menumbuhkan nilai visionary, bukan nilai survivalist, agar generasi kita dan generasi ke depannya dapat menjadi kontributor yang aktif dan bertanggung jawab, serta membangun karakter agent of change sejak dini.

Untuk pendidikan yang lebih modern, kita harus sadar bahwa informasi dan minat khusus itu sangat mudah didapatkan, baik dari internet maupun media sosial. Kita semua sekarang berada di dunia yang penuh dengan pilihan dan pengalaman terpersonalisasi yang dimungkinkan oleh teknologi. Kita memiliki akses yang mudah ke video dan acara yang ingin kita tonton, teman-teman hanya berjarak satu pesan, dan kita dapat menyesuaikan perangkat seluler kita dengan aplikasi yang kita anggap paling bermanfaat, disusun dalam urutan yang paling efisien untuk kita akses. Dengan itu, sebaiknya proses pembelajaran bisa dipersonalisasikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing yang beragam, bukan menyeragamkan sesuai dengan standar yang belum tentu sesuai dengan minat dan bakat. Personalisasi pelajaran sesuai dengan kemampuan, minat, dan bakat dapat mempermudah siswa-siswi dalam menyerap ilmu yang akan bermanfaat baginya nanti, dan yang paling penting, menumbuhkan semangat belajar untuk ilmu, bukan untuk nilai saja.

Tentunya, untuk mewujudkan pendidikan modern yang berkualitas, maka dibutuhkan metode pembelajaran yang aktif, kolaboratif, dan berdasarkan pemecahan masalah, di mana siswa-siswi membahas dan menerapkan ilmu dari hasil analisis, sintesis, dan evaluasi bersama, serta membuat proyek untuk memecahkan masalah yang difasilitasi oleh sosok gurunya yang berperan sebagai pembimbing. Dengan metode tersebut, siswa-siswi diharapkan mendapatkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif, keterampilan kolaboratif, dan dapat mengaplikasikan ilmunya pada saat dibutuhkan.

Syukurlah, Kurikulum Merdeka telah memuat aspek-aspek tersebut. Namun sayangnya, transisi dari kurikulum lama ke kurikulum baru masih terlihat jauh dari kesempurnaan, dikarenakan kurang matangnya persiapan guru dan sulitnya mengubah pola pikir yang sudah dijalankan sejak awal masuknya pendidikan oleh kolonial Belanda. Pada umumnya, kurikulum lama sebagian besar dipengaruhi oleh kebutuhan Industri 1.0 dan 2.0, di mana pendidikan menggunakan metode pasif, (yakni mendengar, mencatat, dan menghafal) untuk menyiapkan siswa-siswinya untuk pekerjaan pabrik dan perkantoran. Memang benar ini merupakan transformasi pendidikan yang sangat drastis dan banyak sekolah belum tentu menjalankan Kurikulum Merdeka dengan efektif, tapi setidaknya kita harus menerapkan prinsip-prinsip yang tertuang dalam kurikulum tersebut dalam belajar dan mengajar.

Kita harus ingat bahwa belajar ataupun mengajar bukan kegiatan yang eksklusif untuk lingkungan sekolah. Yang membuat pendidikan zaman sekarang berbeda dan memiliki potensi sangat tinggi adalah kita dapat mempelajari materi, bahkan melatih skill di mana saja dan kapan saja. Dengan banyaknya pilihan dan pengalaman yang bisa kita dapatkan, kita bisa menerapkan lifelong learning, di mana kita bisa menempuh jalan pendidikan dalam bentuk apa pun dan sepanjang hayat. Menggunakan teknologi untuk mendukung lifelong learning digabung dengan metode pembelajaran yang aktif, kolaboratif, dan berdasarkan pemecahan masalah merupakan kombinasi jitu untuk membangun akal yang lincah dan fleksibel untuk generasi yang adaptif untuk menghadapi dan mengelola Industri 4.0 dan industri berikutnya.

Penting untuk diingat bahwa walaupun mesin bisa mengganti hard skill dengan bentuk otomasi, otak manusia masih merupakan alat terkuat di muka bumi, kemampuan berpikir kritis, berempati, dan kreativitas manusia tidak akan pernah tergantikan oleh algoritma. Justru keterampilan non-otomasi inilah yang merupakan keterampilan yang memiliki nilai jual tertinggi, dan fondasi kita untuk memimpin bangsa kita menuju masa depan yang gemilang.

Referensi:

  • World Economic Forum. (2020, January). Schools of the future: Defining new models of teaching for the Fourth Industrial Revolution. World Economic Forum. https://www.weforum.org/publications/schools-of-the-future-defining-new-models-of-education-for-the-fourth-industrial-revolution/

© Sepenuhnya. All rights reserved.