Oleh Kamilah Syukrina
Sebuah kelas PAUD di pagi hari, suara riuh anak-anak memenuhi ruangan. Di sudut kelas, ada sekelompok anak yang sedang bermain berbagai mainan. Tiba-tiba, suasana ceria itu pecah ketika seorang anak merebut boneka dari tangan temannya. “Itu punyaku!” teriak seorang anak yang bonekanya diambil oleh temannya dan berusaha menarik kembali mainan tersebut. Anak yang lain tidak mau kalah, ia pun menangis keras dan mulai memukul-mukul lantai. Guru yang melihat kejadian ini segera menghampiri, namun situasinya tidak mudah untuk diselesaikan. Kedua anak tersebut sama-sama merasa berhak atas mainan yang diperebutkan.
Kisah seperti ini bukan tentang hal baru bagi para pendidik dan orang tua yang berinteraksi dengan anak usia dini. Konflik berbagi mainan adalah salah satu tantangan paling umum dalam proses tumbuh kembang anak. Pertanyaannya adalah, mengapa hal seperti ini terjadi? Dan lebih penting lagi, bagaimana kita sebagai pendidik dan orang tua dapat membantu anak mengatasi kesulitan berbagi dengan cara yang tepat dan bermakna?
Menerapkan Pendekatan John Dewey dalam Mengatasi Masalah Berbagi
Bagaimana cara praktis kita dapat menerapkan filosofi Dewey dalam membantu anak untuk belajar berbagi? Berikut adalah langkah-langkah konkret yang dapat diterapkan di rumah maupun di lingkungan pendidikan usia dini.
Langkah Pertama: Ciptakan pengalaman berbagi yang autentik
Dewey menekankan pentingnya pembelajaran melalui pengalaman yang autentik dan bermakna. Artinya, kita pelu menciptakan situasi di mana anak benar-benar mengalami proses berbagi dalam konteks yang nyata dan relevan bagi mereka. Misalnya, saat snack time di kelas, kita bisa membagi kelompok-kelompok kecil dan memberikan satu wadah besar berisi biskuit atau buah-buahan untuk dibagikan bersama. Alih-alih guru yang membagikan makanan ke setiap anak, biarkan anak-anak sendiri yang harus mengatur bagaimana cara berbagi makanan tersebut dengan adil di antara anggota kelompok mereka.
Dalam situasi ini anak mengalami secara langsung tantangan berbagi: bagaimana memastikan semua orang mendapat bagian, bagaimana berkomunikasi dengan teman, bagaimana menangani perasaan jika ingin lebih banyak tetapi harus berbagi dengan yang lain. Pengalaman konkret ini jauh bermakna daripada sekadar mendengar nasihat "kamu harus berbagi dengan temanmu".
Langkah Kedua: Bimbing anak untuk merefleksikan pengalaman mereka
Setelah anak mengalami situasi berbagi, langkah selanjutnya yang sangat penting menurut Dewey adalah pembimbing mereka untuk merefleksikan pengalaman tersebut. Refleksi ini bisa dilakukan melalui diskusi kelompok atau circle time di akhir kegiatan. Ajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang mendorong anak berpikir: bagaimana perasaanmu tadi saat harus berbagi biskuit dengan teman-temanmu? Apa yang kamu lakukan supaya semua teman bisa mendapat bagian? Bagaimana perasaanmu ketika temanmu berbagi denganmu? Apa yang terjadi kalau ada yang tidak mau berbagi?
Melalui pertanyaan-pertanyaan ini, kita membantu anak menghubungkan pengalaman mereka. Dengan pemahaman yang lebih dalam tentang nilai berbagi mereka mulai menyadari bahwa berbagi membuat semua orang senang, bahwa berbagi membangun pertemanan dan bahwa tidak berbagi dapat menyebabkan teman merasa sedih atau marah. Penting untuk diingat bahwa refleksi ini harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak, gunakan bahasa yang sederhana, visual atau alat peraga jika diperlukan dan beri waktu yang cukup bagi anak untuk memikirkan dan mengekspresikan pemikiran mereka.
Langkah Ketiga: Demonstrasi dan modeling
Dewey juga menekankan pentingnya modeling atau pemberian contoh dalam proses pembelajaran. Anak-anak belajar banyak dengan mengamati perilaku orang dewasa di sekitar mereka. Oleh karena itu, kita sebagai pendidik atau orang tua harus menjadi model yang baik dalam hal berbagi. Tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari bagaimana kita berbagi dengan orang lain. Misalnya, saat makan bersama di kelas guru bisa berkata, "Ibu punya roti yang enak, ibu mau berbagi dengan guru lain." atau di rumah, orang tua bisa membagikan makanan dengan anggota keluarga lain dengan cara yang natural penuh ketulusan.
Narasi verbal juga penting saat kita melakukan tindakan berbagi, jelaskan apa yang kita lakukan dan mengapa: "Ibu berbagi roti dengan guru lain karena ibu senang bisa membuat beliau ikut menikmati roti yang enak ini. Berbagi membuat kita semua bahagia". Selain itu, gunakan kesempatan-kesempatan alami dalam aktivitas sehari-hari untuk mendemonstrasikan konsep berbagi. Saat bermain bersama anak, praktikan bergantian menggunakan mainan. "Sekarang giliran Kakak main dengan mobil-mobilan 5 menit, lalu giliran Ayah ya. Kita berbagi mainan supaya sama-sama bisa main".
Langkah keempat: Ciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran sosial
Berikut beberapa cara menciptakan lingkungan tersebut: Sediakan mainan yang mendorong kolaborasi. Pilih mainan atau aktivitas yang memang dirancang untuk dimainkan bersama-sama, seperti puzzle besar, permainan konstruksi, atau permainan peran. Mainan-mainan ini secara natural mendorong anak untuk bekerja sama dan berbagi. Atur area bermain yang memfasilitasi interaksi positif. Desain ruang kelas atau ruang bermain dengan area-area mendorong anak bermain dalam kelompok kecil. Hindari pengaturan terlalu individual atau kompetitif.
Tetapkan aturan sederhana tentang berbagi yang disepakati bersama. Libatkan anak dalam membuat aturan kelas tentang penggunaan mainan. Misalnya, kalau ada teman yang sedang bermain dengan mainan kita tunggu atau minta izin dulu. Ketika anak terlibat dalam pembuatan aturan, mereka lebih memahami alasannya dan lebih termotivasi untuk mematuhinya. Bagi anak yang masih kesulitan memahami konsep "tunggu sebentar" atau "nanti giliran kamu", gunakan alat bantu visual seperti timer atau token giliran. Ini membantu membuat konsep abstrak menjadi lebih konkret dan terukur.
Langkah Kelima: Tangani Konflik sebagai Kesempatan Pembelajaran
Dalam filosofi Dewey, konflik adalah kesempatan pembelajaran yang berharga. Ketika terjadi konflik berbagi mainan, jangan melihatnya sebagai gangguan tetapi sebagai momen belajar. Saat konflik terjadi: Pertama, tenangkan situasi dan pastikan semua anak aman. Kedua, fasilitasi komunikasi dengan membimbing anak mengekspresikan perasaan mereka. Ketiga, ajak anak berpikir tentang solusi dengan pertanyaan terbuka seperti "Bagaimana caranya supaya kalian berdua bisa bermain?" Keempat, bimbing proses problem-solving dengan menawarkan pilihan. Kelima, refleksikan hasil setelah konflik selesai.
Langkah Keenam: Konsistensi dan Kesabaran
Dewey memahami bahwa pembelajaran adalah proses yang membutuhkan waktu dan pengulangan. Keterampilan sosial seperti berbagi tidak bisa dikuasai dalam sekali praktik. Anak membutuhkan banyak kesempatan untuk mencoba, membuat kesalahan, belajar, dan mencoba lagi. Konsistensi dalam menerapkan pendekatan ini sangat penting. Gunakan strategi yang sama setiap kali situasi berbagi muncul. Kesabaran juga krusial karena akan ada hari-hari di mana anak tampak mundur dalam kemampuannya. Ini adalah bagian normal dari proses pembelajaran.
Penutup
Kesulitan anak dalam berbagi mainan adalah tantangan umum dalam perkembangan anak usia dini. Dengan pemahaman yang tepat dan pendekatan berdasarkan filosofi John Dewey, kita dapat membantu anak mengembangkan keterampilan berbagi secara bermakna. Kunci utamanya adalah menciptakan pengalaman autentik untuk praktik berbagi, membimbing refleksi, memberikan contoh yang baik, menciptakan lingkungan yang mendukung, menangani konflik sebagai kesempatan belajar, dan menerapkan semuanya dengan konsistensi dan kesabaran. Berbagi bukan hanya tentang memberikan mainan, tetapi tentang mengembangkan empati, komunikasi, dan keterampilan sosial yang menjadi fondasi penting untuk kehidupan masa depan. Setiap konflik berbagi mainan adalah batu loncatan menuju pemahaman sosial yang lebih matang. Dengan bimbingan yang tepat berdasarkan prinsip pembelajaran eksperiensial Dewey, kita membekali anak dengan keterampilan hidup yang akan mereka bawa hingga dewasa.
Daftar Pustaka:
- Brownell, C. A., Svetlova, M., & Nichols, S. (2009). To share or not to share: When do toddlers respond to another's needs? Infancy, 14(1), 117-130.
- Dewey, J. (1916). Democracy and Education: An Introduction to the Philosophy of Education. New York: Macmillan.
- Dewey, J. (1938). Experience and Education. New York: Macmillan.
Biodata Penulis:
Kamilah Syukrina saat ini aktif sebagai mahasiswa, Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, di UIN Syarif Hidayahtullah Jakarta.