Aceh masih belum baik-baik saja.

Mengenal Tradisi Tambua Tasa di Ulakan, Tapakis, Padang Pariaman

Yuk selami Tambua Tasa, musik pukul khas Pariaman yang hidup di tengah masyarakat Ulakan dan menjadi sumber kemeriahan adat dan kebersamaan.

Oleh Afny Dwi Sahira

Tambua Tasa merupakan salah satu kesenian tradisional yang berkembang di wilayah Pariaman, Sumatera Barat, khususnya di Nagari Ulakan, Kecamatan Tapakis. Kesenian ini menggunakan dua jenis alat musik pukul, yaitu tambua dan tasa, yang dimainkan secara berkelompok. Dalam kehidupan masyarakat Ulakan, Tambua Tasa dikenal sebagai bagian dari tradisi adat yang biasa ditampilkan dalam berbagai kegiatan sosial dan upacara adat.

Mengenal Tradisi Tambua Tasa di Ulakan, Tapakis, Padang Pariaman

Tambua Tasa telah lama hidup di tengah masyarakat Ulakan. Menurut penuturan warga, kesenian ini sudah dimainkan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Bahkan, sebagian warga memperkirakan Tambua Tasa telah hadir di Ulakan selama puluhan tahun. Ia hampir selalu muncul dalam acara baralek, mengiringi anak daro menuju pelaminan, serta dalam berbagai kegiatan kampung seperti perayaan 17 Agustus. Ketika Tambua Tasa mulai terdengar, suasana berubah menjadi ramai dan penuh semangat.

Salah satu pemain Tambua Tasa di Ulakan adalah Aidil, pemuda berusia 21 tahun yang sehari hari bekerja sebagai buruh harian lepas. Aidil mulai memainkan Tambua Tasa sejak tahun 2018. Ia mengenal alat musik ini dari lingkungan keluarga. Menurutnya, Tambua Tasa diwariskan secara turun-temurun, di keluarga Aidil dimulai dari kakak tertua dan kemudian diajarkan kepada adik-adiknya. Tidak ada sanggar resmi atau pendidikan formal. Proses belajar berlangsung secara alami, melihat, mencoba, lalu terbiasa. Bagi Aidil, Tambua Tasa bukan hanya soal alat musik. Ia memaknainya sebagai kesenian yang membuat orang lebih mendekat ke adat. Karena itu, Tambua Tasa dianggap penting dalam kehidupan masyarakat Ulakan, terutama dalam acara pernikahan. Dalam baralek, Tambua Tasa tidak hanya menjadi pengiring, tetapi juga sumber kemeriahan.

Aidil menjelaskan secara teknis, Tambua Tasa di Ulakan dimainkan oleh tujuh orang pemain, enam pemain tambua dan satu pemain tasa. Tambua terbuat dari kulit kambing, sedangkan tasa menggunakan bahan sejenis kulit yang dilapisi plastik. Dalam permainan, tasa berfungsi sebagai pembuka dan penentu ritme. Setelah itu, tambua mengikuti pola yang dimainkan oleh tasa. Irama dimainkan secara serempak, cepat, dan hampir tanpa jeda. Pola ini menjadi ciri khas Tambua Tasa Pariaman, berbeda dengan daerah lain seperti Maninjau yang memiliki jeda dalam permainannya. Aidil menggambarkan pengalamannya bermain Tambua Tasa adalah candu baginya. sorak masyarakat membuatnya merasa senang dan puas. Meskipun terlihat berat, tambua tersedia dalam berbagai ukuran, sehingga bisa dimainkan oleh anak-anak hingga orang dewasa. Di Ulakan, anak anak usia sekolah dasar pun sudah mulai belajar memainkan Tambua Tasa.

Tambua Tasa di Ulakan sebagian bukanlah berasal dari sanggar tertentu, melainkan latihan bersama-sama dengan masyarakat. Latihan biasanya dilakukan pada malam hari di lapangan kampung. Siapa saja yang berminat boleh ikut, baik yang masih sekolah maupun yang sudah bekerja. Pemainnya tidak hanya dari kalangan muda, tetapi juga orang-orang yang lebih tua. Pandangan masyarakat umum turut memperkuat posisi Tambua Tasa sebagai bagian penting kehidupan kampung. Anis, warga Ulakan berusia 45 tahun, menuturkan bahwa Tambua Tasa umumnya dimainkan oleh laki-laki, meskipun perempuan juga bisa ikut terlibat. Menurutnya, setiap korong atau kampung di Ulakan biasanya memiliki kelompok pemain Tambua Tasa sendiri. Para pemain ini bukan disewa dari sanggar luar, melainkan berasal dari lingkungan kampung itu sendiri.

Dalam acara baralek, Tambua Tasa berfungsi untuk mengiringi anak daro dan menambah kemeriahan acara. Selain itu, Tambua Tasa juga sering dimainkan dalam perayaan 17 Agustus. Menurut Anis, bunyi Tambua Tasa saat lomba panjat pinang mampu membangkitkan semangat peserta agar terus berusaha sampai ke atas. Di sinilah Tambua Tasa berperan sebagai hiburan sekaligus penyemangat masyarakat. Keberadaan Tambua Tasa yang dimainkan oleh tiap korong menunjukkan kuatnya rasa memiliki masyarakat terhadap tradisi ini. Tambua Tasa bukan sekadar alat musik, melainkan menjadi sarana berkumpul, mempererat hubungan sosial, dan menjaga solidaritas antar warga.

Meski zaman terus berubah dan hiburan modern semakin mudah diakses, minat generasi muda terhadap Tambua Tasa di Ulakan belum memudar. Aidil menyebutkan bahwa anak-anak muda masih banyak yang tertarik memainkannya. Tradisi ini terus hidup karena diwariskan melalui praktik langsung, bukan hanya lewat cerita. Di tengah gempuran musik modern, Tambua Tasa tetap bertahan sebagai alat musik tradisional masyarakat Ulakan. Setiap detiknya membawa cerita tentang adat, kebersamaan, dan warisan kampung. Selama masih ada pemuda yang mau memukul tambua dan masyarakat yang melestarikannya, Tambua Tasa akan terus lestari turun-temurun.

Biodata Penulis:

Afny Dwi Sahira saat ini aktif sebagai mahasiswa, Sasindo, Fib, di Unand.

© Sepenuhnya. All rights reserved.