Oleh Shella Tasya Pratama
Orang tua dan pendidik sering mengamati bahwa anak-anak di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, seperti menyelesaikan permainan, menata mainan, atau meminta bantuan. Salah satu kompetensi penting dalam perkembangan anak usia dini adalah kemandirian. John Dewey menekankan dalam pendidikan bahwa anak-anak paling efektif belajar ketika mereka terlibat langsung dengan pengalaman daripada hanya menerima instruksi pasif.
Menurut John Dewey, problem solving itu bukan hanya menyelesaikan soal, tetapi proses berpikir aktif di mana anak-anak belajar mengamati, bertanya, melakukan percobaan, berbicara, dan mencoba solusi mereka sendiri. Ketika anak-anak diberi kesempatan untuk memecahkan masalah, mereka belajar bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka pikirkan, sehingga membantu mereka menjadi lebih mandiri.
Selain itu, John Dewey merupakan sosok yang ide-idenya banyak dipakai dalam dunia pendidikan khususnya dalam mendidik anak sesuai program sekolah ramah anak. John Dewey adalah seorang ahli kaji dan pragmatis progresivisme yang juga disebut sebagai tokoh pendidikan paling berpengaruh abad ke-21 di Amerika. Ide-ide yang dari dahulu menginspirasi para pendidik adalah dari Dewey, terutama bagi pendidikan usia dini yang memberdayakan penyelenggara PAUD supaya mempertimbangkan bakat juga minat yang dimilikinya sekaligus berkolaborasi pengalaman langsung dalam kegiatan kemasyarakatan.
Pemahaman Dewey mengenai pendidikan merupakan pengulangan aktifitas atau mengacu pada beraneka ragam tugas sosial yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari seperti bermain, mencuci, memasak, menjahit juga kegiatan lain yang memelihara kecakapan hidup yang menggabungkan pengalaman anak di kehidupan dan dunianya sendiri. Dalam praktik yang kemudian dilakukan di masyarakat dan sekarang dikenal dengan istilah “life skills” atau (kecakapan hidup). Selain itu, pendapat Dewey sama dengan Montessori dan Piaget bahwa anak akan belajar dengan melakukan aktivitasnya sendiri (learning by doing), sementara tugas guru adalah memotivasi anak untuk berkarya, bekerja, belajar serta berpikir secara mandiri.
Dewey menolak pendidikan yang pembelajarannya dilakukan dengan prinsip “belajar dengan menghafal”. Ia meyakini bahwa pendidikan dengan pembelajaran yang aktif dapat dicapai dengan prinsip “belajar dengan melakukan”. Peserta didik harus terlibat aktif dan spontan dalam proses belajar. Keaktifan ini ditentukan oleh tingkat keingintahuan terhadap sesuatu yang belum diketahui.
John Dewey adalah salah seorang ahli teori pendidikan yang pertama dan paling berpengaruh dalam meneliti proses pemecahan masalah. Dewey mengatakan bahwa proses yang dilakukan bukan sekadar suatu urutan dari gagasan-gagasan, tetapi suatu proses yang berurutan sedemikian hingga masing-masing ide mengacu pada ide terdahulu untuk menentukan langkah berikutnya. Dengan demikian, semua langkah berurutan dan saling terhubung menuju suatu kesimpulan. Dewey memberikan lima langkah utama dalam memecahkan masalah yaitu:
- Mengenali/menyajikan masalah.
- Mendefinisikan masalah.
- Mengembangkan beberapa hipotesis.
- Menguji hipotesis dan mengevaluasi kelemahan serta kelebihannya.
- Memilih hipotesis terbaik.
Pada kenyataannya, anak PAUD masih suka meninggalkan mainannya sebelum dirapikan kembali, sehingga mereka lebih mengandalkan gurunya untuk merapikan. Hal ini menunjukkan bahwa masih rendahnya sikap tanggung jawab dan kemandirian anak dalam kegiatan sehari-hari. Kondisi ini terjadi karena anak terbiasa diarahkan, sehingga kemandirian dan tanggung jawab belum berkembang secara optimal.
Berdasarkan kondisi tersebut, anak PAUD belum bisa memahami bahwa mainannya yang sudah dimainkan harus dirapikan kembali oleh dirinya sendiri sebagai bentuk tanggung jawab, bukan menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada guru. Anak belum memahami bahwa tugas guru adalah memberikan penjelasan yang mudah dipahami oleh mereka, bukan untuk selalu membereskan mainan anak.
Selain itu, anak juga kurang memiliki motivasi untuk menyelesaikan permasalahannya sendiri, sehingga guru perlu memotivasinya dengan pendekatan yang menyenangkan. Anak perlu melihat dan meniru kebiasaan merapikan mainan secara rutin agar terbentuk pembiasaan yang baik.
Dalam pelaksanaannya, guru perlu mengamati kebiasaan anak setelah selesai bermain. Guru juga perlu melihat respon anak ketika sudah diberikan arahan atau contoh nyata dalam merapikan mainan. Guru dapat membuat catatan sederhana untuk melihat apakah ketika anak diberikan motivasi atau pujian mereka mau merapikan mainannya atau tidak.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, guru memilih solusi dengan memberikan contoh secara langsung sambil berkata, “ketika sudah selesai bermain maka harus dirapikan kembali ya”. Guru juga memberikan pujian ketika anak sudah selesai merapikan mainannya, sehingga anak merasa dihargai.
Pada akhirnya, anak mulai terbiasa merapikan mainannya kembali karena adanya pendekatan pembiasaan yang rutin, adanya contoh langsung atau nyata yang bisa dilihat anak, serta adanya suasana yang menyenangkan. Dengan merapikan mainan, anak tidak hanya belajar mandiri secara fisik tetapi juga mandiri dalam berpikir. Kemandirian ini sesuai dengan prinsip John Dewey bahwa anak aktif dan guru hanya sebagai fasilitator.
Biodata Penulis:
Shella Tasya Pratama saat ini aktif sebagai mahasiswa, Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.