Oleh Annisa Zahra
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan tumbuhan yang sangat melimpah. Keadaan ini didukung oleh letak geografis Indonesia yang berada di antara Benua Asia dan Australia sehingga mendukung tingginya keanekaragaman hayati. Keanekaragaman tersebut berperan penting dalam kehidupan masyarakat karena berkaitan erat dengan budaya lokal serta pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Tumbuhan dapat tumbuh di berbagai tempat, seperti pekarangan rumah, kebun, hingga hutan, dan dimanfaatkan sebagai sumber pangan, sandang, serta bahan pengobatan. Sejak dahulu, masyarakat telah menggunakan tanaman sebagai obat tradisional yang berasal dari bahan alami. Penggunaan obat tradisional didasarkan pada kepercayaan, adat istiadat, dan kebiasaan yang berkembang di masyarakat. Selain bermanfaat bagi kesehatan, pemanfaatan tanaman obat juga dapat menjadi sumber ekonomi masyarakat dengan biaya yang relatif rendah. Hingga saat ini, terutama di wilayah pedesaan, penggunaan obat tradisional masih banyak dipertahankan (Linca, 2022).
Berdasarkan hasil penelusuran literatur yang telah diseleksi, wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya, termasuk D.I. Yogyakarta, menjadi daerah dengan jumlah penelitian terbanyak yang membahas profil pemanfaatan bahan alami sebagai obat tradisional. Banyaknya penelitian tersebut dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat setempat yang masih aktif menggunakan obat tradisional sehingga menarik perhatian peneliti. Hal ini sejalan dengan pernyataan Divisi Pengembangan Budaya Provinsi Jawa Tengah yang menyebutkan bahwa penggunaan obat herbal sebagai warisan turun-temurun memiliki keterkaitan erat dengan tradisi masyarakat Jawa. Onda (2020) menjelaskan bahwa ketersediaan bahan herbal di Pulau Jawa didukung oleh kondisi tanah yang subur, iklim tropis, serta keberagaman jenis tanaman, sehingga membentuk pengalaman masyarakat Jawa dalam praktik pengobatan tradisional. Pemanfaatan tanaman obat sebagai alternatif pengobatan telah lama diterapkan dalam kehidupan masyarakat, khususnya oleh masyarakat yang tinggal di wilayah pedesaan (Linca, 2022). Beberapa jenis tanaman obat yang umum dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai pengobatan tradisional adalah kunyit (curcuma longa) dan daun sirih (piper betle).
Kunyit merupakan tanaman yang berasal dari wilayah Asia Selatan hingga Asia Tenggara, dengan dugaan pusat asal meliputi India bagian barat, Tiongkok, dan Vietnam. Tanaman ini tidak ditemukan tumbuh secara liar dan hanya dikenal sebagai tanaman hasil budidaya. India tercatat sebagai produsen, konsumen, dan pemasok kunyit terbesar di dunia. Selain itu, kunyit juga dibudidayakan secara luas di berbagai negara lain, termasuk Kamboja, Bangladesh, Nepal, Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina, serta beberapa wilayah di Asia dan Afrika (Royal Botanic Gardens Kew, 2021). Sejumlah penelitian eksperimental menunjukkan bahwa kunyit memiliki peran yang signifikan dalam pengendalian diabetes mellitus. Berbagai ekstrak kunyit yang mengandung senyawa aktif, seperti arturmeron, kurkumin, demetoksikurkumin, dan bisdemetoksikurkumin, terbukti mampu merangsang diferensiasi adiposit secara bergantung dosis. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa ekstrak kunyit yang mengandung kombinasi senyawa seskuiterpenoid dan kurkuminoid memiliki aktivitas hipoglikemik yang lebih kuat dibandingkan dengan penggunaan seskuiterpenoid atau kurkuminoid secara tunggal. Selain itu, kunyit dilaporkan mampu memengaruhi kadar glukosa plasma dan respons insulin postprandial. Pemberian kunyit yang dikombinasikan dengan uji toleransi glukosa oral (oral glucose tolerance test/OGTT) menunjukkan peningkatan area under the curve (AUC) insulin secara signifikan. Lebih lanjut, hasil penelitian pada hewan coba menunjukkan bahwa kunyit dan kurkumin berperan dalam menurunkan kadar glukosa darah melalui pengaruhnya terhadap jalur poliol, serta berpotensi mengurangi komplikasi yang berkaitan dengan diabetes mellitus (Satruha, 2022).
Daun sirih hijau merupakan salah satu bagian tanaman yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan pengobatan tradisional. Tanaman ini banyak dijumpai di wilayah Kecamatan Lahusa. Menurut Moeljanto dan Mulyono (2003), sirih termasuk tanaman merambat yang tergolong ke dalam tanaman obat, dengan bagian daun sebagai bagian yang paling sering digunakan dalam pengobatan. Sejak dahulu, masyarakat Kecamatan Lahusa telah memanfaatkan sekaligus membudidayakan tanaman sirih hijau, dan praktik tersebut diwariskan secara turun-temurun. Selain memiliki peran dalam berbagai kegiatan adat, daun sirih hijau juga digunakan sebagai alternatif pengobatan tradisional. Tanaman ini dipercaya memiliki khasiat dalam mengobati serta mencegah berbagai penyakit, seperti gatal-gatal, batuk, masuk angin, dan sakit gigi. Masyarakat meyakini bahwa penggunaan daun sirih hijau memberikan manfaat bagi kesehatan serta dapat mengurangi biaya pengobatan medis. Khasiat yang dimiliki, kemudahan dalam memperoleh bahan, tidak memerlukan biaya, minim efek samping, serta relatif aman untuk dikonsumsi menjadikan daun sirih hijau banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Kecamatan Lahusa sebagai obat tradisional (Linca, 2022).
Biodata Penulis:
Annisa Zahra saat ini aktif sebagai mahasiswa, Prodi Farmasi, di Universitas Binawan.