Pentingnya Latihan Keseimbangan untuk Menurunkan Risiko Jatuh pada Lansia

Jangan biarkan risiko jatuh menurunkan kualitas hidup lansia. Yuk ikuti panduan latihan keseimbangan sederhana dan aman untuk kesehatan optimal.

Oleh Muhamad Fasha Farisi Nufraputra

Lansia merupakan tahap akhir dalam siklus kehidupan manusia yang umumnya dimulai pada usia 60 tahun ke atas. Kelompok usia lanjut ini dapat diklasifikasikan menjadi lansia awal, lanjut usia, dan sangat tua, yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri (Astuti, 2023). Terdapat peningkatan pada jumlah populasi lansia di seluruh dunia setiap tahunnya. Asia menduduki posisi teratas dalam populasi lansia yang paling besar dengan total mencapai 508 juta orang pada tahun 2015, berkontribusi 56% terhadap populasi lansia secara global. Pada tahun 2013, Indonesia berada di posisi ke 108 di dunia. Namun, Indonesia diprediksi akan termasuk dalam sepuluh negara dengan populasi lansia terbanyak pada 2050. Berdasarkan informasi dari Survei Penduduk antar Sensus (Supas) tahun 2015, jumlah lanjut usia di Indonesia mencapai 21,7 juta atau sekitar 8,5% dari total populasi. Dari angka tersebut, terdapat 11,6 juta lansia perempuan (52,8%) dan 10,2 juta lansia laki-laki (47,2%) (Purnamadyawati et al., 2020).

Pentingnya Latihan Keseimbangan untuk Menurunkan Risiko Jatuh pada Lansia

Seiring bertambahnya usia, individu akan mengalami proses penuaan yang berdampak pada berbagai aspek, baik fisik, psikososial, maupun kognitif. Salah satu perubahan fisik yang sering terjadi pada lansia adalah penurunan fungsi indra, seperti pendengaran dan penglihatan, serta berkurangnya kekuatan otot. Kondisi ini menyebabkan gerakan menjadi lebih lambat dan aktivitas fisik menurun. Penurunan kekuatan otot dan fungsi sistem gerak dapat memengaruhi kemampuan berjalan serta keseimbangan tubuh, sehingga meningkatkan risiko jatuh. Lansia menjadi lebih rentan terhadap kejadian jatuh akibat ketidakstabilan postur, keterlambatan respons tubuh, serta menurunnya kemampuan mengantisipasi bahaya. Oleh karena itu, kondisi tulang dan otot memiliki peran penting dalam menentukan risiko jatuh pada lansia (Astuti, 2023).

Jatuh berhubungan dengan turunnya kualitas hidup dan dapat menimbulkan efek psikologis seperti ketakutan akan jatuh dan hilangnya rasa percaya diri yang dapat berujung pada ketidakmampuan untuk bergerak. Ketidakmampuan ini dapat meningkatkan peluang terjadinya jatuh dan berkontribusi pada penurunan kemampuan fisik serta hubungan sosial (Adliah et al., 2022). Jatuh juga diartikan sebagai peristiwa yang dilaporkan oleh orang yang mengalaminya atau oleh saksi yang melihat, di mana seseorang tiba-tiba berada di posisi terlentang atau duduk di tanah atau permukaan yang lebih rendah, baik dengan kehilangan kesadaran maupun tidak, serta bisa saja mengalami luka (Purnamadyawati et al., 2020). Kasus jatuh pada lansia meningkat seiring bertambahnya usia dan menjadi salah satu faktor cedera, hilangnya kemandirian, serta kasus kematian pada lansia. Di Indonesia, sekitar 12,8% lansia mengalami jatuh dalam kurun dua tahun terakhir. Di antaranya 7,6% merupakan kejadian jatuh yang pertama kali dan 5,2% merupakan jatuh yang berulang (Adliah et al., 2022).

Untuk mencegah risiko jatuh pada lansia, diperlukan langkah-langkah khusus dalam upaya meningkatkan kewaspadaan dan kekuatan otot lansia. Melakukan aktivitas fisik secara teratur dapat membantu memperkuat dan meningkatkan ketangkasan otot, mengurangi risiko jatuh, dan meningkatkan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari. Salah satu jenis aktivitas fisik yang dapat dilakukan dengan mudah oleh orang lanjut usia adalah latihan keseimbangan. Aktivitas ini telah terbukti secara signifikan dapat memperbaiki keseimbangan. Latihan keseimbangan bertujuan untuk memperkuat sistem vestibular, yang berkaitan dengan keseimbangan tubuh, dan memperkuat otot-otot di bagian bawah tubuh. Dengan cara melakukan peregangan serta penguatan otot, latihan keseimbangan berusaha meningkatkan keseimbangan fungsional dengan memperbaiki keterampilan keseimbangan statis dan dinamis (Astuti, 2023).

Faktor-Faktor Jatuh pada Lansia

Sebagian besar insiden jatuh dapat dikaitkan dengan satu atau lebih faktor risiko yang dapat dideteksi. Faktor-faktor ini terbagi menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi gangguan pada otak sebagai pusat saraf, demensia atau kepikunan, gangguan pada sistem sensomotorik, gangguan pada sistem kardiovaskulopulmonal, masalah metabolisme, gangguan pada sistem otot dan sendi, serta masalah dalam pola berjalan. Sementara itu, faktor eksternal meliputi kondisi lingkungan, aktivitas sehari-hari, dan penggunaan obat-obatan (Adliah et al., 2022).

Sistem Saraf Pusat (SSP) pada lansia dapat mengalami penurunan fungsi kognitif yang mengakibatkan penurunan persepsi, sensori, respons motorik dan penurunan reseptor proprioseptif sehingga mengganggu keseimbangan postural (Pramadita et al., 2019). 

Fungsi kognitif mengacu pada proses yang melibatkan pengolahan sensoris (taktil, visual dan auditori) untuk diubah, diproses, disimpan, dan digunakan untuk menghubungkan interneuron yang optimal, sehingga seseorang dapat melakukan analisis terhadap sensoris tersebut. Penurunan fungsi kognitif dapat ditandai dengan mudahnya melupakan sesuatu (forgetfulness), mengalami gangguan kognitif ringan (Mild Cognitive Impairment/MCI), hingga demensia yang merupakan bentuk klinis yang paling serius (Pramadita et al., 2019).

Gangguan pada sistem muskuloskeletal adalah penyebab masalah dalam berjalan dan menjaga keseimbangan, yang dapat menghasilkan gerakan yang lambat, kaki yang rentan goyang, dan penurunan kemampuan untuk menghindari terpeleset, tersandung, dan lambatnya respons yang meningkatkan risiko jatuh pada orang tua. Aspek muskuloskeletal ini sangat penting dalam menentukan risiko jatuh di kalangan lansia (Utami et al., 2022). Tingkat prevalensi gangguan muskuloskeletal di kalangan lansia mencapai 52,10%, di mana angka ini lebih tinggi pada perempuan, yakni 113 (56,6%) dibandingkan dengan laki-laki yang mencapai 85 (43,4%). Mayoritas pasien termasuk dalam kelompok usia 60-69 tahun (79,3%) (Putri et al., 2025).

Konsep Keseimbangan pada Lansia

Keseimbangan dinamis merupakan kemampuan untuk tetap seimbang saat melakukan pergerakan atau perpindahan dari satu posisi ke posisi lainnya. Di sisi lain, keseimbangan statis merupakan kemampuan untuk menjaga pusat massa tetap di atas alas penyangga dalam keadaan diam. Keadaan statis atau diam adalah tahap awal sebelum melakukan suatu Gerakan. Kemampuan tubuh untuk menjaga posisi pada lansia, baik saat diam maupun bergerak, sangat penting untuk mencapai keseimbangan dengan mengatur faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan (Center of Gravity) agar tetap dalam posisi tegak di atas alas penopang tubuh (Nayarti et al., 2021).

Keseimbangan dinamis dan statis membutuhkan sistem pengaturan yang mengatur keseimbangan melalui interaksi yang kompleks. Interaksi yang kompleks ini melibatkan hubungan antara sistem sensorik (seperti vestibular, visual, dan somatosensori termasuk proprioseptor) dan sistem muskuloskeletal (mencakup otot, sendi, dan jaringan lunak lainnya) yang diolah atau diatur oleh otak (termasuk kontrol motorik, area sensorik, ganglia basal, otak kecil, dan asosiasi) sebagai respons terhadap perubahan kondisi baik dari eksternal maupun internal. Sistem Saraf Pusat pada manusia merupakan jaringan interneuron yang terdapat di sumsum tulang belakang bagian lumbar dan serviks yang mampu mengatur aktivitas otot antigravitasi dan pengaktifan secara bergantian antara otot agonis dan antagonis di lengan dan kaki dalam aktivitas berdiri maupun berjalan. Sistem ini berinteraksi dengan sensor yang berbeda dari perifer (proprioseptif) dan kepala (penglihatan, sistem vestibular). Jaringan lokomotor supraspinal juga berperan dalam pengendalian gaya berjalan dan posisi saat melakukan aktivitas yang lebih rumit (Nayarti et al., 2021).

Usia mungkin menjadi salah satu aspek yang memengaruhi kemampuan keseimbangan pada orang tua. Dengan bertambahnya usia, kemampuan keseimbangan juga mengalami penurunan. Posisi pusat gravitasi berkaitan erat dengan peningkatan usia (Nayarti et al., 2021). Selain usia perubahan fisiologis pada sistem muskuloskeletal di kalangan lansia dapat mengakibatkan berkurangnya massa otot, degenerasi miofibril, penyusutan tendon, atrofi serat otot, dan perubahan fisik lain yang berdampak pada pengurangan kekuatan serta kontraksi otot, elastisitas otot, fleksibilitas sendi, serta kecepatan gerakan dan durasi reaksi. Kondisi ini dapat menyebabkan berkurangnya efektivitas fungsional dalam mempertahankan keseimbangan tubuh (Novitasari et al., 2024). 

Kemampuan fisiologi yang sangat penting untuk mempertahankan keseimbangan adalah proprioception. Proprioception adalah kemampuan untuk merasakan posisi sendi atau bagian tubuh yang bergerak. Dalam jaringan otak manusia, terdapat kontrol postural dan lokomotor yang mengatur keseimbangan tubuh saat beraktivitas. Seiring bertambahnya usia, hubungan antara struktur otak yang mengontrol postural dan lokomotor terganggu, yang mengarah pada perubahan dalam kontrol pusat gravitasi dan massa tubuh, disertai dengan penurunan kemampuan sistem yang mengatur keseimbangan lainnya (Nayarti et al., 2021).

Latihan Keseimbangan pada Lansia

Upaya yang bisa diambil untuk menghindari dan menangani masalah keseimbangan serta kemungkinan terjatuh pada lansia yaitu dengan melakukan latihan. Latihan yang dilakukan seharusnya aman dan sederhana agar dapat dilakukan secara mandiri dan rutin oleh lansia. Pemilihan latihan juga harus memiliki dampak yang optimal dan signifikan dalam mengatasi masalah keseimbangan (Arif Pristianto, 2024). Latihan keseimbangan adalah serangkaian aktivitas yang dilaksanakan untuk memperbaiki keseimbangan baik dalam keadaan statis maupun dinamis, guna membantu otak dalam menyesuaikan respons terhadap perubahan sinyal sehingga otak dapat beradaptasi dengan sendirinya (Anjelina, 2022).

Saat melakukan latihan keseimbangan, diperlukan porsi latihan yang sesuai pada lansia agar tidak menimbulkan efek yang tidak baik bagi tubuh. Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu, frekuensi latihan dapat dilakukan sebanyak 2 – 3x /minggu, intensitas latihan menggunakan intensitas rendah, dan waktu latihan dilakukan sekitar 30 menit (Anjelina, 2022).

Menurut Anjelina, (2022), terdapat 7 latihan keseimbangan yang dapat dipraktikan oleh lansia. Latihan-latihan tersebut, antara lain:

1. One Leg Balance

Tata caranya:

  • Mengangkat salah satu kaki untuk berdiri dengan satu tungkai.
  • Lalu, kaki yang lain tetap diletakkan di atas permukaan lantai.
  • Lakukan hal yang sama pada kaki yang berbeda.
  • Manfaatkan kursi yang stabil untuk mendukung tubuh sesuai kebutuhan.

2. Tandem Walking (Heel - to - Toe)

Tata caranya:

  • Berdiri tegak, pandangan menuju depan dan tangan di samping badan.
  • Melangkahlah di atas garis lurus dengan menggerakkan kaki kanan ke depan dan posisikan di depan kaki kiri sampai jari kaki kiri menyentuh tumit kaki kanan.
  • Ulangi gerakan yang serupa menggunakan kaki kiri.

3. Tandem Standing

Tata caranya:

  • Letakkan satu kaki di depan kaki yang lainnya sehingga tumit menyentuh jari kaki dan tahan posisi tersebut.
  • Lakukan hal yang sama pada kaki yang sebelahnya.
  • Manfaatkan kursi yang kuat untuk mendukung tubuh jika diperlukan

4. Sideways Walking

Tata caranya:

  • Berdiri dengan posisi tegak, hadapkan pandangan ke depan, dan jaga kaki tetap berdekatan.
  • Selanjutnya, langkah kaki ke sisi dengan perlahan.
  • Pindahkan satu kaki ke samping terlebih dahulu.
  • Kemudian, rapatkan kedua kaki kembali.

5. Sit to Stand

Tata caranya:

  • Duduk di tepi kursi, kaki dibuka sejajar dengan bahu, lalu sedikit condongkan tubuh ke arah depan.
  • Bangkit perlahan-lahan sambil terus menatap ke depan.
  • Setelah itu, tegakkan tubuh dan duduk perlahan.

6. Calf Raise Exercise

Tata caranya:

  • Letakkan tangan pada kursi untuk menjaga keseimbangan.
  • Selanjutnya, angkat kedua tumit dengan perlahan.

7. Plantar Flexi Exercise

Tata caranya:

  • Angkat kaki kanan, lalu gerakan ke arah bawah seperti sedang jinjit.
  • Selanjutnya, lakukan gerakan serupa pada kaki kiri.

Kesimpulan

Proses penuaan mengakibatkan penurunan kemampuan fisik dan keseimbangan pada lansia, sehingga memperbesar kemungkinan risiko terjatuh. Risiko terjatuh ini dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal dan memberikan dampak negatif terhadap kualitas hidup dan kemandirian. Melakukan latihan keseimbangan secara teratur, aman, dan tertakar dapat meningkatkan stabilitas, memperkuat otot, dan mengurangi kemungkinan risiko jatuh pada lansia.

© Sepenuhnya. All rights reserved.