Perkembangan media sosial dalam dua dekade terakhir telah mengubah cara masyarakat membangun makna, identitas, dan kebiasaan sehari-hari. Media sosial tidak lagi berfungsi sebatas saluran komunikasi, melainkan telah menjelma menjadi ruang kultural tempat gaya hidup diproduksi, dinegosiasikan, dan dinormalisasi. Salah satu fenomena yang mengalami proses tersebut secara intens adalah budaya vape. Rokok elektrik, yang secara umum dikenal sebagai vape—termasuk di dalamnya perangkat yang populer disebut pod atau pods—tidak hanya hadir sebagai produk konsumsi, tetapi juga sebagai simbol budaya yang dibentuk melalui representasi digital.
Budaya vape berkembang seiring dengan menguatnya dominasi platform visual seperti Instagram. Dalam ruang-ruang digital ini, vape sering kali ditampilkan bukan sebagai objek teknis, melainkan sebagai bagian dari lanskap gaya hidup urban. Media sosial berperan penting dalam membingkai persepsi publik tentang vape, dari cara dilihat, dibicarakan, hingga dimaknai sebagai praktik sosial.
Media Sosial sebagai Ruang Produksi Budaya
Dalam kajian budaya, media dipahami sebagai ruang produksi simbol dan makna. Media sosial memperluas fungsi tersebut dengan memberi kesempatan kepada individu untuk berpartisipasi aktif dalam pembentukan wacana. Setiap unggahan, komentar, atau video yang menampilkan vape menjadi bagian dari jaringan makna yang lebih luas.
Vape tidak lagi hadir sebagai aktivitas privat, melainkan sebagai praktik yang dipertontonkan. Media sosial mendorong kebiasaan memperlihatkan apa yang sebelumnya tersembunyi. Melalui unggahan visual dan narasi singkat, vape diposisikan dalam konteks pergaulan, kreativitas, dan relasi sosial. Dalam proses ini, makna vape tidak dibentuk oleh satu pihak, melainkan oleh akumulasi representasi yang terus berulang.
Visualisasi dan Estetika Gaya Hidup
Kekuatan utama media sosial terletak pada visual. Budaya vape sangat dipengaruhi oleh logika visual ini. Uap yang tebal, perangkat yang ringkas, serta latar ruang urban menciptakan estetika tertentu yang mudah dikenali. Visual semacam ini beredar luas dan direplikasi oleh banyak pengguna, membentuk pola representasi yang konsisten.
Estetika tersebut berkontribusi pada normalisasi vape sebagai bagian dari gaya hidup modern. Vape sering muncul berdampingan dengan kopi, musik, diskusi santai, atau aktivitas kreatif. Hubungan visual ini menciptakan asosiasi kultural yang kuat. Vape tidak lagi dipahami semata-mata sebagai alat, tetapi sebagai aksesori simbolik yang melekat pada identitas tertentu.
Bahasa Digital dan Identitas Komunitas
Selain visual, bahasa memegang peran penting dalam pembentukan budaya vape di media sosial. Istilah-istilah khusus berkembang dan digunakan secara luas dalam percakapan daring. Salah satu istilah yang sering muncul adalah pods, yang dalam praktik sehari-hari digunakan sebagai sebutan populer untuk vape jenis tertentu.
Penggunaan istilah pods tidak hanya bersifat teknis, melainkan juga kultural. Ini berfungsi sebagai penanda identitas dalam komunitas digital. Seseorang yang memahami dan menggunakan istilah tersebut dianggap memiliki kedekatan dengan budaya vape. Bahasa semacam ini menciptakan batas simbolik antara “orang dalam” dan “orang luar,” sekaligus memperkuat rasa kebersamaan di antara pengguna.
Dalam konteks media sosial, bahasa berkembang cepat dan adaptif. Istilah yang awalnya teknis dapat berubah menjadi slang yang mengandung makna sosial. Proses ini menunjukkan bahwa budaya vape dibentuk tidak hanya melalui benda, tetapi juga melalui cara berbicara tentang benda tersebut.
Influencer dan Legitimasi Sosial
Figur populer di media sosial memiliki pengaruh besar dalam membentuk selera dan kebiasaan. Ketika influencer menampilkan vape dalam kehidupan sehari-hari, muncul legitimasi sosial yang kuat. Vape tidak perlu dipromosikan secara eksplisit untuk membentuk persepsi positif; kehadirannya sebagai bagian dari rutinitas sudah cukup untuk menciptakan kesan normal.
Media sosial mengaburkan batas antara ekspresi personal dan representasi publik. Apa yang ditampilkan oleh figur populer sering kali ditafsirkan sebagai cerminan gaya hidup yang diinginkan. Dalam konteks ini, vape memperoleh posisi simbolik sebagai bagian dari kehidupan urban yang dinamis dan relevan.
Legitimasi sosial yang dibangun melalui influencer bekerja secara halus, tidak memerintah, melainkan memberi contoh. Pola ini membuat budaya vape menyebar tanpa terlihat sebagai upaya persuasi langsung.
Algoritma dan Proses Normalisasi
Algoritma media sosial memainkan peran penting dalam menyebarkan budaya vape. Konten yang mendapatkan banyak interaksi akan lebih sering muncul di linimasa pengguna lain. Akibatnya, representasi tertentu menjadi dominan dan berulang.
Paparan berulang ini menciptakan efek normalisasi. Vape tampil sebagai bagian dari keseharian digital, hadir dalam berbagai konteks tanpa selalu disertai penjelasan atau perdebatan. Dalam jangka panjang, kehadiran yang konsisten ini memengaruhi persepsi kolektif. Vape tidak lagi dipandang sebagai fenomena marginal, melainkan sebagai praktik yang lazim.
Normalisasi melalui algoritma menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya menyebarkan budaya, tetapi juga membentuknya. Apa yang sering terlihat akan dianggap penting, dan apa yang dianggap penting akan terus disebarluaskan.
Budaya Pop dan Dinamika Tren
Media sosial mempercepat siklus budaya populer. Tren muncul dan menghilang dalam waktu singkat. Budaya vape berada dalam dinamika ini. Representasi tertentu—baik dalam visual, bahasa, maupun gaya—menjadi populer lalu digantikan oleh bentuk lain.
Kecepatan ini membuat budaya vape bersifat cair. Maknanya terus berubah mengikuti konteks sosial dan teknologi. Media sosial memungkinkan eksperimen simbolik yang konstan, tetapi juga membuat refleksi mendalam menjadi jarang. Vape sering dipahami melalui potongan visual dan narasi singkat, bukan melalui diskusi panjang.
Namun, justru dalam dinamika inilah budaya vape menemukan bentuknya sebagai fenomena kontemporer. Ia hidup dalam arus cepat budaya digital, dibentuk oleh momentum dan atensi.
Kesimpulan
Media sosial memiliki peran sentral dalam membentuk budaya vape melalui visual, bahasa, legitimasi sosial, dan logika algoritma. Vape tidak hanya hadir sebagai objek konsumsi, tetapi sebagai simbol budaya yang sarat makna. Hal ini dibentuk oleh interaksi kompleks antara teknologi, manusia, dan nilai-nilai sosial.
Budaya vape mencerminkan cara budaya kontemporer bekerja di era digital: cepat, visual, dan berbasis partisipasi. Memahami peran media sosial dalam konteks ini berarti memahami bagaimana kebiasaan dan identitas dibentuk melalui layar, dibicarakan dalam jaringan, dan dinegosiasikan dalam ruang publik digital.