Permasalahan Kesetaraan Gender dalam Dunia Olahraga

Kesetaraan gender di sepak bola masih jadi tantangan besar. Yuk simak ketimpangan gaji, prestasi, dan sorotan media yang dialami atlet wanita di sini.

Oleh Fiqri Putra Alfajar

Permasalahan kesetaraan gender di dunia olahraga kerap kali menjadi perbincangan luas di dunia olahraga, apalagi seperti yang kita tahu bahwa saat ini eksistensi dunia olahraga lebih menyoroti ke kaum pria permasalahan ini juga kerap menjadi topik yang banyak diprotes oleh kaum wanita apalagi eksposur olahraga wanita kurang diminati oleh penikmat olahraga.

Contoh hangat dari permasalahan kesetaraan gender banyak disoroti di dunia sepak bola, di mana penikmat sepak bola lebih menikmati permainan dan persaingan yang ada di sepak bola pria, nama-nama seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Kylian Mbappe, dan Jude Bellingham adalah contoh pemain sepak bola pria yang banyak sekali mendapat sorotan, sedangkan pemain sepak bola wanita tidak terlalu banyak mendapatkan sorotan padahal nama-nama pemain sepak bola wanita tidak kalah hebat, contoh nama-nama pemain sepak bola wanita seperti Sam Kerr, Aitana Bonmati, dan Alex Morgan merupakan nama besar di dunia sepak bola wanita. Akan tetapi persaingan di dunia olahraga wanita juga kerap kali menjadi ajang yang paling ditunggu-tunggu oleh sebagian besar penikmat sepak bola.

Permasalahan Kesetaraan Gender dalam Dunia Olahraga

Banyak pemain yang memprotes asosiasi sepak bola dunia (FIFA) karena permasalahan tersebut tuntutan, seperti:

1. Tuntutan Hak dan Gaji

Tuntutan yang dilayangkan oleh pemain sepak bola wanita karena mereka ingin mendapatkan gaji yang setara dengan sepak bola pria, karena mereka merasa persaingan dan permainan yang disajikan oleh mereka layak mendapatkan bayaran yang setimpal dengan kerja keras mereka.

2. Prestasi

Banyak pemain sepak bola wanita yang menuntut dan protes karena mereka merasa prestasi mereka lebih baik dari apa yang dicapai oleh tim pria, contoh seperti timnas sepak bola Wanita Amerika Serikat yang kita tahu prestasi mereka lebih besar dari pada timnas sepak bola pria Amerika Serikat.

3. Kurangnya Liputan dari Media

Seperti yang dibahas sebelumnya liputan dari media juga sering menjadi permasalahan yang besar di antara sepak bola wanita dan sepak bola pria, para pemain sepak bola wanita merasa permainan mereka pantas untuk mendapatkan sorotan yang lebih banyak lagi, bahkan sering kali turnamen-turnamen besar seperti UEFA Women Champions League, FIFA Women’s World Cup, dan UEFA Women’s Euro Cup sering sepi peminat bahkan La Liga yang notabene hanya sebatas liga yang digelar di Spanyol setiap musimnya mampu mendapatkan total 15.776.331 juta penonton dibandingkan dengan penonton terbanyak di turnamen sepak bola wanita yang hanya mampu menembus 1,98 juta penonton saja pada gelaran Piala Dunia Wanita 2023 di Australia dan Selandia Baru.

Bahkan persaingan sepak bola antar pria dan wanita juga terjadi di sepak bola tanah air, di mana sepak bola wanita tidak lebih banyak mendapatkan sorotan dan dukungan yang layak dari asosiasi sepak bola tanah air, bahkan sampai saat ini tidak ada gelaran kompetisi sepak bola wanita yang terselenggara, padahal banyak sekali nama-nama pemain sepak bola wanita asal Indonesia yang memiliki bakat yang hebat seperti Zahra Musdalifah, Shafira Ika Putri, dan Reva Octaviani; adalah nama-nama bakat hebat timnas sepak bola Pertiwi. Sangat disayangkan banyak sekali bakat-bakat hebat di sepak bola wanita tanah air yang harus bersabar menunggu kompetisi liga sepak bola di Indonesia dimulai kembali.

Banyak tugas yang harus dilakukan agar sepak bola wanita mendapatkan sorotan yang layak seperti, melakukan promosi besar-besaran pada setiap turnamen sepak bola wanita, membangun turnamen dengan skala besar untuk meningkatkan sorotan media pada sepak bola wanita, serta membangun akademi sepak bola yang bagus untuk menunjang bakat-bakat dari sepak bola wanita.

Biodata Penulis:

Fiqri Putra Alfajar saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial.

© Sepenuhnya. All rights reserved.