Puisi: Burung yang Terbang dengan Sayap Terbakar (Karya Heru Joni Putra)

Puisi "Burung yang Terbang dengan Sayap Terbakar" karya Heru Joni Putra bercerita tentang seekor burung yang terus terbang meskipun sayapnya terbakar.
Burung yang Terbang
dengan Sayap Terbakar
untuk ws rendra

Seekor burung terbang dengan sayap terbakar. Melesat
menukik menghancurkan cahaya memurnikan warna:

bulunya yang biru kuning membuat langit menjadi hijau
dan kicaunya yang biru palsu membuat langit menghitam.

Seekor burung itu terbang dengan sayap yang terus terbakar.
Menukik melesat membentuk cahaya—menyerupai kehilangan.

Padang, 2009

Analisis Puisi:

Puisi "Burung yang Terbang dengan Sayap Terbakar" menghadirkan gambaran simbolik yang intens dan penuh paradoks. Heru Joni Putra menampilkan sosok burung yang terus terbang meski sayapnya terbakar—sebuah citraan yang segera mengundang tafsir tentang perlawanan, pengorbanan, dan kehancuran yang sadar. Puisi ini berdiri dalam tradisi puisi simbolik yang kuat, dekat dengan semangat perlawanan batin dan keberanian eksistensial.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjuangan dan pengorbanan yang dijalani dengan kesadaran akan kehancuran. Puisi ini juga memuat tema penderitaan, kehilangan, dan keberanian untuk tetap bergerak meski luka tak terhindarkan.

Puisi ini bercerita tentang seekor burung yang terus terbang meskipun sayapnya terbakar. Burung tersebut tidak jatuh atau berhenti, melainkan tetap melesat dan menukik, bahkan menghancurkan cahaya dan memurnikan warna. Tindakan terbang itu menjadi gambaran tindakan eksistensial: sebuah pilihan untuk terus hidup, melawan, atau bersuara, walau konsekuensinya adalah rasa sakit dan kehilangan.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah potret manusia (atau seniman, atau pejuang kebenaran) yang memilih tetap bergerak meski sadar akan risiko dan kehancuran diri. Sayap terbakar melambangkan luka, represi, atau tekanan, sementara tindakan terbang adalah simbol keberanian dan keteguhan sikap. Puisi ini menyiratkan bahwa ada perjuangan yang tidak bertujuan untuk menang, melainkan untuk tetap setia pada pilihan hidup dan keyakinan, meski harus hangus.

Kehilangan yang disebut di akhir puisi menegaskan bahwa perjuangan semacam ini selalu berakhir pada sesuatu yang hilang—entah harapan, identitas, atau keselamatan diri.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini terasa tragis, intens, dan heroik dalam kesunyian. Ada ketegangan antara keindahan visual dan penderitaan, antara gerak terbang dan luka yang terus membara. Nuansa ini menciptakan rasa getir sekaligus kekaguman.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah keberanian untuk tetap melangkah meski sadar akan konsekuensi yang menyakitkan. Puisi ini seakan mengatakan bahwa ada nilai pada keteguhan sikap, bahkan ketika jalan yang dipilih adalah jalan yang membakar diri. Keutuhan pilihan lebih penting daripada keselamatan semu.

Puisi "Burung yang Terbang dengan Sayap Terbakar" karya Heru Joni Putra merupakan puisi simbolik yang kuat dan terbuka untuk pembacaan eksistensial maupun sosial. Dalam konteks pembacaan ala W.S. Rendra, puisi ini dapat dipahami sebagai suara perlawanan batin: tentang keberanian untuk tetap terbang, meski dunia—atau pilihan itu sendiri—telah menyalakan api pada sayap kita.

Heru Joni Putra
Puisi: Burung yang Terbang dengan Sayap Terbakar
Karya: Heru Joni Putra
© Sepenuhnya. All rights reserved.