Solo Bagian Lo-Gua

Fenomena kafe kalcer di Solo tak hanya soal gaya hidup, tapi juga bahasa. Yuk simak pergeseran “aku-kamu” ke “lo-gua” dan dampaknya.

Oleh Firsta Azzahra Wiyana Ramadhani

Perkembangan pesat di Kota Solo dapat diamati salah satunya dengan banyak dibangun kafe-kafe di sepanjang jalan Slamet Riyadi. Daerah tersebut sekarang sangat terkenal dengan sebutan “kalcer” atau bahasa slang dari culture dan “skena”, yaitu sebuah komunitas yang memiliki selera atau minat yang sama. Kafe umumnya menjadi sebuah ruang pertemuan dengan berbagai kepentingan sosial mulai dari mahasiswa, pekerja hingga untuk berbagai usia dengan tujuan untuk bertemu, bertukar cerita, mengerjakan tugas dan lainnya. Kafe di sepanjang jalan Slamet Riyadi ini umumnya sangat digemari oleh anak sekolah dan mahasiswa sehingga tidak heran ketika setiap sore menjelang malam akan ramai pengunjung. Di tengah kuatnya budaya Jawa di Solo yang berciri khas akan tata bahasanya yang lembut, penggunaan kata “lo” dan “gua” pada obrolan anak-anak muda kini mulai memunculkan suatu permasalahan sosial dan kultural.

Solo Bagian Lo-Gua

Kata “lo” dan “gua” merupakan dialek dari Tiongkok selatan yang kemudian diadopsi ke Bahasa Betawi dan meluas menjadi bahasa gaul Jakarta. Dalam budaya Jakarta kata tersebut sangat sering terdengar dan wajar digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian anak muda sekarang menyebut “aku-kamu” adalah bahasa yang aneh dan kaku, jadi sebutan “lo-gua” dianggap sebagai bahasa yang lebih santai dan kekinian. Bukan apa sih, masalahnya ini di Solo bukan Jakarta. Sepertinya wajar ketika “lo-gua” ini ketika digunakan di Solo terdengar kurang cocok dan aneh karena pada daerah dengan adatnya yang kuat ini.

Bagi sebagian masyarakat, bahasa adalah cerminan dari budaya dan daerah suatu individu dan sebisa mungkin budaya tersebut harus tetap dijaga hingga anak cucu kelak. Di Kota Solo, tak hanya terdapat masyarakat lokalnya saja, namun juga terdapat banyak orang dari berbagai daerah, yang biasanya mereka bekerja atau menjadi siswa dan mahasiswa, karena tidak dapat dipungkiri bahwa Solo memiliki banyak perguruan tinggi dan sekolah yang unggul.

Penggunaan kata “lo” dan “gua” bagi sebagian orang dianggap sebagai suatu bentuk modernisasi yang terjadi, namun sebagian juga menganggap bahwa hal ini menjadi kontra dan tidak sesuai dengan yang seharusnya. Hal ini, banyak menimbulkan rasa tidak nyaman karena kata tersebut tidak digunakan pada tempatnya dan seharusnya. Penggunaan kata tersebut dinilai tidak sesuai konteks pada masyarakat lokal dan bahkan dianggap tidak menghormati dan menghargai budaya setempat. Penggunaan “lo” dan “gua” ini mungkin dianggap keren dan kece ketika sering digunakan sehingga secara tidak langsung mereka mengabaikan budaya lokal demi dianggap lebih modern pada ruang lingkup sempit maupun publik.

Dalam setiap daerah terutama daerah Jawa, bahasa menjadi salah satu aspek adab yang sangat penting. Maka, ketika ungkapan “lo-gua” terdengar rasanya seperti ada sesuatu yang hilang dan kata “aku-kamu” yang biasanya digunakan kini perlahan sudah mulai terkikis ditelan zaman. Tak apa ketika yang berkata “lo-gua” adalah orang Jakarta yang sedang berlibur di Solo, namun kalau warga lokal rasanya cukup aneh ya, apalagi jika aksen bahasanya kurang cocok.

Hal ini, bukan tentang benar ataupun salah, namun tentang perbedaan sudut pandang dalam menanggapi permasalahan ini, karena bisa jadi sebagian orang merasa ungkapan “lo-gua” ini sebagai bentuk kebebasan berekspresi. Jadi, tidak semua hal perlu untuk kita hakimi, gunakan bahasa yang baik dan nyaman untuk kita, namun juga jangan menghilangkan tata bahasa dan tata krama yang ada.

Biodata Penulis:

Firsta Azzahra Wiyana Ramadhani saat ini aktif sebagai mahasiswi di Universitas Tidar, Prodi Ilmu Administrasi Negara.

© Sepenuhnya. All rights reserved.